Markas baru mereka adalah sebuah rumah kontrakan kosong di pinggiran utara Garumi, dekat sawah yang sudah berubah jadi tanah uruk untuk perumahan yang tak kunjung dibangun. Tempat yang dipilih Pram karena satu alasan: hanya ada satu jalan masuk, dan dari jendela belakang, siapa pun bisa melihat datangnya bahaya dari jauh.
Di ruang tengah yang nyaris kosong, sebuah meja lipat menampung seluruh kasus mereka. Reksa berdiri di hadapannya bersama Renjana, sementara Pram terhubung lewat panggilan video di laptop, wajahnya terbingkai di layar dari sebuah ruangan di ibu kota. Sari duduk di lantai, memilah dokumen ke dalam tiga map terpisah.
"Mari kita lihat apa yang kita punya," kata Renjana, suaranya seperti seorang guru yang teliti. "Rekaman suara Dimas: serah terima uang, suara Bhakim, nomor rekening. Sah, sudah diautentikasi. Pembukuan ganda CV Bahari Jaya: kesaksian akuntan dan salinan dokumen asli. Aliran dana ke yayasan, ke rekening istri Bhakim. Kesaksian Toni sebagai saksi mahkota, terekam resmi. Bukti peninggalan Lendra soal kematiannya. Suap bernomor seri dari Goldra. Dan, kalau perekam yang dipasang Bripka Sari bekerja, suara Bhakim sendiri yang menyebut Sudibyo."
"Itu garis lurus," kata Pram dari layar. "Dari pengedar kecil, ke bandar, ke komisaris, ke Polda. Setiap mata rantai dikunci oleh dua bukti berbeda. Tidak ada satu pun yang berdiri sendiri. Pengacara terbaik di negeri ini pun tidak bisa membantah seluruhnya."
Reksa menatap map-map itu. Berbulan-bulan kerja, nyawa-nyawa yang hilang, ada di atas meja lipat murah itu. Tapi ia tahu bukti saja tidak cukup. Bukti yang tidak pernah sampai ke pengadilan hanyalah kertas. Mereka sudah membuktikan itu dengan cara yang pahit, ketika laporan demi laporan menguap di tingkat lebih tinggi.
"Masalahnya bukan buktinya," kata Reksa. "Masalahnya cara menyerahkannya. Kalau kita bawa ini ke Polda, Sudibyo menarik berkasnya sebelum siapa pun membacanya, seperti yang selalu terjadi. Kalau kita kirim ke pers lokal, redaksi ditekan atau disuap. Kalau kita lapor ke Mabes lewat jalur biasa, kanalnya bocor. Mereka selalu selangkah di depan karena mereka mengawasi setiap pintu resmi."
"Maka kita tidak pakai satu pintu," kata Pram. "Kita buka semua pintu sekaligus, di detik yang sama, sehingga tidak ada tangan yang cukup banyak untuk menutup semuanya." Ia mencondongkan badan ke kamera. "Aku sudah menyiapkannya. Tiga media nasional yang tidak punya kepentingan di Garumi. Mereka tahan beritanya, siap tayang serentak begitu aku beri sinyal. Bersamaan dengan itu, AKBP Renjana membawa berkas asli langsung ke timnya di Mabes, tim yang sudah ia saring sendiri, di luar jalur Polda Garumi. Pers menyiarkan, Mabes bergerak, semua dalam hitungan menit. Sudibyo tidak bisa menelepon ke setiap redaksi nasional sekaligus. Dia tidak bisa menghentikan berita yang sudah tayang."
"Dan penangkapan?" tanya Sari dari lantai.
Renjana melepas kacamatanya, mengusapnya pelan. "Itu bagian tersulit. Untuk menangkap Bhakim dan Sudibyo bersamaan, kita butuh mereka di tempat yang sama, atau setidaknya bisa dijangkau di waktu yang sama, sebelum salah satu memperingatkan yang lain. Begitu satu ditangkap, yang lain akan lari atau menghancurkan bukti. Kita hanya punya satu kesempatan, dan kesempatan itu hanya sepanjang beberapa menit."
Ruangan itu hening. Di luar, malam turun ke sawah yang gelap, dan suara jangkrik mengisi keheningan. Reksa menatap peta kota yang terbentang di meja, jari-jarinya menelusuri dari kantor di pusat kota ke pelabuhan lama di tepi laut.
"Maka kita harus membawa mereka ke satu titik," kata Reksa pelan. "Kita harus membuat mereka datang sendiri. Ke tempat yang sama. Dengan alasan yang tidak bisa mereka tolak."
Semua mata tertuju padanya. Reksa menarik napas. Ia tahu apa yang akan ia katakan, dan ia tahu betapa berbahayanya itu.
"Gudang pelabuhan. Tempat semuanya bermula. Tempat aku menembak Hendarta, tempat Sari disandera, tempat mereka kira aku akan menukar bukti dulu. Kita pancing satu transaksi besar ke sana. Transaksi yang kita buat seolah-olah terlalu penting untuk diserahkan ke bawahan. Transaksi yang membuat Bhakim, dan kalau cukup besar, Sudibyo sendiri, merasa harus datang melihat."
"Memancing mereka dengan membocorkannya," kata Pram pelan, dan ada nada cemas di suaranya. "Memakai kebiasaan mereka mengawasi kita untuk melawan mereka."
"Mereka selalu mengawasi," kata Reksa. "Untuk sekali ini, kita biarkan mereka melihat apa yang kita ingin mereka lihat."
Renjana mengenakan kembali kacamatanya, wajahnya serius. "Itu bisa berhasil. Tapi kalau mereka mencium jebakannya, mereka tidak akan datang. Mereka akan mengirim orang untuk membunuhmu, dan menghilang. Satu kesalahan, satu kata yang salah, dan bukan mereka yang terperangkap. Kita."
"Aku tahu," kata Reksa. Ia menatap map di meja, lalu wajah-wajah di sekelilingnya, satu per satu. Sari. Renjana. Pram di layar. Untuk pertama kalinya sejak hari pertamanya, ia tidak sendirian. Tapi justru karena itu, taruhannya tidak pernah lebih tinggi. "Tapi kita sudah kehabisan jalan lain. Satu malam. Satu jaring. Atau tidak sama sekali."