"Kamu menolak amplopnya?" Sari hampir menumpahkan kopinya. Mereka duduk di mobil pribadi Sari, sebuah sedan tua, diparkir di pojok lapangan parkir sebuah pusat perbelanjaan yang ramai. Tempat ramai justru paling aman; tak ada yang memperhatikan dua orang yang mengobrol di tengah keramaian.
"Aku tidak bisa menerimanya," kata Reksa. "Kamu tahu apa artinya."
Sari memijit pelipisnya. "Aku tahu. Tapi astaga, Reksa. Menolak suap dari Bhakim itu sama saja kamu memasang target di punggung kamu sendiri. Sekarang mereka tahu kamu nggak bisa dibeli. Dan orang yang nggak bisa dibeli, di dunia mereka, cuma punya satu nasib."
Reksa menatap ke luar jendela, ke arah keluarga-keluarga yang berjalan masuk ke mal sambil tertawa, hidup biasa, dunia normal yang terasa begitu jauh. "Makanya aku butuh kamu, Sari. Aku nggak bisa sendirian. Kamu satu-satunya orang di kantor itu yang aku percaya."
Sari diam lama. Ia menyalakan rokok, membuka sedikit kaca jendela, membiarkan asap mengalir keluar. "Kamu tahu kenapa aku masih di sini setelah dua belas tahun? Padahal aku bisa pindah, bisa cari posisi nyaman. Karena Lendra itu sahabatku. Dan waktu dia mati, aku diam. Aku takut. Aku punya ibu yang sakit, aku punya tanggungan. Jadi aku diam, dan aku menyesalinya setiap hari sejak itu."
Ia menoleh ke Reksa, matanya basah tapi tegas. "Aku nggak mau diam dua kali. Tapi kalau kita lakukan ini, kita lakukan dengan benar. Bukan jadi pahlawan yang mati konyol. Kita kumpulkan bukti. Bukti yang kuat, yang nggak bisa dibantah, yang bisa kita bawa ke luar, ke instansi yang lebih tinggi, ke pers kalau perlu. Karena melawan dari dalam kantor sendiri itu bunuh diri."
Reksa mengangguk, merasakan beban di dadanya sedikit terangkat. Untuk pertama kalinya sejak hari pertamanya, ia tidak sendirian. Sekejap ia hampir menyebut Pram, kontak lamanya di luar yang barangkali bisa membantu. Tapi sesuatu menahannya, naluri lama yang sama yang membuat Pram dulu berpesan agar tidak membagi nomor itu kepada siapa pun. Ia simpan kartu itu, bahkan dari Sari. Untuk sekarang.
"Apa yang kita punya sekarang?" tanya Sari, beralih menjadi seorang penyidik yang dingin dan terlatih.
"Pola operasi yang bocor. Selisih barang bukti yang dimusnahkan. Pengedar besar yang dilepas. Semua mengarah ke meja Bhakim," kata Reksa. "Tapi itu semua bukti tidak langsung. Pengacara mana pun bisa membantahnya. Aku butuh sesuatu yang menghubungkan Bhakim langsung ke Toni. Uang. Komunikasi. Pertemuan. Sesuatu yang nyata."
"Toni." Sari mengembuskan asap. "Aku tahu di mana dia biasa beroperasi. Ada gudang di kawasan pelabuhan lama, di belakang deretan kontainer karatan. Tempat itu kelihatan terbengkalai, tapi malam hari ada aktivitas. Aku pernah ikut operasi yang menyasar ke sana, tiga tahun lalu. Operasi itu dibatalkan di menit terakhir. Sekarang aku tahu kenapa."
"Kita harus ke sana," kata Reksa.
"Pelan-pelan." Sari mematikan rokoknya. "Kita observasi dulu. Catat siapa yang datang, siapa yang pergi, plat mobil, jam. Kita bangun gambaran utuh sebelum ambil risiko. Dan satu hal lagi." Ia menatap Reksa tajam. "Mulai sekarang, kita tidak pernah membahas ini di kantor. Tidak lewat telepon dinas. Tidak lewat sistem internal. Anggap semua yang ada di kantor itu mendengar. Karena memang begitu."
Reksa mengangguk. Mereka menyusun rencana sederhana: bergiliran mengamati gudang pelabuhan dari kejauhan, di luar jam dinas, dengan kamera dan buku catatan. Tidak ada yang akan tahu. Tidak ada yang boleh tahu.
Saat Reksa turun dari mobil dan berjalan kembali ke motornya, ia merasakan sesuatu yang aneh, sebuah perasaan diawasi. Ia menoleh. Lapangan parkir penuh orang, tak ada yang mencurigakan. Tapi perasaan itu tidak hilang.
Jauh di seberang lapangan parkir, di dalam sebuah mobil gelap berkaca film, seseorang menurunkan kamera. Foto Reksa dan Sari, duduk bersama, mengobrol terlalu lama, sudah tersimpan. Foto itu, dalam hitungan jam, akan sampai ke meja kayu mengilap di lantai dua.