Sejak nama Sudibyo akhirnya jatuh dari mulut Goldra, ada satu kesaksian yang harus Reksa kunci ulang sebelum hari yang dipilih: kesaksian Toni. Bandar itu sudah resmi menjadi saksi mahkota sejak malam berdarah di pelabuhan, sudah berada di bawah perlindungan di luar Garumi, di luar jangkauan Bhakim. Tapi pernyataan awalnya berhenti di Bhakim. Nama yang lebih tinggi, nama yang baru semalam berani disebut Goldra, belum pernah Toni ucapkan ke dalam berita acara. Tanpa itu, garis menuju Sudibyo masih menggantung.
Pertemuan susulan itu diatur Renjana di tempat yang bahkan Reksa sendiri tidak menyukainya: sebuah rumah aman di pinggir kota lain, jauh dari pelabuhan, dengan jendela-jendela kaca buram dan bau obat yang masih menempel di dinding kamar tempat Toni dipulihkan. Pram yang mengurus jalurnya lewat tim perlindungan saksi. "Tempat yang tidak ada di peta mana pun," kata Pram di telepon. "Bahkan aku harus diantar tim Renjana untuk tahu di mana."
Reksa datang lebih awal, memeriksa setiap ruangan, setiap pintu belakang, kebiasaan buron yang tak bisa ia lepas meski di rumah yang dijaga tim Mabes. Penyidik yang dibawa Pram dari Mabes, AKBP Renjana, lelaki tenang berkacamata yang sudah menyusun berkas bersama mereka sejak malam pelabuhan, sudah lebih dulu di sana, perekam resmi dan berita acara di atas meja. Bukti yang sah harus dikumpulkan dengan cara yang sah. Reksa sudah belajar itu dengan harga mahal.
Toni masuk dituntun seorang petugas pengawal, langkahnya masih hati-hati, satu tangan sesekali menekan lambungnya yang dibebat di balik kemeja. Peluru Bhakim hampir membunuhnya beberapa minggu lalu; ia hidup, tapi tubuhnya belum sepenuhnya kembali. Bandar yang dulu Reksa intai dari balik kontainer itu kini lebih kurus, wajahnya pucat oleh pemulihan, tapi matanya, untuk pertama kali sejak Reksa mengenalnya, tampak tenang, seperti orang yang sudah berhenti tidur dengan satu telinga terbuka karena tak ada lagi yang ia takuti di tempat ini.
"Polisi yang bikin semua kacau," kata Toni, duduk perlahan di kursi kayu, menahan ringis. Ia tertawa pendek, tanpa humor. "Kamu tahu, gara-gara kamu, aku berakhir dengan lubang di perut dan nama baru yang bahkan aku sendiri belum hafal."
"Tapi kamu hidup," kata Reksa. "Itu lebih dari yang Bhakim rencanakan untukmu di gudang itu."
Toni mengusap perutnya, senyumnya getir. "Iya. Itu lebih dari yang dia rencanakan." Ia menatap Renjana, lalu kembali ke Reksa. "Kalian sudah dapat pengakuanku soal Bhakim. Soal setoran, soal operasi yang dibocorkan, soal Bahari Jaya. Aku sudah tanda tangan semuanya minggu lalu. Jadi kenapa Pak penyidik ini membawamu jauh-jauh ke sini cuma untuk mengobrol lagi?"
"Karena ada satu nama yang belum kamu sebut," kata Reksa, tenang. Ia melihat sesuatu mengeras di rahang Toni. "Nama yang waktu kamu beri pernyataan pertama, kamu pilih untuk lewati. Aku tidak menyalahkanmu. Waktu itu kamu baru lepas dari meja operasi, dan menyebutnya terlalu cepat sama saja bunuh diri. Tapi sekarang aku sudah dengar namanya dari mulut orang lain. Aku cuma butuh kamu mengkonfirmasinya, secara resmi, di sini."
Hening lama. Di luar, gerimis mulai turun, mengetuk-ngetuk kaca buram. Toni menatap lantai yang dingin.
"Kombes Sudibyo," kata Reksa pelan, dan ia melihat nama itu mengenai Toni seperti pukulan lama yang akhirnya disuarakan. "Kamu setor ke atas lewat Bhakim, dan akhirnya sampai ke dia. Lewat satu perantara, lelaki yang tidak pernah mau wajahnya terlihat. Aku benar?"
Toni memejamkan mata sejenak. Ketika ia membukanya, ada sesuatu yang lepas dari pundaknya, seperti orang yang akhirnya meletakkan beban yang sudah terlalu lama ia bawa sendiri.
"Kamu benar," katanya akhirnya, suaranya rendah. "Aku tidak menyebutnya minggu lalu karena waktu itu aku masih berpikir, kalau Sudibyo tahu aku buka mulut soal dia, perlindungan macam apa pun tidak akan cukup. Orang seperti dia bisa menjangkau ke dalam rumah sakit. Ke dalam penjara." Ia menatap Renjana. "Tapi kalau orang lain sudah menyebutnya juga, berarti aku bukan satu-satunya yang menggantung di tali ini. Itu beda."
Renjana mengeser berita acara ke depan Toni, membuka perekam. "Maka kita catat sekarang, dengan kemauanmu sendiri, tanpa paksaan. Setiap setoran, setiap perantara, setiap kali nama Sudibyo muncul. Kalau pernyataan ini cocok dengan yang lain, ia mengunci rantai sampai ke puncak. Tapi kalau kamu bohong sekali saja, walau untuk melindungi dirimu, kesepakatan saksi mahkota batal."
Toni menatap kertas itu lama sekali. Lalu ia menatap Reksa, dan ada sesuatu yang aneh di matanya, hampir seperti kelegaan.
"Bhakim," kata Toni pelan, suaranya bergetar oleh kemarahan lama yang akhirnya menemukan jalan keluar. "Dia bilang kami satu tangan. Dua belas tahun. Aku jaga rahasianya, dia jaga aku. Tapi waktu giliranku terancam, dia yang menarik pelatuk di gudang itu. Sendiri." Ia menarik napas, menahan sakit di lambungnya. "Baik. Aku sebut semuanya. Sudibyo, perantaranya, semua. Tapi aku mau perlindungan untuk anakku. Dia tujuh tahun. Apa pun yang terjadi padaku, dia tidak boleh disentuh."
Reksa mengangguk perlahan. "Akan kuusahakan."
Saat Toni mulai bicara, kata demi kata mengalir ke dalam perekam Renjana, nama yang lebih tinggi itu akhirnya masuk ke dalam berita acara resmi, dan Reksa duduk diam, merasakan sesuatu yang berat bergeser di dadanya. Selama berbulan-bulan ia memburu bandar ini. Kini bandar itu duduk di hadapannya, bukan sebagai musuh, tapi sebagai kunci terakhir yang menyambungkan Garumi ke kursi bersih di Polda. Keadilan, ia mulai mengerti, kadang datang dari tangan yang paling kotor. Dan ia harus belajar memegang tangan itu tanpa membiarkannya membuatnya ikut kotor.