Toni tidak mati. Itu sendiri terasa seperti keajaiban kecil di tengah kota yang biasanya tidak memberi keajaiban pada siapa pun. Peluru menembus lambung, melewatkan organ vital beberapa sentimeter, dan tim Mabes membawanya keluar Garumi sebelum fajar, ke rumah sakit di kota lain yang dijaga ketat, di bawah identitas baru, di bawah perlindungan saksi yang resmi. Untuk pertama kalinya dalam karier hitamnya, bandar terbesar Garumi berada di tempat yang tidak bisa dijangkau Bhakim.
Tiga hari kemudian, di sebuah rumah aman di pinggiran ibu kota yang diatur Pram, Reksa duduk di depan meja panjang yang dipenuhi dokumen, dan untuk pertama kalinya sejak hari pertamanya di Polsek Garumi Timur, ia melihat seluruh gambar itu utuh.
Pram hadir langsung, lelaki yang lebih tua beberapa tahun darinya, kakak tingkat yang dulu menyelipkan nomor telepon di hari kelulusan. Kini rambutnya mulai beruban, matanya tajam seperti orang yang terlalu lama mengejar kebenaran lewat jalur yang berbahaya. Sari ada di sana, lebih kurus dari berbulan lalu tapi matanya hidup kembali. Dan seorang lagi, penyidik antikorupsi Mabes bernama AKBP Renjana, lelaki tenang berkacamata berwajah dingin yang Pram jamin bersih, yang sudah dua kali menolak promosi karena tidak mau berutang pada orang yang salah.
Mereka menyusun berkas itu sepanjang malam, mata rantai demi mata rantai, seperti merangkai tulang menjadi kerangka.
Rekaman Dimas, yang akhirnya Reksa temukan berminggu lalu di tempat penyimpanan yang Dimas titipkan pada Bu Inah, pengasuhnya, sebelum dibunuh, berisi suara serah-terima uang akhir bulan, suara Bhakim yang jelas, nomor rekening yang disebut lantang. Itu fondasinya.
Di atasnya, dokumen CV Bahari Jaya: pembukuan ganda, faktur ekspor fiktif, aliran dana ke yayasan amal keluarga Bhakim, lalu keluar lagi sebagai biaya operasional ke rekening istrinya. Pencucian uang darah lewat sembako, terdokumentasi rapi, tanggal demi tanggal.
Kesaksian sang akuntan, yang kini juga dalam perlindungan, menjelaskan setiap angka, menerjemahkan kode pembukuan menjadi kalimat yang bisa dimengerti hakim.
Bukti peninggalan Lendra, yang Sari simpan selama tiga tahun dalam diam dan penyesalan, lalu serahkan sebagai penebusan, berisi catatan awal penyelidikan yang membuat Lendra dibunuh, jejak yang kini menyambung mulus dengan apa yang Reksa gali.
Amplop suap dari Goldra, dengan nomor seri uang yang Reksa catat sejak awal, foto, tanggal. Bukti bahwa Aiptu itu menyuap untuk membeli diam.
Dan terakhir, rekaman cadangan dari ponsel Reksa di pelabuhan, terpotong dan kacau, tapi berisi satu nama yang diucapkan Bhakim dengan suara takut. Nama yang membuat AKBP Renjana, yang sepanjang malam tetap dingin, mendadak meletakkan pena dan diam lama.
"Kamu sadar," kata Renjana akhirnya, suaranya rendah, "kalau nama ini benar, kasus ini bukan lagi soal satu komisaris di satu polsek. Ini naik sampai ke tempat yang... bahkan aku harus hati-hati menyebutnya."
Reksa menatap seluruh dokumen yang terhampar di meja itu, kerangka yang akhirnya lengkap, satu garis lurus dari pengedar kecil di Pasar Lama, naik ke Toni, naik ke Bhakim, naik ke nama itu. Garis yang ia mulai tarik di gang sempit di hari pertamanya, tanpa tahu sepanjang apa benang itu akan membentang.
"Aku sadar," kata Reksa pelan. Ia memikirkan Hendarta, sekarat di selokan dengan bisikan terakhirnya. Mereka ada di dalam. Di kantor kalian sendiri. Dulu kalimat itu terasa seperti peringatan tentang satu polsek. Sekarang ia tahu, "di dalam" jauh lebih luas, dan jauh lebih tinggi, dari yang dibayangkan siapa pun.
Pram menutup map terakhir, menatap Reksa lama. "Kamu tahu apa artinya ini, kan? Begitu kita gerak, nggak ada lagi mundur. Mereka akan kerahkan segalanya. Bukan cuma Goldra, bukan cuma anak buah Toni. Tapi semua yang sudah mereka beli, dari kantor sampai redaksi sampai meja-meja yang seharusnya mengadili. Berkas ini lengkap, tapi berkas lengkap pun bisa hilang kalau kita salah pilih cara menyerahkannya."
Reksa mengangguk. Di luar jendela, ibu kota berkilau dengan jutaan lampu, dunia yang jauh dari pelabuhan karatan Garumi. Tapi ia tahu kebusukan itu punya akar yang sama di mana-mana. "Kalau begitu," katanya, "kita harus pilih cara yang nggak bisa mereka peti-eskan. Dan kita cuma punya satu kesempatan."