Kabar itu sampai ke Reksa lewat jalur yang paling tidak ia duga: seorang kurir CV Bahari Jaya yang sudah dua minggu mereka pantau, mendadak meninggalkan amplop di bawah pot tanaman mati di teras kos kosong tempat Reksa dan Sari bersembunyi. Bukan ancaman. Sebuah nomor telepon prabayar dan satu kalimat tulisan tangan yang dicoret berkali-kali, seakan penulisnya ragu sampai detik terakhir: "Bos mau bicara. Sendiri. Bukan jebakan."
Reksa membaca kertas itu tiga kali di bawah cahaya lampu darurat. Hujan sore mengetuk seng. Sari berdiri di belakangnya, lengannya bersedekap, wajahnya yang masih menyimpan bekas lebam lama mengeras.
"Toni," kata Sari pelan, bukan pertanyaan. "Bandar nggak pernah cari polisi buron, Reksa. Kecuali dia merasa dirinya sebentar lagi jadi mayat."
Reksa tahu apa yang Sari maksud. Selama dua bulan terakhir, sejak dokumen CV Bahari Jaya bocor dan akuntan itu mulai bicara, ada gelombang halus yang merambat di bawah permukaan kota. Bhakim mulai membersihkan barisan. Dan dalam setiap pembersihan, selalu ada satu nama yang paling rentan dijadikan tumbal: orang yang tangannya paling kotor, yang paling mudah dikorbankan untuk menyelamatkan yang berseragam. Toni adalah nama itu. Bandar bisa diganti. Komisaris tidak.
Mereka bertemu di tempat yang Reksa pilih sendiri, bukan Toni: sebuah bengkel bubut tua di pinggiran, milik kerabat jauh Pak Wira, dengan dua pintu keluar dan tanpa sinyal kamera. Reksa datang lebih awal tiga jam, memeriksa setiap sudut, menempatkan diri membelakangi dinding, pintu dalam jangkauan mata. Sari menunggu di seberang jalan dalam mobil pinjaman, ponsel siap memanggil Pram bila ada yang salah.
Toni datang tanpa pengawal. Itu sendiri sudah mengatakan banyak hal. Lelaki kekar berambut disisir rapi yang dulu Reksa amati dari balik kontainer di pelabuhan kini tampak lebih kurus, kantung matanya menggantung. Kemeja mahalnya tetap rapi, tapi ada sesuatu yang tercerabut dari caranya berdiri.
"Kamu polisi yang nembak Hendarta," kata Toni, duduk di bangku kayu tanpa diundang. Bukan ejekan. Hampir seperti pengakuan. "Aku tahu mukamu. Aku yang suruh Goldra bawa kamu ke gang itu."
Reksa tidak bergerak. Tangannya tetap dekat pinggang, tempat ia menyelipkan pistol yang sudah lama tak ia daftarkan ke kantor mana pun. "Kamu datang buat mengaku, atau buat menjebak."
"Aku datang buat hidup." Toni menatapnya lurus. "Kamu pikir aku nggak tahu yang lagi terjadi? Bhakim lagi rapikan meja. Akuntan hilang, kurir hilang, dua anak buahku ditemukan di got. Bukan kamu yang bikin mereka mati, polisi. Dia. Dia bersih-bersih, dan aku ada di daftar. Begitu kasus ini meledak, dia butuh satu orang buat dilempar ke depan. Bandar. Penjahat. 'Polisi tergiur uang, oknum, kasus selesai.' Aku jadi sampul majalahnya, dia jadi pensiunan terhormat."
Reksa membaca wajah itu lama. Ia sudah belajar membaca ketakutan; ia melihatnya di Dimas, di Pak Wira, di matanya sendiri saat bercermin di pagi-pagi buron. Ketakutan Toni nyata. Tapi naluri anak pedagang itu, yang selalu menghitung sebelum percaya, menolak lengah.
"Apa yang kamu mau," kata Reksa.
"Keringanan." Toni mencondongkan badan. "Aku punya semua. Rekening, nomor, tanggal setoran, nama-nama di atas Bhakim yang bahkan dia takut sebut. Aku bukan cuma jual ke pengedar kecil, polisi. Aku tahu uangnya naik sampai mana. Aku kasih kamu semua itu. Tapi aku mau jaminan. Saksi mahkota. Hukuman dipotong. Dan keluarga aku dijaga sampai sidang selesai."
Reksa diam. Di kepalanya, Sari berbisik dari ingatan dua bulan lalu: bandar yang gelisah itu retak pertama di benteng. Dan Pram, lewat saluran terenkripsi, pernah berkata bahwa kasus korupsi tidak runtuh dari luar, ia runtuh dari dalam, ketika orang-orang busuk mulai saling memakan.
Tapi Reksa juga ingat Dimas. Dimas yang ketakutan, Dimas yang janji menyerahkan rekaman besok malam jam sembilan, Dimas yang tak pernah sampai. Mempercayai orang yang ketakutan adalah cara tercepat untuk menambah satu mayat lagi di daftar.
"Kenapa aku," tanya Reksa akhirnya. "Aku buron. Aku nggak bisa jamin apa-apa. Aku bahkan nggak bisa jamin nyawaku sendiri sampai besok pagi."
Toni tersenyum, senyum getir orang yang sudah kehabisan pilihan. "Justru karena itu. Yang punya seragam, yang punya pangkat, semua sudah dibeli Bhakim. Cuma kamu yang nggak bisa dia beli. Seluruh kota tahu itu sekarang. Itu kenapa kamu masih lari. Kalau aku mau selamat, aku harus taruh nyawaku di tangan satu-satunya orang yang nggak dia kendalikan."
Reksa menatap lelaki di depannya, bandar terbesar Garumi, otak banyak nyawa yang hilang, kini meminta perlindungan dari seorang bripda buron. Ironi itu pahit di lidahnya. Di luar, gerimis berubah menjadi hujan, dan dari kejauhan, sirene sebuah ambulans melolong, naik dan turun, lalu lenyap ditelan kota.
"Aku nggak bisa janji apa-apa malam ini," kata Reksa pelan. "Tapi aku kenal orang yang bisa atur jalurnya. Jalur yang nggak lewat kantor mana pun di kota ini. Kalau kamu serius, kamu kasih aku satu hal dulu, sekarang, sebagai tanda. Sesuatu yang bisa aku cek sendiri."
Toni menatapnya lama. Lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan secarik kertas dari saku, satu nomor rekening dan satu tanggal. "Cek setoran ini. Akhir bulan lalu. Kamu akan tahu aku nggak main-main." Ia berdiri, menatap pintu, lalu menoleh sekali lagi. "Cepat, polisi. Aku nggak tahu berapa lama lagi aku punya."
Reksa memandang pintu yang menutup di belakang Toni, kertas dingin di tangannya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasakan sesuatu yang berbahaya: harapan.