Mereka tidak bisa menunggu surat. Itu masalah yang Reksa benci paling dalam. Sebagai polisi, ia tahu betul bagaimana seharusnya: penggeledahan butuh surat perintah, surat butuh penyidik resmi, penyidik resmi di Garumi adalah bagian dari jaring yang ingin ia jatuhkan. Begitu permohonan surat penggeledahan ke CV Bahari Jaya bergerak lewat saluran resmi, Bhakim akan tahu dalam hitungan jam, dan buku biru itu akan lenyap, dibakar, sebelum tinta surat itu kering. Sama persis seperti operasi-operasi yang selalu bocor.
Maka mereka melakukan apa yang Reksa tahu salah secara prosedur, dan yang membuatnya terjaga semalaman menimbang-nimbang. Bukti yang diperoleh tanpa surat tidak akan diterima di pengadilan. Itu hukum acara, dan Reksa, meski buron, masih percaya pada hukum acara, karena tanpa itu ia tidak lebih baik dari Goldra. Tapi Pram dan mantan polisi bersih itu memberinya jalan tengah yang membuatnya bisa tidur, walau sedikit.
"Kita tidak mengambil buku itu untuk dijadikan barang bukti di pengadilan," jelas Pram lewat saluran terenkripsi. "Kita mengambilnya untuk memetakan apa yang ada di dalamnya, untuk tahu persis nomor rekening, tanggal, nama. Lalu, ketika tim penyidik bersih dari luar Garumi sudah siap, mereka yang akan datang dengan surat yang sah, langsung ke titik yang sudah kita tahu, sebelum sempat dibocorkan. Kita bukan mencuri buktinya. Kita memetakan supaya bukti yang sah bisa diambil tepat sasaran sebelum dimusnahkan. Kesaksian Bu Karsih yang akan jadi dasar sah surat itu, bukan tindakan kita malam ini."
Reksa tidak sepenuhnya nyaman dengan logika itu. Garis antara memetakan dan mencuri tipis, dan ia tahu, di pengadilan nanti, garis itu akan diserang pengacara mahal. Tapi ia juga tahu, kalau ia menunggu cara yang benar-benar bersih, buku biru itu akan hilang, dan Bu Karsih, yang sudah mempertaruhkan nyawanya, akan jadi satu-satunya nama yang tertinggal saat semua atasannya menyangkal. Ia memilih jalan tengah, dan ia menyimpan rasa tidak nyaman itu di tempat yang sama dengan semua harga lain yang sudah ia bayar.
Bu Karsih, yang masih punya akses ke kantor sebagai akuntan, memberi mereka denah dan jadwal. Brankas ada di ruang belakang. Toni jarang ke kantor di hari biasa; ia muncul akhir bulan untuk setoran. Satpam malam adalah seorang lelaki tua yang tidur lebih sering daripada berjaga, dan kamera pengawas kantor itu, ironisnya, terhubung ke sistem yang sama yang dipakai jaringan Bhakim untuk memantau, yang berarti kalau menyala, justru jadi mata musuh, bukan mata hukum.
Maka rencananya bukan menyusup seperti maling, melainkan menggunakan akses Bu Karsih di siang hari, di jam kerja, ketika seorang akuntan masuk ke ruang brankas adalah hal paling biasa di dunia. Bu Karsih akan membuka brankas dengan kombinasi cadangan yang ia tahu, memotret setiap halaman buku biru dengan kamera kecil, lalu mengembalikannya. Tidak ada yang hilang. Tidak ada jejak. Hanya cahaya yang dipantulkan dari kertas ke lensa.
Reksa dan Sari berjaga di luar, di dalam mobil pinjaman yang diparkir di seberang jalan, terhubung ke Bu Karsih lewat earphone kecil. Reksa membenci ini juga, mengirim seorang perempuan paruh baya yang ketakutan masuk ke kandang singa sementara ia hanya bisa menunggu di luar. Itu mengingatkannya pada Dimas, pada setiap saksi rapuh yang ia kirim ke bahaya dan tidak bisa ia lindungi sepenuhnya.
"Saya sudah di depan brankas," suara Bu Karsih bergetar di earphone. "Tangan saya gemetar. Saya tidak bisa pegang kameranya."
"Bisa, Bu," kata Reksa, tenang. "Tarik napas. Bayangkan ini cuma audit biasa. Ibu sudah lakukan ini ribuan kali. Bedanya, hari ini Ibu mengaudit kebenaran. Pelan-pelan. Halaman per halaman. Saya temani."
Detik-detik berikutnya terasa seperti jam. Lewat earphone, Reksa mendengar napas Bu Karsih, bunyi lembaran kertas dibalik, klik halus kamera. Sari di sampingnya mengawasi jalan, satu tangan di kunci kontak, siap kabur kapan saja. Sebuah mobil lewat, dan jantung Reksa berhenti, tapi mobil itu hanya lewat.
Lalu suara yang membuat darahnya membeku. Lewat earphone, samar, suara pintu kantor yang dibuka. Suara langkah. Dan suara Toni, berat, dekat: "Bu Karsih? Tumben jam segini di ruang brankas."
Reksa mencengkeram setir. "Tetap tenang, Bu," bisiknya ke mikrofon, sepelan mungkin. "Ibu akuntan. Ibu memang kerja di sana. Jawab biasa."
Hening yang panjang dan mengerikan. Lalu suara Bu Karsih, gemetar tapi entah dari mana mengumpulkan keberanian, terdengar hampir wajar: "Eh, Pak Toni. Iya, ini lagi cocokin angka setoran bulan kemarin, ada selisih sedikit di catatan. Saya nggak mau Bapak rugi gara-gara salah catat saya."
Reksa menahan napas. Di seberang sana, di kandang singa, seorang perempuan paruh baya sedang berbohong di depan bandar narkoba terbesar kota ini dengan satu kamera berisi kebenaran di tangannya.
"Hmm." Suara Toni, menimbang. "Ya sudah. Cepat selesaikan. Saya mau pakai ruang itu sebentar lagi."
Langkah Toni menjauh. Bu Karsih mengembuskan napas yang terdengar sampai ke earphone, napas orang yang baru saja melewati pintu maut. Beberapa menit kemudian, suaranya kembali, lemah, "Sudah. Semua halaman. Buku sudah saya kembalikan. Brankas sudah saya kunci. Saya... saya keluar sekarang."
Reksa memejamkan mata, lega yang membuat tubuhnya lemas. "Bagus, Bu. Keluar biasa saja. Jangan terburu-buru. Kami di seberang."
Ketika Bu Karsih akhirnya keluar dari gedung itu, melangkah dengan kaki yang nyaris tak menapak, dan menyeberang ke mobil mereka, Reksa membuka pintu untuknya. Perempuan itu jatuh ke jok belakang dan menangis, tubuhnya berguncang, melepaskan teror yang ia tahan selama setengah jam terpanjang dalam hidupnya. Di tangannya, terkepal erat, kamera kecil berisi seluruh peta keuangan kebusukan Garumi, termasuk nama dan nomor rekening tangan di atas tangan.
Sari menjalankan mobil, pelan, tidak menarik perhatian, menjauh dari kantor CV Bahari Jaya. Reksa menoleh ke belakang, menatap Bu Karsih yang masih terisak, dan merasa campuran rasa bersalah dan syukur yang sudah ia kenal terlalu baik.
"Ibu sudah aman sekarang," katanya. "Dan Ibu baru saja melakukan apa yang tidak berani dilakukan seluruh kota selama bertahun-tahun."