Rencana sebaik apa pun selalu punya satu hal yang tidak bisa dikendalikan: manusia. Reksa belajar itu dengan cara paling pahit, lima hari sebelum tanggal yang sudah mereka pilih.
Tanda pertama datang halus, seperti biasanya. AKBP Renjana menelepon Pram dengan suara yang lebih tegang dari biasanya. Salah satu anggota tim penyidiknya, yang sudah ia uji dan percayai, mendapat panggilan mendadak dari atasan di Mabes, ditanya soal "kegiatan tidak resmi di luar penugasan". Pertanyaan yang spesifik. Terlalu spesifik. Seseorang, di suatu tempat, tahu bahwa ada operasi yang sedang dirakit di luar struktur.
"Bukan berarti seluruh rencana bocor," kata Renjana lewat panggilan terenkripsi malam itu, suaranya berusaha tenang. "Tapi ada yang tahu sesuatu sedang terjadi. Mereka belum tahu apa, belum tahu kapan, belum tahu siapa target tepatnya. Tapi mereka mencium asap."
Reksa duduk di kursi rumah aman, menatap diagram di papan tulis yang sudah mereka hapus dan gambar ulang puluhan kali. Asap. Itu yang selalu mendahului api dalam jaring ini. Dulu, operasi narkoba bocor sebelum dijalankan. Dulu, pertemuan dengan Dimas bocor. Dulu, loker stasiun bocor. Selalu ada lubang, dan ia sudah cukup belajar untuk tahu bahwa mencari lubang di saat-saat genting hanya membuang waktu yang tidak mereka punya.
"Pertanyaannya bukan apakah ada kebocoran," kata Reksa pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Pertanyaannya, lewat mana, dan seberapa dalam. Kalau kita salah baca, kita perbaiki lubang yang salah, dan lubang yang benar tetap terbuka sampai hari H."
Sari, yang berdiri di belakangnya, menyilangkan lengan. "Lingkaran kita kecil, Reksa. Kamu, aku, Pram, Renjana, timnya Renjana, Toni di rumah sakit, akuntan dalam perlindungan. Itu saja. Setiap orang ini titik gagal."
Reksa menatapnya. Mereka berdua tahu apa yang tidak diucapkan: dalam pengalaman pahit mereka, kebocoran selalu datang dari orang yang paling dipercaya. Sari sendiri, dulu, adalah pelajaran itu. Tapi Sari telah menebusnya, telah mempertaruhkan nyawanya, dan Reksa sudah berhenti meragukannya berbulan lalu. Justru itu yang membuat kemungkinan baru terasa lebih dingin: kalau bukan Sari, maka lubangnya di tempat yang belum pernah mereka curigai.
"Kita lakukan seperti dulu," kata Reksa akhirnya, dan dalam suaranya ada gema strategi lama, strategi yang menyelamatkannya di malam loker stasiun. "Kita uji. Tiap orang dalam lingkaran kita kasih satu detail kecil yang berbeda. Tanggal palsu yang sedikit beda, lokasi umpan yang beda. Kalau salah satu detail itu yang muncul di gerakan musuh, kita tahu siapa pintunya. Kita pakai kebocoran mereka buat menemukan kebocoran kita."
Pram, dari layar laptop, mengangguk perlahan. "Bahaya. Kalau salah satu yang kita uji ternyata mata-mata, dia akan tahu kita sedang menguji begitu detailnya nggak cocok. Dia bisa diam, bisa mengubah cara."
"Aku tahu," kata Reksa. "Tapi kita nggak punya pilihan lain. Lima hari lagi. Kita nggak bisa tunda, karena kalau kita tunda, momentum hilang, Bhakim makin curiga, dan saksi-saksi kita makin lama dalam bahaya. Kita maju, tapi dengan mata terbuka. Kita harus tahu siapa yang menatap balik dari dalam barisan kita sendiri."
Malam itu mereka menanam umpan-umpan kecil itu, dengan hati-hati, masing-masing pada orang yang berbeda, tanggal dan tempat yang sedikit berlainan. Reksa tidur dua jam, seperti biasa, dan ketika ia terbangun di subuh oleh suara hujan yang kembali turun di atap, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya dingin: perasaan diawasi yang dulu menghantuinya di lapangan parkir mal, di pelabuhan, di kontrakannya, perasaan itu kembali. Lebih dekat kali ini. Seakan, di antara segelintir orang yang ia percayai dengan nyawanya, ada satu pasang mata yang sejak awal tidak benar-benar di sisinya. Dan benturan yang sudah mereka rancang dengan presisi, kini berpacu melawan satu lubang yang belum mereka temukan.