Goldra membutuhkan dua hari untuk menyerah. Dua hari di mana Reksa tidak tahu apakah Aiptu itu akan datang ke pertemuan kedua, atau justru berlari ke Bhakim untuk menjual nyawanya sendiri demi sedikit waktu lagi. Dua hari yang Reksa habiskan dengan menyiapkan dua skenario sekaligus: satu jika Goldra membelot ke pihaknya, satu jika Goldra mengkhianatinya seperti dulu ia mengkhianati hari pertama Reksa di gang Hendarta.
Tapi Goldra datang. Pada hari kedua, di sebuah rumah aman kecil yang diatur AKBP Renjana di luar Garumi, dengan perekam resmi menyala dan berita acara di atas meja, Aiptu Goldra duduk dengan tangan gemetar, dan mulai bicara.
Reksa berdiri di sudut ruangan, mengamati, tidak ikut dalam pemeriksaan formal yang dipimpin Renjana. Itu kesepakatannya: Goldra harus bersaksi secara sah, dalam prosedur yang benar, agar kesaksiannya tidak bisa dipatahkan di pengadilan dengan dalih tekanan dari buron. Reksa hanya menyaksikan, dan apa yang ia saksikan membuat seluruh gambaran yang sudah ia susun berbulan-bulan akhirnya bernapas, menjadi hidup, menjadi suara manusia alih-alih sekadar dokumen.
Goldra membuka prosedur internal yang selama ini menjadi misteri. Bagaimana setiap rencana operasi narkoba, sebelum dieksekusi, melewati meja Bhakim, yang menandai mana yang boleh jalan dan mana yang "perlu ditunda". Bagaimana informasi itu mengalir ke Toni lewat satu kurir tetap, selalu lewat lisan, tidak pernah tertulis, agar tak ada jejak. Bagaimana barang bukti yang disita dicatat berlebih lalu sebagiannya "dimusnahkan" di atas kertas namun sebenarnya kembali ke peredaran. Bagaimana CCTV di lorong-lorong kantor yang strategis sengaja dijaga agar bisa dinyalakan-dimatikan sesuai kebutuhan, mata yang memandang ke dalam, bukan ke luar.
"CCTV itu," kata Goldra, suaranya rendah, "yang biasanya rusak di lorong lantai dua. Itu nggak pernah benar-benar rusak. Itu dinyalakan kalau ada yang perlu diawasi. Waktu kamu nolak amplop Bhakim, itu nyala. Kami punya rekamannya. Bhakim suka pegang rekaman orang-orang yang dia nggak percaya."
Reksa merasakan dingin merayap di tengkuknya. Akhirnya, mata yang sejak hari-hari awal selalu selangkah di depannya, terjelaskan. Bukan ilmu hitam, bukan keberuntungan musuh. Hanya manusia, sistem, dan pengkhianatan yang dirakit dengan sabar.
Lalu Goldra menyebut hal-hal kecil yang justru paling berharga: jadwal pengamanan kantor, kapan ruang arsip diawasi dan kapan kosong, siapa saja di Polsek Garumi Timur yang termasuk lingkaran Bhakim dan siapa yang sekadar pegawai biasa yang tak tahu apa-apa. Sebuah peta jalan, detail demi detail, dari pintu depan kantor sampai ke meja kayu mengilap di lantai dua tempat semuanya bermula.
Dan di tengah semua itu, Goldra menyebut satu nama yang membuat Reksa, yang sejak tadi berdiri diam, menegakkan punggungnya. Sebuah nama dari dalam lingkaran yang seharusnya berada di pihak Reksa, nama yang menjelaskan bayangan di lapangan terbuka, mobil yang menunggu di tempat teduh, kebocoran yang ia uji dengan umpan-umpan kecil.
"Bhakim punya telinga," kata Goldra, menatap Renjana, lalu, sekejap, menatap Reksa di sudut ruangan. "Bukan cuma di kantor. Di mana-mana. Bahkan di tempat yang kalian kira aman. Kalau kalian pikir cuma orang dalam Polsek yang dia beli, kalian salah besar. Dia beli orang justru di tempat yang nggak akan pernah kalian curigai."
Ruangan itu hening. Renjana menulis. Sari, yang berdiri di dekat pintu, bertukar pandang dengan Reksa, dan dalam tatapan itu mengalir pengertian yang sama: bayangan yang Reksa lacak lewat umpan-umpannya bukan paranoia. Ia nyata, dan Goldra baru saja mengonfirmasinya tanpa menyebut wajahnya secara langsung.
Setelah pemeriksaan selesai dan Goldra dibawa ke tempat perlindungan, Reksa keluar ke teras, menghirup udara malam yang basah. Pram menelepon, suaranya penuh kemenangan yang hati-hati. "Goldra membuka semuanya, Reksa. Ini lebih dari yang kita harap. Peta jalan ke Bhakim sekarang terbuka lebar."
"Iya," kata Reksa pelan, menatap kegelapan di luar pagar. Tapi di dadanya, kemenangan itu bercampur dengan sesuatu yang dingin. Peta jalan ke Bhakim memang terbuka. Tapi Goldra juga baru saja mengonfirmasi bahwa di antara orang-orang yang ia bawa sejauh ini, orang-orang yang nyawanya ia pertaruhkan satu sama lain, ada satu pasang mata yang menatap balik untuk musuh. Dan sebelum ia bisa menjatuhkan komisaris di lantai dua itu, ia harus terlebih dahulu menemukan pengkhianat yang berdiri terlalu dekat dengannya, sebelum pengkhianat itu menemukan fajar yang sudah mereka pilih.