Telepon itu datang dari ibunya, lewat nomor tetangga di kampung, karena ponsel keluarga Reksa sudah lama ia minta jangan dipakai untuk menghubunginya. Suara ibunya bergetar, mencoba terdengar tenang tapi gagal.
"Nak, ada orang ke sini. Dua orang. Pakai mobil bagus. Katanya teman kerjamu. Mereka tanya-tanya kamu di mana. Bapakmu bilang nggak tahu, kamu lagi tugas jauh. Tapi mereka... mereka sopan, Nak, tapi cara mereka bicara itu, ibu nggak suka. Salah satunya, sebelum pergi, dia bilang ke bapakmu, 'Pak, jaga kesehatan ya. Toko bapak yang di pasar itu bagus, sayang kalau kenapa-kenapa.' Bapakmu sampai nggak bisa tidur, Nak."
Reksa menggenggam ponsel sampai buku-buku jarinya memutih. Toko bapaknya. Pedagang kecil yang dulu pernah dirampok dan tak pernah mendapat keadilan, yang seluruh hidupnya adalah lapak itu, yang justru menjadi alasan Reksa memakai seragam ini sejak awal. Sekarang mereka menyentuhnya. Bukan dengan tembakan. Dengan satu kalimat sopan tentang kesehatan dan sebuah toko. Cara mereka selalu begitu: tidak pernah tangan sendiri yang kotor, tidak pernah ancaman yang bisa dilaporkan, hanya bisikan yang membuatmu sendiri yang membayangkan kengeriannya.
"Bu, dengar," kata Reksa, memaksa suaranya tenang, suara yang ia pakai untuk menenangkan korban di tempat kejadian. "Mereka nggak akan ganggu Bapak. Mereka cuma mau menakuti. Tapi untuk aman, ibu sama bapak ikut saran ini ya. Tutup toko beberapa hari. Pergi ke rumah Bulik di kota sebelah. Bilang ke tetangga mau jenguk saudara sakit. Jangan bawa HP yang biasa. Nanti aku kirim orang yang bisa dipercaya untuk jagain. Percaya sama aku, Bu."
Setelah menutup telepon, Reksa duduk diam lama. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena marah, marah jenis dingin yang lebih berbahaya dari panas. Ini perang yang ia bawa pulang ke pintu orang tuanya. Pram sudah memperingatkannya persis seperti ini: mereka akan berhenti membungkammu dengan teror, dan mulai membungkam orang-orang di sekitarmu.
Ia mengabari Pram. Balasan Pram datang, dan kali ini ada nada baru di dalamnya, nada orang yang juga sedang berdarah.
"Mereka juga sampai ke orang-orangku, Reksa. Editorku ditelepon. Bukan ancaman langsung. Cuma 'saran' supaya berhati-hati memilih liputan. Dan ibu kosku, perempuan tua yang baik, didatangi orang yang pura-pura mencari kamar, tapi sebenarnya memetakan siapa yang keluar masuk. Ini polanya. Mereka tidak menyerang kita. Mereka mengepung orang-orang yang membuat kita masih punya alasan untuk takut. Karena orang yang tidak punya apa-apa untuk dilindungi adalah orang paling berbahaya, dan mereka tahu itu. Mereka ingin kita punya banyak yang harus dilindungi, supaya kita memilih mundur demi melindunginya."
Reksa membaca pesan itu, dan untuk sesaat, godaan itu nyata. Mundur. Tutup mulut. Biarkan kota ini busuk dengan caranya sendiri, asal Bapak aman, asal Ibu bisa tidur. Bukankah itu yang dilakukan Sari selama tiga tahun, demi ibunya? Bukankah itu manusiawi?
Tapi lalu ia teringat sesuatu yang Sari katakan, jauh sebelum mereka jadi buron, di mobil tua di lapangan parkir mal: kalau kita berhenti, mereka tahu kita lemah, dan suatu hari mereka tetap akan membereskan kita supaya kita nggak jadi masalah.
Mundur tidak menyelamatkan Bapak. Mundur hanya menunjukkan ke mereka bahwa toko Bapak adalah pegangan yang efektif, dan mereka akan terus memegangnya, selamanya, sampai Reksa benar-benar mati di dalam meski tubuhnya masih bernapas. Sama seperti yang mereka lakukan pada Sari. Memberi satu hal untuk dilindungi, lalu memakainya sebagai tali kekang seumur hidup.
Satu-satunya cara menyelamatkan orang tuanya adalah memenangkan ini. Cepat. Tuntas. Sebelum tali kekang itu sempat mengencang.
Sari, yang sejak tadi memperhatikannya dari sudut ruangan, akhirnya bicara. "Mereka menyentuh keluargamu."
Reksa mengangguk, tidak memandangnya.
"Aku pernah di posisimu," kata Sari pelan. "Bedanya, waktu itu aku punya ibu yang sakit, dan aku memilih ibuku. Aku diam tiga tahun." Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Reksa. "Aku tidak akan menyuruhmu memilih jalan yang berbeda dariku, karena aku tidak punya hak untuk itu. Tapi aku bisa bilang satu hal yang aku pelajari dengan harga mahal. Mundur tidak membuat mereka melepaskan keluargamu. Mundur hanya memberi tahu mereka di mana mereka harus terus menekan. Mereka tidak melepaskan, Reksa. Mereka tidak pernah melepaskan. Sampai kamu yang membuat tangan mereka lepas."
Reksa menatap perempuan itu. Dalam suaranya ada penyesalan tiga tahun, dan ada juga, untuk pertama kalinya, semacam tekad yang sudah lama mati dan hidup kembali.
"Maka kita buat tangan mereka lepas," kata Reksa.
Di luar, hujan Garumi turun lagi, halus dan tak henti, membasahi atap-atap kampung nelayan. Dan di suatu tempat di kota itu, di sebuah toko kecil di pasar yang dijaga seorang lelaki tua, sebuah ancaman sopan menggantung di udara seperti bau yang tak mau hilang.