Mereka menghabiskan empat hari berikutnya bukan untuk mengumpulkan bukti, melainkan untuk merancang cara menjatuhkannya. Pram menyebutnya "menentukan hari", dan Reksa pelan-pelan memahami bahwa di dunia tempat musuh bisa membeli kantor, redaksi, dan meja hijau, waktu adalah senjata yang sama pentingnya dengan bukti.
"Kalau kita serahkan berkas ke Mabes hari Senin," kata Pram, menggambar diagram kasar di papan tulis rumah aman, "dan baru dipublikasikan hari Rabu, mereka punya dua hari untuk menggerakkan semuanya. Saksi hilang. Berkas raib. Penyidik dipindah. Kita sudah lihat itu terjadi. Laporan pertama kita ke kanal resmi dulu, menguap. Pers lokal, dibungkam. Itu karena kita kasih mereka waktu."
AKBP Renjana mengangguk. "Caranya cuma satu. Serentak. Penyerahan berkas ke penyidik Mabes yang bersih, publikasi pers nasional, dan penangkapan, harus terjadi dalam jendela waktu yang sangat sempit. Beberapa jam. Supaya begitu mereka sadar apa yang terjadi, semuanya sudah terlambat dibungkam. Begitu nama itu muncul di layar televisi nasional dan di meja penyidik bersih pada saat yang sama, mereka nggak punya ruang buat lobi."
Reksa mendengarkan, mencerna. Ia bukan ahli strategi media seperti Pram, bukan ahli hukum acara seperti Renjana. Tapi ia anak pedagang yang pandai membaca angka, dan ia melihat logikanya dengan jernih: ini soal momentum, soal membuat satu pukulan yang terlalu cepat untuk ditangkis.
"Tapi penangkapannya," kata Reksa. "Bhakim sekarang waspada. Setelah malam di pelabuhan, dia tahu kita punya sesuatu. Dia akan jaga jarak, siapkan alibi, mungkin kabur ke luar kota atau sembunyi di balik atasannya. Kalau hari H tiba dan dia nggak ada di tempat yang bisa ditangkap, semua ini sia-sia. Pers boleh teriak, penyidik boleh datang, tapi tersangkanya hilang."
Hening sejenak. Itulah celah dalam rencana, dan mereka semua tahu.
"Kita harus pancing dia," kata Sari, yang sejak tadi diam, kini bicara dengan ketenangan dingin seorang penyidik veteran. "Bhakim itu bukan orang yang lari. Dia terlalu sombong, terlalu yakin punya pelindung di atas. Selama dia merasa masih pegang kendali, dia akan tetap di Garumi, tetap di kantornya, tetap mainkan perannya sebagai komisaris dermawan. Tugas kita bukan mengejar dia. Tugas kita memastikan, di hari yang kita pilih, dia ada di satu tempat, melakukan satu hal, yang membuatnya tertangkap basah di depan mata semua orang."
Reksa menatapnya. "Maksudmu, kita giring dia ke satu transaksi."
"Maksudku," kata Sari, "kita kasih dia umpan yang terlalu besar untuk dia tolak. Sesuatu yang membuat dia merasa harus turun tangan sendiri. Karena selama bertahun-tahun, dia selalu pakai tangan orang lain. Goldra, Toni, kurir. Dia nggak pernah kotor langsung. Kalau kita mau jatuhkan dia dengan bersih, kita harus buat dia, untuk sekali ini, datang sendiri."
Diskusi berlanjut sampai larut. Mereka memetakan setiap kemungkinan, setiap titik gagal. Pram menghubungi jaringan jurnalis di beberapa kota, menyiapkan publikasi lintas redaksi agar tidak bisa dibungkam dari satu titik. Renjana menyiapkan tim penyidik kecil yang loyalitasnya sudah ia uji satu per satu, di luar struktur Garumi sepenuhnya. Sari merancang umpan. Dan Reksa, yang akan menjadi orang di garis depan, mempelajari setiap detail sampai ia bisa menggambarnya dengan mata tertutup.
Pada akhir hari keempat, mereka menetapkan tanggal. Sebuah fajar, beberapa minggu lagi, dipilih dengan presisi: hari kerja agar kantor penuh saksi, jam yang memungkinkan publikasi pagi, dan momentum yang dibangun melalui serangkaian langkah kecil yang harus berjalan sempurna.
Reksa berdiri di jendela malam itu, menatap kota yang berkelip. Ia memikirkan ayahnya, Hendarta, Lendra, Dimas, semua yang sudah membayar dengan nyawa untuk membawanya sampai ke titik ini. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bertanya apakah ia akan menang. Ia hanya bertanya harga apa lagi yang harus dibayar sebelum fajar yang sudah mereka pilih itu tiba.