Pram membutuhkan empat hari untuk mengatur jalur. Empat hari yang terasa seperti empat bulan bagi Reksa, yang menghabiskannya berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian lain, tidur dua jam sekali, memantau pergerakan Toni dari jauh lewat satu kurir perantara yang sama. Rencananya sederhana di atas kertas: Toni akan dipertemukan dengan seorang penyidik antikorupsi dari Mabes yang sudah Pram verifikasi bersih, di lokasi netral di luar Garumi, untuk pengambilan keterangan awal dan kesepakatan perlindungan saksi.
Tapi rencana di atas kertas tidak memperhitungkan bahwa Bhakim, di balik senyum yang mulai retak, juga punya mata.
Tanda pertama datang dari Toni sendiri, lewat panggilan singkat ke nomor prabayar yang sudah disepakati, suaranya tegang. "Ada yang berubah. Bhakim ngajak aku ketemu besok malam. Di gudang. Katanya mau bahas pembagian baru, katanya semuanya aman. Tapi dia nggak pernah ngajak aku ke gudang sejak tiga bulan lalu. Dia tahu, polisi. Aku ngerasa dia tahu."
Reksa menutup mata sejenak. Ia sudah menduga ini. Sebuah jaring yang bertahan bertahun-tahun tidak bertahan karena beruntung; ia bertahan karena selalu mencium gerakan sebelum gerakan itu matang. Pertemuan Toni dengan kurir luar, perubahan pola, ketidakhadiran Toni di transaksi rutin, semua itu sinyal bagi mata yang terlatih membaca pengkhianatan.
"Jangan datang ke gudang," kata Reksa cepat.
"Kalau aku nggak datang, dia makin yakin aku belot. Dia langsung habisi aku." Suara Toni naik. "Aku terjebak di antara kalian berdua. Kalau aku datang, dia bunuh aku di gudang. Kalau aku nggak datang, dia kirim orang ke rumahku malam ini juga."
Reksa berpikir cepat, otaknya bekerja seperti dulu ketika ia mencocokkan tanggal operasi yang bocor di ruang arsip, mencari pola di tengah kekacauan. Bhakim merancang jebakan ganda: singkirkan Toni yang mulai jadi beban, dan jika Reksa terlibat dalam pembelotan Toni, pancing Reksa keluar dari persembunyian sekaligus. Dua burung, satu malam.
Tapi setiap jebakan punya asumsi. Dan asumsi bisa dibalik.
"Dengar baik-baik," kata Reksa, dan untuk pertama kalinya dalam panggilan itu suaranya tenang, dingin, suara yang ia pelajari dari berbulan-bulan bertahan hidup. "Kamu datang ke gudang. Tepat waktu. Bersikap seperti nggak terjadi apa-apa, seperti kamu masih anak buah yang setia. Kamu beli waktu. Kamu pancing Bhakim ngomong, sebanyak mungkin, soal pembagian, soal nama-nama. Karena malam itu, kamu nggak akan datang sendiri."
Hening di seberang. "Maksud kamu?"
"Maksud aku, kalau Bhakim mau bikin jebakan di gudang, kita biarkan dia bikin. Tapi kita yang tentukan siapa yang sebenarnya terjebak."
Reksa menutup telepon dan langsung menghubungi Pram lewat saluran aman. Rencana berubah total dalam semalam. Penyidik Mabes yang tadinya akan menemui Toni di luar kota sekarang diberi tahu: ada kesempatan menangkap basah Komisaris Bhakim dalam pertemuan dengan bandar yang sudah bersedia menjadi saksi. Tapi ada syarat. Tim harus bergerak senyap, tanpa melibatkan satu pun aparat lokal Garumi, karena setiap saluran lokal sudah dianggap bocor. Pram, dari ibu kota, mengoordinasikan dengan penyidik bersih itu, sementara Reksa dan Sari menyiapkan satu hal yang menjadi keahlian mereka sejak awal: mata dan telinga di tempat yang tidak diawasi musuh.
Mereka memasang alat perekam pada Toni. Bukan kamera, terlalu berisiko digeledah, melainkan perekam suara tipis yang dijahit ke dalam sabuknya. Sari yang melatihnya, dengan ketelitian seorang penyidik dua belas tahun, mengajari Toni cara memancing kalimat tanpa terdengar memancing, cara membuat Bhakim menyebut angka, tanggal, nama.
"Kalau dia curiga sedikit saja," kata Sari pada Toni, menatapnya tanpa belas kasihan, "dia bunuh kamu di tempat. Jadi kamu harus jadi aktor terbaik dalam hidupmu. Kamu yang racuni kota ini, sekarang kamu yang harus bersihkan sebagian, dengan nyawamu sendiri sebagai taruhan. Anggap saja itu cicilan pertama dosamu."
Toni menatap perempuan itu, lalu menatap Reksa, dan dalam tatapannya ada campuran benci, takut, dan sesuatu yang mungkin, mungkin, adalah penyesalan. "Kalian sama gilanya sama dia," gumamnya. Tapi ia mengangguk.
Malam berikutnya, ketika lampu-lampu kontainer karatan kembali menyala redup di pelabuhan lama, jaring yang dirancang untuk menjebak seorang buron dan seorang bandar mulai dipasang. Hanya saja, kali ini, yang merentangkannya bukan satu-satunya orang di kota yang mengira dirinya pemburu.