Reksa tidak tidur malam itu. Ia mencocokkan nomor rekening yang diberikan Toni dengan data yang sudah ia dan Sari kumpulkan berbulan-bulan dari brankas CV Bahari Jaya dan kesaksian sang akuntan. Tanggalnya cocok. Jumlahnya cocok. Bahkan ada satu mata rantai yang selama ini menggantung tanpa penjelasan kini terisi: setoran akhir bulan itu tidak berhenti di rekening istri Bhakim seperti dugaan mereka. Sebagian, jumlah yang besar, mengalir lebih jauh, ke sebuah rekening yang namanya tidak ada dalam daftar mana pun yang mereka punya.
"Toni nggak bohong," kata Reksa pagi-pagi, ketika Sari kembali membawa nasi bungkus dan kopi dari warung dua kilometer jauhnya, jalur yang berbeda tiap hari, kebiasaan buron yang sudah menjadi naluri. "Tapi yang lebih penting, dia menunjuk ke arah yang selama ini nggak bisa kita lihat. Ada orang di atas Bhakim."
Sari meletakkan bungkusan itu, wajahnya tidak gembira. "Reksa, dengar aku. Aku tahu kamu lihat jalan keluar. Tapi kamu mau pakai Toni buat menjatuhkan Bhakim. Kamu sadar apa artinya itu? Toni itu yang bikin Hendarta mati. Toni yang racuni anak-anak Pasar Lama. Toni yang kirim orang masukin foto kita ke kontrakan kamu. Dan sekarang kamu mau kasih dia keringanan, jaminan, perlindungan, supaya dia bisa tunjuk jari ke atasannya?"
Reksa menatap kopi yang mengepul, tidak menjawab segera. Itu pertanyaan yang sudah menggerogotinya sepanjang malam. Ia memikirkan ayahnya, kalimat lama itu: keadilan tanpa belas kasih hanyalah kekejaman yang dirapikan. Tapi ada sisi lain dari kalimat itu yang baru ia pahami sekarang, sebagai buron, sebagai orang yang bertahun-tahun melihat hukum dipelintir: keadilan kadang lahir dari tangan yang kotor, karena cuma tangan kotor yang tahu di mana mayat dikubur.
"Aku nggak bilang ini bersih," kata Reksa akhirnya, suaranya rendah. "Aku benci ini sama seperti kamu. Tapi pikirkan. Tanpa Toni, kita punya dokumen, kita punya akuntan, kita punya rekaman Dimas. Itu cukup buat menjatuhkan Bhakim, mungkin. Tapi Bhakim cuma satu komisaris di satu kota kecil. Yang melindungi dia, yang ada di atas dia, mereka tetap utuh. Mereka cari pengganti Bhakim, cari Toni baru, dan dalam setahun semuanya berjalan lagi. Pasar Lama tetap busuk. Anak-anak tetap mati. Cuma nama-namanya yang ganti."
Sari duduk, memijit pelipisnya, gestur lama yang Reksa kenal sejak hari-hari pertama mereka bersekutu, jauh sebelum pelabuhan, jauh sebelum pengkhianatan dan penebusan. "Jadi kamu mau pakai iblis buat menangkap iblis yang lebih besar."
"Aku mau ini berhenti," kata Reksa. "Untuk selamanya. Bukan sampai pejabat berikutnya. Dan Toni satu-satunya yang tahu seberapa tinggi jaring ini naik. Dia bukan teman. Dia alat. Aku akan pastikan dia tetap diadili untuk semua yang dia lakukan, cuma dengan hukuman yang dipotong. Itu harganya. Aku benci harganya. Tapi aku lebih benci membiarkan yang di atas tetap duduk di kursinya."
Hening lama. Hujan sudah berhenti, dan dari kejauhan terdengar suara pasar mulai hidup, kota yang tak peduli pada dua buron yang sedang menimbang nasibnya di kamar sempit.
"Pram setuju?" tanya Sari akhirnya.
"Belum kutanya. Tapi Pram yang selalu bilang, kasus besar butuh saksi dari dalam. Saksi yang dilindungi secara sah, lewat lembaga perlindungan saksi, bukan janji preman. Kalau kita lakukan ini, kita lakukan dengan jalur hukum. Toni nggak masuk ke pengadilan lewat tangan kita. Dia masuk lewat penyidik bersih yang Pram kontak di Mabes. Resmi. Tercatat. Supaya nanti di sidang, kesaksiannya nggak bisa dibilang hasil tekanan buron."
Sari menatapnya lama, lalu sesuatu di wajahnya melunak, bukan persetujuan penuh, tapi kelelahan seorang yang sudah dua belas tahun melihat sistem busuk dan akhirnya mengakui bahwa kadang tidak ada pilihan yang bersih, hanya pilihan yang kurang busuk.
"Kalau kita salah," kata Sari pelan, "kalau Toni ini umpan Bhakim yang ketiga, kalau dia menyeret kita ke jebakan seperti dia menyeret kamu ke gang Hendarta, kita berdua mati. Dan kali ini nggak ada yang tersisa buat memperingatkan."
"Aku tahu," kata Reksa. Ia menatap kertas berisi nomor rekening itu, sekarang menjadi tali yang menghubungkan tangannya dengan tangan seorang bandar. "Makanya kita nggak percaya dia. Kita pakai dia. Itu beda. Selama kita ingat bedanya, kita masih punya kesempatan keluar dari ini sebagai polisi, bukan sebagai mereka."
Sari mengangguk perlahan. Lalu, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia menyalakan rokok dan berkata: "Hubungi Pram. Kita atur jalurnya. Tapi Reksa, satu hal. Iblis yang kamu ajak bersalaman ini, dia akan cari celah buat selamatkan dirinya sendiri dan menjual kita. Selalu. Jangan pernah berpaling membelakanginya."