Reksa memilih posisinya jauh sebelum Toni tiba. Dari atap sebuah gudang pakan ternak terbengkalai yang menghadap ke pelabuhan, ia berbaring telungkup di balik tumpukan karung lapuk, teropong di tangan, ponsel terenkripsi di saku, dan di telinganya, lewat earphone tunggal, suara dari perekam di sabuk Toni mengalir samar bercampur deru ombak. Sari berada di titik lain, di dalam mobil di luar pagar, menjadi mata kedua dan jalur evakuasi. Penyidik Mabes yang dikoordinasi Pram, bersama tim kecil yang dibawa dari luar kota, menunggu di luar radius, di luar jangkauan mata-mata Bhakim, siap masuk hanya jika Reksa memberi sinyal bahwa bukti sudah cukup dan kondisi aman.
Tidak ada sirene malam itu. Itulah yang membuat Reksa merinding. Selama berbulan-bulan, sirene menjadi suara latar kota ini, suara kuasa yang datang terlambat atau tidak datang sama sekali. Tapi malam itu, di pelabuhan lama, semuanya senyap. Hanya ombak, hanya angin yang menggesek pelat besi, hanya detak jantungnya sendiri.
Toni masuk tepat waktu. Lewat earphone, Reksa mendengar percakapan basa-basi, langkah kaki di lantai beton, lalu suara yang membuat tengkuknya menegang. Suara Bhakim. Tenang, hangat, kebapakan, suara yang sama yang dulu menawarinya amplop di ruangan ber-AC, suara yang sama yang memberitahunya lewat telepon bahwa Dimas tidak akan datang.
"Toni, Toni." Suara Bhakim. "Lama kita nggak duduk berdua begini. Kamu kelihatan kurus. Banyak pikiran?"
Reksa mencengkeram teropongnya. Ayo, batinnya pada Toni yang tak bisa mendengarnya. Pancing dia. Buat dia bicara.
Toni bermain bagus, lebih bagus dari yang Reksa harapkan. Ia mengeluh soal tekanan, soal anak buah yang ketakutan, dengan nada seorang bawahan yang lelah tapi setia. Pelan-pelan, dengan kesabaran yang mengejutkan, ia menggiring Bhakim. Soal setoran yang terlambat. Soal "orang di atas" yang menuntut. Dan Bhakim, yang merasa berada di kandang sendiri, di antara orang yang dikiranya masih dalam genggaman, mulai bicara.
Reksa mendengarnya menyebut sebuah nama. Bukan nama Toni, bukan nama Goldra, bukan nama yang ada dalam daftar mereka. Nama yang diucapkan Bhakim dengan nada hati-hati, nada orang menyebut atasannya sendiri. Reksa menahan napas, jari menekan tombol rekam cadangan di ponselnya sendiri, takut perekam di sabuk gagal.
Lalu semuanya berubah.
"Tapi kamu tahu, Toni," suara Bhakim melanjutkan, dan nadanya bergeser, menjadi lebih dingin, "ada yang menarik. Tiga hari lalu, ada kurir luar yang masuk ke kota. Bukan kurirku. Bukan kurirmu. Aku jadi penasaran, siapa yang lagi nyari teman baru."
Hening di earphone. Reksa merasakan keringat dingin merembes di punggungnya. Bhakim tahu. Tentu saja ia tahu. Ia selalu tahu.
"Aku sayang kamu, Toni," kata Bhakim, suaranya hampir lembut. "Makanya aku kasih kamu kesempatan jelasin. Tapi kalau kamu mau jujur sama aku, lepas dulu sabuk itu. Yang ada jahitannya. Anak-anakku bilang kamu pakai sesuatu malam ini."
Reksa bergerak sebelum pikirannya selesai. Ia menekan sinyal ke ponsel Sari, dua getaran, kode darurat, lalu ke penyidik Mabes. Tapi di pelabuhan tanpa sirene itu, sinyal manusia bergerak lebih lambat dari peluru. Lewat earphone, Reksa mendengar suara kursi terseret, teriakan, lalu sebuah tembakan yang memutus rekaman menjadi statis.
Ia berlari menuruni atap, pistol di tangan, dada terbakar. Di kejauhan, dari arah berlawanan, ia melihat lampu mobil tim Mabes akhirnya bergerak masuk, terlambat beberapa detik yang menentukan. Ketika Reksa sampai di mulut gudang, yang ia temukan adalah Toni, terbaring di lantai beton, tangan menekan lambungnya yang berdarah, dan Bhakim, sudah lenyap lewat pintu belakang ke dalam labirin kontainer.
"Bukti..." Toni terbatuk, darah di bibirnya. "Sabuk... dia ambil sabuknya..."
Reksa berlutut, menekan luka itu dengan tangannya, tangan yang sama yang dulu menekan luka Hendarta di gang sempit, lingkaran yang berulang dengan kejam. "Bertahan. Bertahan, Toni. Mereka datang."
Tapi malam itu pulang membawa harga. Bhakim lolos, perekam di sabuk hilang. Yang tersisa hanya rekaman cadangan di ponsel Reksa, terpotong, tapi cukup berisi satu hal: sebuah nama, diucapkan Bhakim dengan nada takut. Nama yang lebih tinggi dari segalanya. Dan saat sirene tim Mabes akhirnya melolong di pelabuhan lama, terlambat seperti biasa, Reksa menyadari ia baru saja kehilangan sebagian, tapi memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia kira.