Pram membalas lewat saluran yang sudah mereka sepakati: sebuah aplikasi pesan terenkripsi, akun yang dibuat dengan nomor sekali pakai, pesan yang dihapus otomatis setelah dibaca. Sejak malam di jembatan tua, ketika Reksa mengirim satu pesan ke nomor yang ia simpan bertahun-tahun, Pram telah menjadi satu-satunya jalur Reksa ke dunia di luar jangkauan Bhakim. Tapi sampai sekarang, jalur itu lebih banyak berupa peringatan daripada senjata: jangan percaya satu instansi pun secara utuh, jangan kirim apa pun yang asli lewat jaringan, bersabar.
Kali ini berbeda. Reksa mengirim ringkasan isi flashdisk Lendra, hati-hati, tanpa berkas aslinya, hanya deskripsi: bagan jaringan, rekaman suara Bhakim, dan yang paling penting, petunjuk bahwa ada nama di atas Bhakim, kemungkinan berinisial "AP".
Balasan Pram datang lebih cepat dari biasanya, dan lebih panjang.
"Kalau itu benar, ini bukan lagi kasus Polsek. Ini kasus yang bisa menjelaskan kenapa setiap kali aku mencoba menerbitkan sesuatu tentang Garumi, ada telepon dari atas ke redaksiku. Aku selalu mengira itu Bhakim. Mungkin bukan. Dengar, Reksa, satu wartawan sendirian gampang dibungkam. Satu pengaduan sendirian gampang dipetieskan. Cara mereka membunuh kebenaran itu selalu sama: isolasi. Buat targetnya sendirian, lalu habisi diam-diam. Jadi kita lakukan kebalikannya."
Selama tiga hari berikutnya, lewat pesan-pesan yang muncul dan menghilang, Pram membentangkan sebuah rencana yang membuat Reksa, untuk pertama kalinya sejak menjadi buron, merasa ia tidak lagi melawan dari dalam lubang sendirian.
Pram tidak datang sendiri. Ia membawa, satu per satu, nama-nama: seorang jurnalis senior dari media nasional yang dulu menggarap kasus tambang ilegal dan selamat dari teror; seorang aktivis antikorupsi yang punya jaringan ke lembaga pengawas independen; dan, yang membuat Reksa paling waspada sekaligus paling berharap, seorang mantan polisi, perwira menengah yang pensiun dini setelah menolak diam soal sesuatu di kota lain, kini bekerja di sebuah lembaga bantuan hukum.
"Aku tidak bilang mereka semua suci," tulis Pram. "Aku bilang mereka semua punya alasan pribadi untuk membenci jenis orang seperti Bhakim. Dan yang lebih penting, mereka tersebar. Kalau kita bangun ini dengan benar, bukti yang kamu punya tidak akan ada di satu tangan. Akan ada di banyak tangan, di banyak kota. Bhakim, atau siapa pun di atasnya, bisa membunuh kamu. Bisa membunuh aku. Tapi mereka tidak bisa membunuh selusin orang di lima kota berbeda sekaligus tanpa membuat keributan yang justru menjadi berita itu sendiri."
Reksa membaca pesan itu berkali-kali. Ada logika dingin di dalamnya yang ia kagumi. Selama ini ia bertahan dengan menyembunyikan: satu salinan asli, satu kartu rahasia, satu kepercayaan yang dijaga ketat. Strategi seorang anak pedagang yang takut kehilangan. Tapi Pram menawarkan strategi sebaliknya: bukan menyembunyikan kebenaran, melainkan menyebarkannya begitu luas sampai membunuhnya jadi mustahil. Asuransi bukan dalam bentuk loker stasiun, tapi dalam bentuk banyak saksi yang saling menjaga.
"Tapi jangan salah paham," Pram menutup pesannya hari itu. "Menyebar bukan berarti aman. Begitu kita mulai membangun jaringan ini, kita jadi target yang lebih besar. Mereka akan tahu kamu tidak lagi sendiri, dan orang yang tidak sendiri lebih berbahaya bagi mereka daripada buron yang ketakutan. Mereka akan berhenti mencoba membungkammu dengan teror, dan mulai mencoba membungkam orang-orang di sekitarmu. Keluargamu. Keluargaku. Siapa pun yang kita sentuh. Kamu harus siap untuk itu."
Reksa membaca peringatan terakhir itu, dan dingin menjalar di tengkuknya. Ia menatap Sari, yang sedang menyalin dokumen Lendra dengan tangan ke buku catatan baru, berjaga-jaga kalau flashdisk rusak atau hilang. Ia memikirkan ayahnya, di kampung, pedagang kecil yang sekarang sudah tua, yang tidak tahu apa-apa soal jaring yang sedang dilawan anaknya.
"Pram menawarkan jaringan," kata Reksa pelan. "Wartawan, aktivis, mantan polisi bersih. Tersebar di banyak kota. Idenya, sebar bukti seluas mungkin supaya tidak bisa dibungkam."
Sari berhenti menulis. "Itu cerdas," katanya. "Dan itu berbahaya. Kamu tahu apa artinya, kan? Begitu kita membuka diri ke orang luar, kita membuka pintu yang sama untuk mata-mata. Setiap orang baru di jaringan itu bisa jadi 'AP' yang berikutnya. Atau bisa jadi orang yang punya keluarga yang bisa diancam, sama seperti aku dulu."
Reksa mengangguk. Ia tahu Sari benar. Tapi ia juga tahu, mereka sudah terlalu dalam untuk terus bersembunyi. Bukti Lendra terlalu besar untuk dipegang dua orang buron di kampung nelayan. Suatu hari salah satu dari mereka akan tertangkap, dan kalau itu terjadi, semua kebenaran ini ikut mati. Pram benar: satu-satunya cara menjaga kebenaran tetap hidup adalah membuatnya terlalu besar untuk dibunuh.
Ia mengetik balasan terakhir untuk Pram malam itu, satu kalimat: "Kita mulai. Tapi pelan. Satu orang dulu. Yang mantan polisi itu. Aku perlu tahu rasanya percaya pada seragam lagi, walaupun seragam yang sudah dilepas."
Pram membalas dengan satu kata sebelum pesan itu menghilang sendiri dari layar: "Berani."