Malam ketiga pengamatan, giliran Reksa. Ia memarkir motornya di gang gelap dua ratus meter dari gudang pelabuhan, lalu berjalan kaki, berbaur dengan bayangan kontainer. Udara berbau garam, karat, dan solar. Suara ombak memukul tiang dermaga terdengar samar.
Dari balik tumpukan peti kemas, Reksa mengamati. Sebuah truk masuk pukul satu dini hari. Beberapa orang bergerak cepat, menurunkan kardus-kardus, memindahkannya ke gudang. Reksa memotret dengan lensa tele, tangannya stabil meski jantungnya berpacu. Lalu sebuah mobil mewah datang. Seorang lelaki turun, bertubuh kekar, rambut disisir rapi ke belakang, kemeja mahal. Toni. Reksa mengenalinya dari deskripsi Pak Wira.
Toni berbicara dengan seorang lelaki lain yang membelakangi cahaya, sehingga wajahnya tak terlihat. Tapi lelaki itu, dari postur dan caranya berdiri, terasa familier. Reksa memotret berkali-kali, berharap ada satu frame yang menangkap wajah.
Lalu ponselnya bergetar di saku. Ia nyaris melonjak. Layar menyala terang di kegelapan, dan untuk sesaat ia panik cahaya itu terlihat. Ia menutupnya cepat dengan tangan. Pesan dari nomor tak dikenal:
"Pulang sekarang. Sebelum kamu jadi berita pagi."
Darah Reksa membeku. Mereka tahu ia di sini. Saat ini juga. Ia menoleh ke segala arah, jantungnya menggila. Di kejauhan, dua sosok mulai bergerak ke arah tumpukan kontainer tempatnya bersembunyi, senter menyapu-nyapu kegelapan.
Reksa bergerak. Ia menyelinap mundur, sepelan dan secepat yang ia bisa, menjaga punggungnya tetap di balik peti kemas. Suara langkah kaki mendekat. Sorot senter melintas hanya beberapa sentimeter dari sepatunya. Ia menahan napas, menempelkan punggung ke dinding besi yang dingin.
"Tadi ada cahaya di sini," kata sebuah suara.
"Mungkin cuma kucing. Atau pemulung," kata yang lain. "Cek sebentar, terus balik. Bos nggak suka nunggu."
Reksa menunggu sampai langkah itu menjauh, lalu menyusur keluar, berlari rendah di antara bayangan, kembali ke gang tempat motornya. Tangannya gemetar hebat saat menyalakan mesin. Ia memacu motor keluar dari kawasan pelabuhan, kaca spion ia awasi terus, takut ada yang mengikuti.
Ketika akhirnya sampai di kontrakannya, ia menemukan pintunya tertutup, tapi sesuatu terasa salah. Ia mendorong pintu perlahan. Di dalam, di atas meja, tergeletak sebuah amplop. Tidak ada tanda dibuka paksa. Mereka punya kunci. Atau bisa masuk kapan saja.
Reksa membuka amplop dengan tangan dingin. Di dalamnya, sebuah foto: dirinya dan Sari di lapangan parkir mal. Dan secarik kertas dengan tulisan tangan rapi:
"Polisi muda mati di hari pertama, itu tragedi. Polisi muda mati di bulan pertama, itu statistik. Berhenti sekarang, dan kawanmu itu tetap aman. Lanjutkan, dan kalian berdua jadi catatan kaki di laporan tahunan."
Tangan Reksa meremas kertas itu. Bukan ketakutan untuk dirinya yang membuat napasnya tercekat. Tapi nama Sari. Mereka tahu soal Sari. Mereka mengancam Sari.
Ia menelepon Sari saat itu juga, dari ponsel pribadinya, dengan tangan yang masih gemetar.
"Mereka tahu," kata Reksa, suaranya parau. "Mereka masuk ke kontrakanku. Mereka punya foto kita. Mereka menyebut namamu, Sari."
Di ujung sana, hening sejenak. Lalu suara Sari, tenang, terlalu tenang, suara orang yang sudah lama hidup dengan ancaman seperti ini. "Aku sudah menduga ini akan datang. Dengar, Reksa. Sekarang kita ada di titik di mana berhenti dan lanjut sama-sama berbahaya. Kalau kita berhenti, mereka tahu kita lemah, dan suatu hari mereka tetap akan membereskan kita supaya kita nggak jadi masalah. Satu-satunya cara keluar adalah maju. Kumpulkan cukup bukti untuk menghancurkan mereka sebelum mereka menghancurkan kita."
Reksa menatap foto di mejanya, wajah Sari yang sedang tersenyum tipis di lapangan parkir, tanpa tahu ada lensa yang membidiknya. Ia berjanji dalam hati. Apa pun yang terjadi, Sari tidak akan berakhir seperti Lendra.
"Baik," kata Reksa. "Kita maju."