Mereka menemukan Goldra lebih cepat dari rencana, dan dalam keadaan yang membuat Reksa nyaris melewati batas yang ia kira tak akan pernah ia lewati.
Itu bermula dari kerja Sari yang melacak rute setoran. Sari, dengan jaringan lamanya, mengetahui bahwa Goldra masih menjalankan kebiasaan akhir bulan: mengambil amplop dari Toni di sebuah rumah makan padang di pinggir jalan lintas, lalu meneruskannya ke atas. Reksa dan Sari mengamati dari mobil pinjaman, dari jarak aman, hanya untuk mencatat pola. Itu rencananya. Hanya mengamati.
Tapi malam itu, Reksa melihat sesuatu yang merobek rencananya. Dari rumah makan itu, Goldra keluar bukan sendiri. Ia menyeret seseorang, seorang lelaki muda kurus yang Reksa kenali sekilas dari pasar, salah satu informan kecil yang pernah memberi mereka petunjuk soal kurir. Lelaki itu ketakutan, wajahnya berdarah. Goldra mendorongnya masuk ke mobil, dan dari gerak tubuhnya, dari cara dua orang Toni menutup pintu, Reksa tahu lelaki itu tidak akan pulang malam ini.
Sesuatu di dalam dada Reksa pecah. Bukan ketakutan. Bukan strategi. Hanya kemarahan murni, mentah, jenis yang membuat tangan bergerak sebelum kepala memutuskan. Ia membuka pintu mobil.
"Reksa, jangan." Tangan Sari mencengkeram lengannya, keras. "Kalau kamu turun sekarang, kita berdua mati, dan anak itu tetap mati. Kamu paham? Tetap mati."
Tapi Reksa nyaris tidak mendengarnya. Di kepalanya berputar wajah Hendarta yang sekarat di selokan, wajah Dimas yang tidak pernah ia lihat mati tapi ia tahu mati karena ketakutan, wajah informan-informan kecil yang dihabisi satu per satu, orang-orang yang tidak punya kuasa apa-apa, hanya kesialan tahu terlalu banyak. Dan di pusat semua itu, Goldra. Lelaki tambun bau kopi dan rokok yang menyeretnya ke gang di hari pertamanya, yang membiarkannya jadi pelatuk pembunuhan tanpa ia tahu, yang melapor setiap gerakannya ke Bhakim. Reksa memegang pistolnya, pistol yang ia simpan sejak hari pertama, dan untuk satu detik yang panjang dan gelap, ia membayangkan dengan sangat jelas berjalan ke seberang jalan dan mengakhiri semuanya dengan satu tarikan pelatuk.
Akan begitu mudah. Akan begitu adil, dengan cara yang sederhana dan kotor.
"Reksa." Suara Sari menembus, lebih tajam sekarang, hampir membentak tapi ditahan supaya tidak terdengar keluar. "Lihat aku. Kalau kamu lakukan itu, kamu jadi mereka. Persis seperti mereka. Kamu pikir kamu menembak Goldra, tapi sebenarnya kamu menembak diri kamu yang dulu menolak amplop di lantai dua. Dan kamu membuang semua kerja Lendra. Semua kerja Dimas. Semua yang dipertaruhkan Pram. Untuk apa? Untuk satu sampah tua yang akan diganti besok juga oleh sampah yang lain."
Tangan Reksa yang memegang pistol gemetar. Lewat kaca depan ia melihat mobil Goldra menyalakan mesin, lampu menyala, dan perlahan menjauh, membawa nyawa seorang anak muda yang tak akan pernah ia selamatkan malam ini.
Itu bagian yang paling sulit. Bukan menahan diri menembak Goldra. Tapi membiarkan mobil itu pergi, membiarkan orang yang tidak bersalah dibawa ke kematian, demi sebuah perhitungan yang dingin tentang kemenangan yang lebih besar. Reksa menatap lampu belakang mobil itu mengecil di kegelapan jalan lintas, dan ia merasa sebagian dari jiwanya ikut mengecil bersamanya.
Ia menutup pintu mobil. Pelan. Tangannya kembali memasukkan pistol ke pinggang. Napasnya tersengal seperti orang yang baru saja lari jauh, padahal ia tidak bergerak sama sekali.
"Anak itu," kata Reksa, suaranya pecah. "Aku yang menarik dia jadi informan. Dia mati karena aku."
"Tidak," kata Sari, tegas, tangannya masih di lengan Reksa. "Dia mati karena Goldra. Karena Toni. Karena Bhakim. Karena tangan di atas Bhakim. Jangan kamu ambil dosa mereka jadi dosamu, karena kalau kamu lakukan itu, kamu akan hancur sebelum sempat menjatuhkan mereka. Dan kalau kamu hancur, mereka menang. Semua orang yang sudah mati, mati sia-sia." Ia melonggarkan cengkeramannya, tapi tidak melepaskannya. "Kamu boleh menangisi anak itu. Kamu harus, malah, karena polisi yang tidak lagi bisa menangisi korban sudah jadi bagian dari mesin pembunuh. Tapi tangis itu jadikan bahan bakar, bukan racun."
Reksa duduk diam dalam mobil yang gelap, mendengar gerimis mengetuk atap, dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya bercerita soal perampokan yang tak pernah diadili, ia menangis. Tanpa suara. Air mata mengalir di wajah seorang lelaki yang sudah terlalu lama tidak membiarkan dirinya merasakan apa pun selain waspada.
Lalu ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan, dan ketika ia bicara lagi, suaranya kembali rata, kembali jadi suara seorang penyidik.
"Catat pelat mobil tadi. Catat jam. Catat nama rumah makannya. Anak itu akan jadi nama di daftar orang hilang yang kita susun." Ia menatap ke jalan yang sudah kosong. "Dan suatu hari, di ruang sidang, namanya akan disebut. Bukan oleh peluruku. Oleh aturan yang sama yang mereka kira tidak akan pernah menyentuh mereka."
Sari menatapnya lama, lalu mengangguk, dan menyalakan mesin. Mereka pergi dari sana, meninggalkan rumah makan padang yang lampunya masih menyala, membawa garis merah yang nyaris dilewati Reksa malam itu, garis yang akan ia jaga dengan susah payah sampai akhir.