Selama tiga hari, Reksa menjadi seperti hantu yang memandang jebakannya sendiri dari kejauhan, menunggu mana dari umpan-umpan kecil itu yang akan tertelan. Ia tahu permainan ini dari dalam ke luar sekarang; ia memainkannya sejak loker stasiun 114, sejak ia mengganti bukti asli dengan dokumen samaran dan membiarkan musuh mengira mereka menang. Prinsipnya selalu sama: jika musuh selalu mengawasi, maka biarkan yang mereka awasi adalah apa yang ingin kau tunjukkan.
Mereka menyebar empat versi rencana. Pada orang pertama, tanggal penyerahan disebut tiga hari dari sekarang, di sebuah lokasi di selatan kota. Pada orang kedua, empat hari, di utara. Pada masing-masing titik dalam lingkaran, satu detail unik, satu sidik jari yang berbeda, sehingga apa pun yang bocor akan menunjuk kembali ke sumbernya seperti tinta yang menetes.
Lalu mereka menunggu, dan mengamati pergerakan musuh dari celah-celah yang masih mereka miliki: kurir lama, kontak Sari di administrasi yang masih berutang budi, dan terutama pola yang Reksa pelajari selama berbulan-bulan, kapan mobil-mobil tertentu bergerak, kapan kantor tertentu terlalu sibuk di jam yang tidak wajar.
Tanda muncul di hari kedua. Kontak Sari mengabarkan bahwa ada gerakan diam-diam menyiapkan "pengamanan" di sebuah lokasi di selatan kota, lokasi yang mereka tanam pada satu orang saja. Reksa mencatatnya, jantungnya berdebar, tapi ia menahan diri. Satu sinyal belum cukup. Dalam pengalamannya, kesimpulan tergesa adalah cara tercepat menuduh orang yang salah dan kehilangan kepercayaan yang tidak bisa dipulihkan.
"Bisa kebetulan," kata Sari, ketika Reksa menyampaikannya. "Bisa juga umpan kita ditelan, tapi oleh orang yang nggak sengaja membocorkannya, bukan mata-mata sengaja."
"Aku tahu," kata Reksa. "Makanya kita kasih satu uji lagi. Lebih tajam."
Mereka menyiapkan umpan kedua, sebuah pertemuan palsu yang seakan-akan sangat penting, dan menempatkannya hanya pada lingkaran yang lebih sempit. Reksa sendiri yang akan mengamati dari kejauhan, untuk melihat dengan matanya sendiri siapa yang muncul, kendaraan apa, dari arah mana.
Di malam umpan kedua, Reksa berbaring di posisi pengamatan yang sudah ia siapkan, di lantai dua sebuah ruko kosong yang menghadap ke titik pertemuan palsu, di sebuah lapangan terbuka di pinggir kota yang sengaja ia pilih karena tidak ada tempat bersembunyi bagi siapa pun selain dirinya. Hujan rintik turun, dan untuk sesaat ia teringat malam-malam awal, mengamati gudang pelabuhan dari balik kontainer, jantung berdebar, ponsel di saku. Lingkaran yang sama, berulang, tapi kali ini ia bukan lagi anak baru yang panik melihat cahaya layarnya sendiri di kegelapan. Kali ini ia pemburu.
Tepat pukul sebelas, sepasang lampu mobil mendekat. Mobil itu berhenti jauh dari titik pertemuan, di tempat teduh, lampunya padam. Tidak ada yang turun. Hanya menunggu, mengawasi, persis seperti yang dilakukan musuh sejak awal, sejak mobil gelap berkaca film di lapangan parkir mal dulu. Reksa memotret plat itu lewat lensa tele, tangannya stabil, dan mencatat: kendaraan ini tidak ada dalam daftar mobil dinas Garumi yang ia hafal, tapi caranya bergerak, caranya menunggu, terlalu terlatih untuk preman biasa.
Mobil itu menunggu satu jam, lalu pergi ketika "pertemuan" yang dijanjikan tak pernah terjadi. Reksa tetap diam di tempatnya sampai dua jam berlalu, memastikan tidak ada bayangan kedua, lalu menyelinap keluar lewat jalur belakang yang sudah ia hafal.
Kembali ke rumah aman menjelang subuh, ia meletakkan dua catatan di meja di depan Sari dan Pram lewat panggilan video: lokasi pertama yang bocor, dan plat mobil dari umpan kedua. Dua titik. Dan ketika ia menggambar garis yang menghubungkan siapa-tahu-apa di antara orang-orang dalam lingkaran mereka, sebuah pola mulai muncul, samar tapi tak terbantahkan, menunjuk ke satu arah yang membuat perutnya mengerut. Bukan ke wajah asing. Tapi ke seseorang yang sudah lama berdiri di sisi yang ia kira aman.
"Aku belum yakin seratus persen," kata Reksa pelan, menatap garis yang ia gambar. "Tapi bayangan ini, semakin lama aku tatap, semakin dia berbentuk wajah yang aku kenal."