Foto-foto buku biru itu mengubah segalanya. Selama tiga malam, di rumah kontrakan kampung nelayan, Reksa dan Sari menyusun ulang seluruh peta keuangan, mencocokkan nama dan nomor rekening dari buku biru dengan dokumen Lendra, dengan amplop bernomor seri dari Goldra dan dari Sari, dengan rekaman suara. Untuk pertama kalinya, garis-garis yang selama ini putus-putus mulai menyambung jadi satu jaring utuh. Dan di puncak jaring itu, bukan lagi kotak kosong dengan tanda tanya seperti di bagan Lendra, melainkan sebuah nama dengan nomor rekening yang menerima setoran terbesar.
Tapi mereka belum mengucapkan nama itu keras-keras. Bahkan di antara mereka berdua. Seolah Lendra benar, seolah ada kekuatan dalam nama itu yang membuat mengucapnya saja berbahaya.
Yang Reksa amati dengan saksama dalam minggu-minggu itu bukan jaring di atas kertasnya, melainkan tingkah laku musuhnya. Lewat Sari, yang masih punya telinga di dalam kantor, dan lewat Pram, yang punya jaringan di luar, Reksa membaca tanda-tanda bahwa Bhakim mulai panik.
Itu terlihat dari hal-hal kecil yang justru paling berbicara. Bhakim yang biasanya tenang, yang menabur keraguan dengan senyuman, mulai bertindak ceroboh. Ia memerintahkan mutasi mendadak terhadap dua anggota Polsek yang ia curigai bocor, padahal keduanya tak ada hubungan dengan Reksa, satu langkah yang justru menanam benih ketidakpuasan di kantornya sendiri. Ia memperketat akses arsip secara berlebihan, sampai-sampai membuat anggota yang netral pun bertanya-tanya apa yang sedang ia sembunyikan. Dan yang paling penting, kata Sari, Bhakim mulai memanggil Goldra ke ruangannya hampir tiap hari, pintu tertutup, suara meninggi yang sesekali bocor ke lorong. Retak mulai muncul di antara mereka.
"Dia ketakutan," kata Sari, malam itu, sambil menatap layar laptop tua yang menampilkan susunan bukti mereka. "Aku kenal Bhakim dua belas tahun. Dia tidak pernah ceroboh. Ketenangan itu senjatanya. Kalau dia mulai ceroboh, artinya dia merasa tanah di bawahnya bergerak. Dia tahu ada yang menggali sesuatu yang besar, dia cuma belum tahu persis apa, dan ketidaktahuan itu yang membuatnya panik."
Reksa mengangguk pelan. Ia pernah membaca sesuatu di akademi, atau mungkin dari Pram, bahwa musuh yang paling berbahaya bukan yang kuat, melainkan yang terdesak. Orang yang terdesak membuat kesalahan. Tapi orang yang terdesak juga berbahaya, karena ia bisa melakukan hal-hal nekat yang tak akan dilakukan orang yang merasa aman.
"Itu pisau bermata dua," kata Reksa. "Setiap kesalahan cerobohnya menambah bukti untuk kita. Mutasi mendadak itu meninggalkan jejak. Perintah tertulis. Anggota yang dia singkirkan yang sakit hati. Itu semua bisa jadi saksi, bisa jadi dokumen. Dia sedang menggali kuburnya sendiri sambil mengira menutup celah." Ia berhenti, menatap ke kegelapan di luar jendela. "Tapi semakin terdesak dia, semakin nekat dia. Dan orang yang dia singkirkan untuk menutup celah, mereka dalam bahaya. Pembersihan internal yang ceroboh itu artinya akan ada lagi orang yang 'hilang'. Mungkin orang yang tidak bersalah, hanya kebetulan dicurigai."
Sari menatapnya. "Lalu apa yang kita lakukan?"
Reksa menimbang lama. Naluri lamanya, naluri buron, mengatakan: tunggu. Biarkan Bhakim menggali kuburnya lebih dalam, kumpulkan setiap kesalahannya, jangan bergerak sebelum jaring benar-benar lengkap. Itu cara yang aman. Itu cara yang membuat mereka berdua tetap hidup.
Tapi ada suara lain, suara yang lebih keras malam ini. Suara informan muda yang dibawa pergi Goldra di malam yang nyaris membuatnya melewati garis merah. Suara semua orang kecil yang akan jadi tumbal kepanikan Bhakim sementara mereka menunggu jaring sempurna. Reksa pernah menunggu sekali, dan menunggu itu membuat Dimas mati.
"Kita tidak bisa hanya menunggu dia menggali kuburnya, sementara dia melempar orang lain ke kubur itu duluan," kata Reksa akhirnya. Ia menatap Sari. "Kita harus mulai mengarahkan kepanikannya. Bukan menunggu kesalahannya, tapi memancingnya membuat kesalahan yang kita pilih, di tempat yang kita awasi, di waktu yang kita tahu. Dia panik karena dia tidak tahu apa yang kita tahu. Selama dia buta, dia berbahaya secara acak. Kalau kita beri dia sesuatu untuk dikejar, sesuatu yang salah, dia akan bergerak ke arah yang kita inginkan."
Sari menatapnya lama, dan perlahan, sudut bibirnya naik, senyum tipis pertama yang Reksa lihat darinya dalam waktu yang lama. "Umpan," katanya. "Kamu mau memberinya umpan. Seperti loker 114."
"Seperti loker 114," Reksa mengangguk. Cara yang sama yang menyelamatkannya di malam pengkhianatan, kini ia balikkan jadi senjata. "Mereka selalu memantau kita. Selama ini itu kelemahan kita. Sekarang kita jadikan itu kelemahan mereka. Kita beri mereka sesuatu untuk dilihat. Sesuatu yang membuat Bhakim, dalam kepanikannya, melakukan persis apa yang kita butuhkan dia lakukan."
Di luar, hujan Garumi turun lagi, halus dan tak henti. Dan jauh di tengah kota, di sebuah ruangan dengan lukisan kapal layar dan jam tangan mahal, seorang komisaris yang dulu tak pernah berkeringat kini, untuk pertama kalinya dalam tahun-tahun yang panjang, mungkin sedang terjaga di balik senyumnya, merasakan tanah di bawah kursinya yang nyaman mulai bergeser tanpa ia tahu dari arah mana.