Reksa tidak menyukai rencana itu. Ia mengatakannya berkali-kali, dan setiap kali Sari menatapnya dengan tatapan yang sama, tatapan perempuan yang sudah dua belas tahun memutuskan sendiri kapan harus diam dan kapan harus melangkah.
"Aku satu-satunya yang bisa," kata Sari, di kamar kos sempit yang menjadi markas mereka, suaranya rendah agar tidak menembus dinding tipis. "Mereka masih mengira aku milik mereka. Bhakim masih percaya aku umpannya. Selama dia percaya itu, aku bisa masuk ke kantor, ke ruangannya, ke tempat-tempat yang kamu tidak akan pernah bisa sentuh sebagai buron."
Selama berminggu-minggu sejak penebusannya, sejak Sari membongkar masa lalunya sendiri dan menyerahkan bukti peninggalan Lendra yang ia simpan tiga tahun, Reksa akhirnya berhenti meragukannya. Kepercayaan itu mahal, dibangun dari luka. Justru karena itu, ia takut kehilangannya.
"Kalau mereka tahu kamu berbalik," kata Reksa, "kamu tidak akan dapat peringatan. Tidak ada gang gelap. Tidak ada sungai. Mereka akan langsung menghabisimu di tempat."
"Aku tahu." Sari mengencangkan ikat rambutnya, gerakan tenang seorang yang sudah memutuskan. "Tapi kita butuh satu hal yang tidak bisa kita dapat dari luar. Kita butuh Bhakim mengatakannya sendiri. Suaranya. Di ruangannya. Menyebut Sudibyo, menyebut transaksi, di tanggal yang bisa dibuktikan. Tanpa itu, Sudibyo tetap bersih. Dan satu-satunya cara mendapatkan suara itu adalah ada alat di ruangan itu, dan orang yang bisa menanamnya tanpa dicurigai."
Renjana, yang berdiri di sudut, memberikan kotak kecil seukuran korek api. "Perekam ini aktif dengan suara. Magnetik. Tempel di bawah meja, di balik laci, di mana saja yang logam. Baterai tahan empat hari. Setelah itu kamu harus mengambilnya kembali, atau membiarkannya, tergantung situasi. Tapi mengambilnya kembali jauh lebih berbahaya."
Sari menerima kotak itu, menimbangnya di telapak tangan, lalu memasukkannya ke dalam lipatan jilbabnya. "Aku tahu di mana letaknya. Meja Bhakim punya laci besi di sisi kanan yang dia kunci sendiri. Magnet akan menempel di belakangnya. Dia tidak pernah memeriksa ke belakang lacinya sendiri. Tidak ada yang pernah."
Pagi itu, Reksa mengantar Sari sampai sudut jalan dua blok dari kantor, lalu berhenti. Lebih dari itu terlalu berbahaya untuknya. Mereka berdiri sejenak di bawah langit kelabu, dan untuk sesaat tidak ada yang berkata apa-apa.
"Kalau aku tidak menghubungimu jam dua belas siang," kata Sari pelan, "berarti ada yang salah. Jangan datang menjemput. Jangan jadi pahlawan bodoh. Bawa bukti yang sudah ada, lari ke Pram, selesaikan tanpa aku. Janji."
Reksa menatapnya. Ia ingin menolak. Ingin mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan satu-satunya orang yang pernah berdiri di sisinya, lagi. Tapi ia tahu Sari tidak akan melangkah jika ia tidak berjanji.
"Janji," kata Reksa, dan kata itu terasa seperti batu di tenggorokannya.
Sari mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menuju kantor, langkahnya tenang, bahunya tegak, kembali mengenakan dirinya yang lama seperti seragam. Reksa menyaksikan punggungnya menghilang di antara para pegawai pagi, dan dadanya terasa kosong.
Sepanjang hari itu adalah salah satu hari terpanjang dalam hidup Reksa. Ia menunggu di kos, ponsel di tangan, setiap dering membuat jantungnya melonjak. Ia membayangkan Sari melintasi lorong berkarpet lantai dua, menyapa Bhakim dengan senyum yang sudah ia latih, duduk, menerima tugas palsu, lalu, di saat yang tepat, ketika Bhakim keluar sebentar atau menengok ke jendela, tangannya menyelinap ke balik laci besi itu.
Pukul sebelas lewat empat puluh, ponselnya bergetar. Pesan singkat dari nomor baru yang sudah mereka sepakati. Tiga kata.
"Sudah. Aku pulang."
Reksa menutup matanya, menghembuskan napas yang terasa sudah ia tahan sejak pagi. Berhasil. Alat itu tertanam. Suara Bhakim, jika nasib baik, akan terekam, dan dengan suara itu, rantai yang naik sampai ke Polda akhirnya bisa ditarik turun.
Tapi ketika Sari kembali ke kos sore itu, wajahnya pucat dengan cara yang tidak Reksa sukai.
"Aku berhasil pasang," kata Sari, duduk dan menerima segelas air dari Reksa. Tangannya bergetar sedikit. "Tapi ada yang aneh. Bhakim terlalu ramah. Terlalu santai. Seperti orang yang tahu sesuatu yang aku tidak tahu. Di mejanya tadi ada map yang tidak biasa, dan dia menutupnya begitu aku masuk." Ia menelan ludah. "Aku terus merasa ada yang sedang dia tunggu."
Reksa terdiam. Sebuah perasaan dingin menjalar di tengkuknya, perasaan lama, perasaan diawasi yang ia kenal sejak hari-hari pertamanya. Ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan, sesuatu yang belum bisa ia lihat.