Reksa memutuskan untuk tidak mengejar bayangan di dalam lingkarannya dulu. Itu keputusan yang menyiksa, tapi perhitungan dingin seorang anak pedagang menang atas amarah: jika ada mata-mata di antara mereka dan ia membongkarnya terlalu cepat, ia hanya akan memberi tahu musuh bahwa permainannya sudah terbaca. Lebih baik membiarkan bayangan itu mengira dirinya aman, sementara ia memukul dari arah yang tidak terduga, arah yang justru bisa meretakkan benteng Bhakim dari dalam.
Arah itu bernama Aiptu Goldra.
Reksa sudah lama menyimpan kartu ini, sejak hari ia menerima amplop kecil dari tangan Goldra dan diam-diam mencatat nomor seri setiap lembar uang di dalamnya. Rantai yang Goldra kira ia pasangkan ke leher Reksa, sejak awal menjadi tali jerat di tangan Reksa. Sekarang, dengan berkas yang nyaris lengkap dan tanggal yang sudah dipilih, waktunya tiba untuk menariknya.
Goldra adalah mata rantai paling lemah dalam jaring itu, dan Reksa tahu persis kenapa. Toni punya kekayaan untuk lari. Bhakim punya pelindung di atas. Tapi Goldra hanya seorang aiptu tambun yang sudah terlalu lama hidup dari recehan kejahatan orang lain, terlalu dalam untuk keluar tapi terlalu kecil untuk dilindungi sungguh-sungguh. Ketika kapal mulai tenggelam, orang seperti Goldra adalah yang pertama ditinggalkan untuk tenggelam bersamanya.
Mereka mengaturnya lewat perantara, sebuah pertemuan yang tidak bisa Goldra tolak. Sari yang merancang umpannya, memanfaatkan ketakutan yang sudah pasti tumbuh di dada Goldra setelah malam berdarah di pelabuhan, setelah Toni menghilang, setelah Bhakim mulai membersihkan barisan. Aiptu itu pasti tahu bahwa daftar tumbal tidak berhenti di Toni.
Reksa menemuinya di sebuah warung kopi tua di pinggiran, tempat dengan dua pintu, pemilik yang tidak peduli, tidak ada kamera. Tempat-tempat seperti ini sudah menjadi gerejanya sekarang. Ia datang lebih awal, duduk membelakangi dinding, dan menunggu.
Goldra masuk dengan wajah yang sudah kehilangan keramahan palsunya. Tubuhnya tetap tambun, tapi pundaknya merosot, dan bau kopi-rokok yang dulu menyertainya kini bercampur bau keringat ketakutan. Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat Reksa, sekejap berpikir untuk berbalik.
"Duduk, Pak," kata Reksa tenang. "Kalau saya mau menyakiti Bapak, saya nggak akan undang Bapak ke tempat seperti ini. Saya cuma mau ngobrol."
Goldra duduk dengan berat, menatap Reksa dengan campuran benci dan waspada. "Kamu buron, Reksa. Setengah kota nyari kamu. Kamu berani-beraninya—"
"Setengah kota nyari saya karena Bhakim yang suruh," potong Reksa, suaranya datar. "Dan Bapak tahu kenapa. Bapak juga tahu sebentar lagi giliran Bapak. Toni sudah lenyap. Bapak pikir kenapa? Karena dia jadi beban. Sama seperti Bapak sebentar lagi."
Reksa meletakkan sesuatu di meja. Bukan ancaman. Sebuah lembar fotokopi: catatan nomor seri uang, tanggal, foto amplop. Bukti suap yang Goldra berikan padanya berbulan lalu, terdokumentasi dengan ketelitian yang membuat wajah Goldra memucat.
"Saya catat semuanya, Pak," kata Reksa pelan. "Sejak hari pertama. Setiap lembar. Ini cukup buat Bapak masuk, bahkan tanpa yang lain. Tapi saya nggak datang buat menjebloskan Bapak." Ia menatap mata lelaki tua yang dulu membawanya ke gang Hendarta. "Saya datang buat kasih Bapak pintu. Satu-satunya pintu yang masih terbuka sebelum kapal ini tenggelam dan menyeret Bapak ke dasar."
Goldra menatap kertas itu lama, napasnya berat. Di matanya, Reksa melihat perang yang ia kenal: rasa takut melawan kebiasaan tunduk, harga diri yang sudah lama dijual melawan naluri bertahan hidup yang paling purba.
"Apa maumu," kata Goldra akhirnya, suaranya parau.
"Kesaksian," kata Reksa. "Bersaksi melawan Bhakim. Lewat jalur resmi, penyidik bersih dari luar kota, perlindungan saksi. Bapak ceritakan semuanya, prosedur dalam, bagaimana operasi dibocorkan, bagaimana barang bukti disusutkan, siapa yang terima apa. Sebagai gantinya, Bapak dapat keringanan, dan Bapak nggak berakhir seperti Toni di lantai gudang, atau seperti Lendra di dasar sungai."
Hening panjang. Hujan mulai turun di luar, mengetuk seng. Goldra menatap cangkir kopi yang tak ia sentuh, lalu menatap pintu, lalu menatap tangannya sendiri, tangan yang sudah puluhan tahun menerima yang kotor.
"Kamu nggak ngerti," gumam Goldra akhirnya, suaranya hampir pecah. "Orang yang di atas Bhakim... kamu nggak tahu apa yang bisa mereka lakukan."
Reksa mencondongkan badan. Untuk pertama kalinya, ia melihat retakan itu nyata, bukan di benteng Bhakim, tapi di salah satu batu penyusunnya. "Justru karena itu, Pak. Justru karena Bapak takut sama mereka, Bapak harus pilih sisi yang akan menang. Dan percayalah, kali ini, kami yang akan menang."