Tiga hari kemudian, rencana itu mulai memiliki tulang dan urat. Reksa menghabiskan malam-malam tanpa tidur, memetakan setiap kemungkinan, setiap pintu keluar, setiap cara rencana ini bisa runtuh. Ia sudah belajar, dengan harga yang mahal, bahwa musuhnya tidak pernah bodoh.
Sinyal terakhir datang dari Pram, lewat panggilan video larut malam dari ibu kota. Wajah kakak tingkatnya itu tampak lelah, tapi matanya menyala oleh sesuatu yang Reksa belum pernah lihat sejak hari kelulusan dulu, ketika Pram masih bermimpi mengubah segalanya dari dalam, sebelum sistem mengusirnya keluar.
"Semua sudah di tempat," kata Pram. "Tiga redaksi nasional. Aku sudah serahkan ringkasan kasus, terenkripsi, dengan kesepakatan: mereka tidak menerbitkan apa pun sampai aku beri sinyal. Tapi begitu sinyal itu datang, ketiganya tayang dalam lima menit. Berita yang sama, di tiga kanal sekaligus. Tidak ada satu telepon pun, dari Polda atau dari mana pun, yang bisa menghentikan ketiganya."
"Dan Mabes?" tanya Reksa.
"Renjana sudah berkoordinasi dengan timnya. Mereka bukan dari Garumi, bukan dari Polda yang sama. Tim ini langsung di bawah Direktorat, di luar rantai komando Sudibyo. Begitu sinyal datang, mereka bergerak dengan surat perintah yang sudah disiapkan, surat penangkapan untuk Bhakim, untuk Sudibyo, untuk Toni, dan untuk beberapa nama lain dalam berkas." Pram berhenti, menatap Reksa dari layar. "Tapi dengar baik-baik, Reksa. Mereka hanya bergerak setelah ada bukti tertangkap basah, atau pengakuan langsung, di tempat. Tanpa itu, surat penangkapan terhadap seorang Kombes akan ditahan oleh atasannya yang lebih tinggi lagi, mungkin sahabat Sudibyo. Mereka butuh sesuatu yang tidak bisa dibantah, malam itu juga. Sesuatu yang membuat mereka tidak punya pilihan selain bergerak."
Reksa mengangguk perlahan. Itulah inti dari semua ini. Bukti yang sudah mereka kumpulkan akan menjatuhkan Bhakim di pengadilan, tapi untuk membuat Sudibyo turun dari kursinya, untuk membuat mesin di atas Garumi berhenti, ia butuh momen di mana sang Kombes sendiri terlihat, terdengar, tertangkap di tempat di mana ia seharusnya tidak pernah ada. Di gudang itu. Bersama Bhakim. Bersama Toni. Bersama uang dan barang.
"Bagaimana cara aku memberi sinyal?" tanya Reksa. "Kalau aku di dalam gudang, dengan mereka, aku tidak akan bisa menelepon."
"Sari akan jadi penghubungmu," kata Pram. "Dia di luar, di titik aman, dengan radio dan ponsel. Begitu kamu memberi tanda, isyarat apa pun yang sudah kalian sepakati, dia menghubungiku dan Renjana bersamaan. Aku pencet tombol untuk pers. Renjana pencet tombol untuk tim. Dan kemudian, Reksa," Pram tersenyum tipis, senyum yang lelah dan getir dan penuh harapan sekaligus, "sirene yang dijanjikan itu akan datang. Dari segala arah. Bukan sirene yang mereka kendalikan. Sirene yang akhirnya datang untuk mereka."
Reksa menatap layar lama. Sirene tengah kota. Sepanjang hidupnya sebagai polisi muda di Garumi, sirene selalu jadi suara yang datang terlambat, atau tidak datang sama sekali, atau datang justru untuk orang yang salah. Sirene yang membungkam, bukan yang menyelamatkan. Untuk sekali ini, ia akan membuatnya berarti sesuatu yang lain.
"Pram," kata Reksa pelan, setelah hening sejenak. "Kalau ini gagal. Kalau aku tidak keluar dari gudang itu. Bukti aslinya, yang asli, yang bahkan tidak ada di berkas yang kalian pegang—"
"Reksa—"
"Dengarkan aku." Reksa menatap kamera. "Ada satu salinan yang aku simpan sendiri, sejak awal. Tidak pernah aku tunjukkan ke siapa pun, bahkan ke Sari. Kalau aku mati, itu satu-satunya yang tidak bisa mereka hancurkan, karena mereka tidak tahu keberadaannya. Aku akan tulis lokasinya, dan kuberikan ke satu orang yang tidak ikut ke gudang. Kalau ini gagal, kasus ini tidak ikut mati bersamaku."
Pram diam lama di layar. Lalu ia mengangguk, perlahan, dengan rasa hormat yang berat. "Kamu sudah berpikir seperti orang yang tahu dia mungkin tidak pulang."
"Aku anak pedagang," kata Reksa, dan untuk pertama kali dalam berhari-hari, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Ayahku selalu menyiapkan satu cadangan untuk hari ketika semuanya hilang. Aku cuma melakukan hal yang sama."
Mereka memutus panggilan, dan kamar kontrakan itu kembali sunyi. Di luar, jauh di pusat kota, sebuah sirene melintas, naik turun, lalu hilang. Reksa duduk diam dalam gelap, mendengarkannya pudar, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa takut oleh suara itu. Ia menunggunya.