Namanya Bu Karsih, perempuan berusia lima puluhan dengan kacamata tebal dan jari-jari yang sudah belasan tahun mengetuk kalkulator. Ia bukan Bu Henny, pegawai administrasi yang dulu hilang kontak sebelum sempat bicara; Karsih akuntan senior yang berbeda, yang justru memegang pembukuan asli, buku biru yang tak pernah Henny sentuh. Ia adalah akuntan CV Bahari Jaya, dan ia datang kepada mereka bukan karena keberanian, melainkan karena ketakutan yang lebih besar dari ketakutannya pada Toni: ketakutan bahwa namanya, sebagai penanda tangan pembukuan, akan jadi satu-satunya nama yang tertinggal saat semua atasannya melarikan diri.
Pram yang mengaturnya, lewat mantan polisi bersih yang kini di lembaga bantuan hukum, yang menawarkan Bu Karsih sesuatu yang tak pernah ditawarkan Toni kepada siapa pun: perlindungan hukum yang nyata, status saksi yang dilindungi, jaminan bahwa kalau ia bicara lebih dulu dan jujur, ia tidak akan jadi tumbal terakhir. Reksa belajar dari Pram bahwa beginilah cara membangun kasus yang benar: bukan dengan memaksa, tapi dengan menawarkan jalan keluar yang lebih masuk akal daripada tetap diam.
Mereka bertemu di kantor lembaga bantuan hukum di kota sebelah, tiga jam perjalanan dari Garumi, di ruangan dengan pintu yang bisa dikunci dan saksi yang sah. Ini berbeda dari pertemuan-pertemuan gelap Reksa selama ini, di warung tuli atau gudang gelap. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedang melakukan ini dengan benar, dengan cara seorang penyidik sungguhan, bukan buron yang menggali di kegelapan. Ada pengacara di ruangan itu. Ada perekam yang sah. Ada berita acara.
"Saya hanya akuntan," kata Bu Karsih, suaranya bergetar, tangannya meremas tisu sampai hancur. "Saya cuma mencatat angka yang diberikan ke saya. Saya tidak pernah lihat barangnya. Saya tidak pernah lihat narkobanya. Saya bersumpah."
"Tidak ada yang menuduh Ibu lihat barangnya," kata Reksa, sabar, dengan nada yang ia pelajari menenangkan korban. "Tapi Ibu lihat angkanya. Dan angka, Bu, kadang lebih jujur dari mata."
Lalu Bu Karsih bicara, dan apa yang keluar dari mulutnya selama tiga jam berikutnya adalah peta keuangan dari sebuah kebusukan yang dirancang dengan sangat rapi.
CV Bahari Jaya, katanya, punya dua pembukuan. Satu yang bersih, untuk pajak dan inspeksi, mencatat ekspor hasil laut yang masuk akal. Dan satu lagi, yang ia sebut "buku biru" karena sampul map-nya biru, yang mencatat arus uang yang sebenarnya. Di buku biru itu, pemasukan jauh melampaui penjualan ikan mana pun yang masuk akal. Uang masuk dalam jumlah besar, tunai, dicatat sebagai "pembayaran pelanggan" dengan nama-nama pelanggan yang, kalau dicek, tidak punya alamat atau tidak pernah ada.
"Lalu uang itu ke mana, Bu?" tanya Reksa.
Bu Karsih menelan ludah. "Sebagian besar disetor ke yayasan. Yayasan amal itu. Dicatat sebagai sumbangan sosial perusahaan, supaya kelihatan dermawan, supaya dapat potongan pajak juga. Tapi saya yang harus mengatur supaya angkanya pas. Dan dari yayasan, saya tahu karena saya juga bantu pembukuan yayasan diam-diam, uang itu keluar lagi. Sebagian benar-benar jadi sembako, untuk foto-foto itu. Tapi sebagian besar, keluar sebagai 'biaya operasional', 'honor pengurus', 'biaya kegiatan', ke rekening-rekening pribadi."
"Rekening siapa?"
Bu Karsih menatap ke pintu, lalu ke pengacara di sampingnya, yang mengangguk meyakinkan. Lalu, dengan suara nyaris berbisik, ia menyebut nama. Nama istri Bhakim. Lalu beberapa nama lain yang Reksa catat satu per satu, tangannya stabil meski jantungnya berdebar. Dan di antara nama-nama itu, satu yang membuat Reksa berhenti menulis.
"Tunggu, Bu," kata Reksa pelan. "Ulangi nama yang tadi. Yang sebelum terakhir."
Bu Karsih mengulanginya. Sebuah nama yang asing bagi Reksa, tapi inisialnya bukan. Reksa menatap buku catatannya, ke dua huruf yang ia tulis dari bagan tangan Lendra tiga tahun lalu. AP.
"Rekening ini," kata Reksa, mencoba menjaga suaranya datar, "menerima paling besar?"
Bu Karsih mengangguk pelan. "Yang itu beda dari yang lain. Yang lain saya tahu siapa. Istri bos, pengurus yayasan, orang-orang yang saya pernah lihat. Tapi yang itu, saya tidak pernah tahu orangnya. Saya cuma diberi nomor rekening dan diperintah, 'ini prioritas, jangan pernah telat, jangan pernah tanya'. Tiap bulan, jumlah paling besar, ke rekening itu. Saya tanya sekali ke bos siapa ini, dan dia... dia bilang ke saya, 'Bu Karsih, ada nama yang lebih baik Ibu lupakan daripada Ibu ingat. Yang ini salah satunya.'"
Ruangan itu hening. Reksa menatap nama dan nomor rekening yang baru saja ia tulis. Tangan di atas tangan. Nama yang tidak diucapkan. Orang yang menerima setoran terbesar, lebih besar dari istri Bhakim sendiri, lebih besar dari Toni, dari rekening yang bahkan pemilik CV Bahari Jaya pun memperingatkan akuntannya untuk melupakan.
Bukan Bhakim puncaknya. Lendra benar.
Reksa menutup buku catatannya pelan. Di seberang meja, Bu Karsih masih meremas tisu, tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan, dalam satu nama dan satu nomor rekening, potongan teka-teki yang dicari Lendra sampai mati, dicari Reksa sampai jadi buron, dan ditakuti seluruh kota selama bertahun-tahun.
"Bu Karsih," kata Reksa akhirnya, suaranya lembut, "Ibu baru saja melakukan hal paling berani yang pernah saya lihat. Dan saya berjanji, dengan nama saya, Ibu tidak akan jadi tumbal terakhir. Tapi sekarang kita butuh satu hal lagi. Buku biru itu. Yang asli. Saya butuh dokumennya, bukan hanya kesaksian Ibu."
Bu Karsih menatapnya dengan mata yang penuh ketakutan baru. "Buku biru itu ada di brankas, di kantor CV Bahari Jaya. Toni yang pegang kuncinya."