Goldra duduk di kursi plastik di ruang belakang bengkel mati milik sepupu Pram, tangannya yang tambun memegang gelas teh yang sudah lama dingin. Tiga hari lalu lelaki ini masih senior yang menatap Reksa di lorong kantor dengan mata penuh perhitungan. Sekarang ia tampak menyusut, seperti karung yang sebagian isinya bocor keluar.
Reksa berdiri menyandar di tembok, lengannya bersedekap. Ia tidak mempercayai Goldra. Ia hanya membutuhkannya.
"Kamu sudah kasih kami jadwal pengamanan, prosedur pemusnahan barang bukti, cara mereka membocorkan operasi," kata Reksa. Suaranya datar, lelah. "Itu bagus. Tapi itu semua soal Bhakim. Soal Toni. Aku sudah tahu mereka. Yang aku butuh sekarang, satu nama yang belum pernah disebut siapa pun. Nama orang yang melindungi Bhakim."
Goldra mendongak. Wajahnya, untuk pertama kali sejak Reksa mengenalnya, tampak benar-benar takut. Bukan takut tertangkap. Takut yang lebih tua, lebih dalam.
"Kamu nggak mau tahu itu, dik," katanya pelan. "Sumpah. Selama ini kamu cuma berurusan sama anjing. Aku, Toni, bahkan Bhakim. Kalau kamu sebut nama itu, kamu mulai berurusan sama yang pegang rantainya."
"Sebut."
Goldra meletakkan gelas. Tangannya bergetar sedikit, dan teh tumpah ke meja seng. Ia melirik ke pintu, lalu ke jendela kecil yang ditutup kardus, seolah-olah nama yang akan ia ucapkan bisa masuk lewat celah dan mendengarnya.
"Bhakim itu nggak bekerja sendiri. Dia setor ke atas. Setiap tas uang dari Toni, separuhnya naik. Dan yang menerima di atas itu," Goldra menelan ludah, "Kombes Sudibyo. Wakil Direktur Reserse Narkoba Polda. Orang yang nandatangani mutasi, yang ngatur siapa ditempatkan di mana, yang bisa matiin penyelidikan dari Polda dengan satu telepon. Dialah kenapa Propam yang turun ke Garumi kemarin nggak pernah benar-benar mencium apa-apa. Dia yang kirim mereka. Dia yang pilih siapa yang dikirim."
Ruangan itu terasa lebih sempit. Reksa diam. Di kepalanya, satu per satu kepingan berputar dan jatuh ke tempatnya. Operasi penyergapan tim luar yang bocor persis seperti pola lama. Penyidik pendatang yang seakan bersih tapi selalu selangkah di belakang. Laporan resmi yang menguap di tingkat lebih tinggi. Bukan karena Bhakim sekuat itu. Karena ada tangan di atas Bhakim yang menarik berkas itu keluar dari meja sebelum siapa pun sempat membacanya.
"Sudibyo," Reksa mengulang nama itu pelan, seakan mengujinya di lidah. Nama yang selama ini tak pernah disebut siapa pun, bahkan oleh Dimas yang sekarat, bahkan oleh Pak Wira yang ketakutan. Mereka semua berhenti di Bhakim. Karena di luar Bhakim, mereka tidak punya kata-kata.
Reksa membuka buku kecilnya, ke dua huruf yang ia tulis dari bagan tangan Lendra, lalu ia cocokkan dengan nama pemilik rekening penerima setoran terbesar yang disebut Bu Karsih. "Tapi rekening yang terima setoran paling besar tiap bulan bukan atas nama Sudibyo," kata Reksa. "Inisialnya AP."
Goldra mengangguk pelan. "Sudibyo nggak bodoh, dik. Dia nggak pernah taruh namanya sendiri di mana pun. AP itu perantaranya, orang yang nampung dan nyaring uangnya, yang ketemu Toni dan Bhakim langsung supaya tangan Sudibyo tetap bersih. Lelaki yang nggak pernah mau wajahnya kelihatan. Rekening AP itu cuma pintu. Uangnya nggak berhenti di situ. Semua naik ke Sudibyo." Ia menelan ludah. "Lendra dulu juga mentok di AP. Dia kira itu puncaknya, lalu ragu sendiri. Pantas. AP cuma bayangan dari yang sebenarnya."
Satu keraguan lama di catatan Lendra akhirnya terjawab. Bukan salah catat. Lendra benar sampai setengah jalan: AP nyata, tapi ia hanya perantara, dan di belakangnya berdiri nama yang baru malam ini berani diucapkan Goldra.
"Sekarang kamu paham," kata Goldra, suaranya nyaris berbisik. "Kenapa Lendra mati. Kenapa Dimas mati. Bukan karena Bhakim marah. Karena mereka mengancam aliran ke atas. Dan begitu aliran ke atas terancam, yang turun tangan bukan Bhakim. Bhakim cuma tukang sapu. Yang memutuskan siapa hidup siapa mati, itu Sudibyo. Dari kursinya di Polda. Tangan bersih. Tanda tangan rapi."
Reksa menarik kursi, duduk berhadapan dengan lelaki tua itu. Untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri di hari pertama, naik mobil patroli di samping Goldra, mempercayainya cukup untuk turun sendirian ke gang gelap. Betapa muda ia waktu itu.
"Kalau aku bongkar Bhakim tanpa Sudibyo," kata Reksa, "apa yang terjadi?"
Goldra tertawa kecil, tawa tanpa kegembiraan. "Bhakim jadi tumbal. Dipensiunkan, mungkin dipenjara beberapa tahun. Sudibyo mengangkat orang baru, di tempat lain, dan tiga bulan kemudian mesinnya jalan lagi seperti tidak pernah berhenti. Kamu cuma menyabit satu kepala dari ular yang punya banyak kepala." Ia menatap Reksa. "Kalau kamu mau benar-benar memutusnya, kamu harus dapat keduanya. Dalam satu malam. Sebelum Sudibyo sempat angkat telepon."
Reksa berdiri, berjalan ke jendela, menyibakkan sedikit kardus. Di luar, senja Garumi turun merah ke atap-atap seng, dan di kejauhan terdengar sirene ambulans melintas, naik turun, lalu hilang ditelan kota. Ia memikirkan berkas di tasnya, garis-garis yang sudah hampir tersambung lurus. Selama berbulan-bulan ia kira Bhakim adalah puncaknya. Kini puncak itu mundur lagi, lebih tinggi, lebih dingin, di belakang meja Polda dengan tanda tangan yang tak pernah berlumur darah.
"Berarti aku harus memancing mereka berdua ke satu tempat," gumam Reksa, lebih kepada dirinya sendiri. "Satu malam. Satu jaring."
Goldra menatap punggung Reksa lama-lama. "Kamu gila, dik," katanya akhirnya, suaranya hampir seperti kekaguman dan kasihan sekaligus. "Tapi aku sudah terlalu tua untuk lari. Apa pun yang kamu rencanakan, aku ikut. Bukan karena aku jadi baik. Karena kalau ini gagal, aku mati juga." Ia menghela napas panjang. "Dan kalau aku harus mati, biar aku mati di sisi yang benar untuk sekali ini."
Reksa tidak menjawab. Di luar, sirene lain melintas, lebih jauh, hampir tak terdengar. Untuk pertama kalinya sejak hari pertamanya, ia tahu seberapa dalam lubang ini. Dan ia tahu, kini, mengapa setiap orang di Garumi menundukkan kepala ketika nama itu lewat tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.