Folder audio berisi tiga berkas. Yang pertama dan kedua adalah rekaman lapangan, suara berisik penuh deru kendaraan dan angin, sulit dicerna. Reksa memutarnya dengan volume penuh, telinga ditempelkan ke speaker kecil laptop tua itu, di tengah malam yang sunyi di kampung nelayan. Suara-suara terpotong: serah-terima sesuatu, angka-angka yang disebut, satu nama yang berulang. Toni. Bahari. Setoran.
Berkas ketiga berbeda. Lebih jernih. Direkam di ruangan tertutup, mungkin diam-diam dari saku. Reksa mengenali satu suara dalam dua detik pertama: Bhakim. Lebih muda tiga tahun, lebih percaya diri, tapi tak salah lagi suara yang sama yang menelpon Reksa di malam Dimas mati.
"...kamu terlalu banyak bertanya, Lendra." Suara Bhakim, sabar, hampir kebapakan, sama persis nadanya saat menawarkan amplop ke Reksa di lantai dua. "Aku sudah bilang ke kamu, ada hal yang sudah diatur di tingkat yang lebih tinggi dari kamu, lebih tinggi dari aku. Kamu pikir aku bisa mengatur semua ini sendiri? Anak kemarin sore. Berhenti, sebelum kamu menyeret orang yang tidak boleh kamu seret."
Lalu suara Lendra, tegang tapi tidak gentar: "Siapa? Sebut namanya. Siapa yang melindungimu, Pak?"
Hening sejenak di rekaman. Lalu Bhakim, suaranya turun menjadi bisikan yang membuat tengkuk Reksa meremang bahkan tiga tahun kemudian: "Nama itu tidak diucapkan, Lendra. Orang yang menyebutnya, berakhir di tempat yang sangat dingin. Aku beri tahu kamu ini bukan karena sayang. Tapi karena aku tidak mau repot mengurus mayatmu. Pulang. Punya anak istri, kan?"
Rekaman berakhir di situ. Speaker laptop mendesis kosong.
Reksa duduk diam dalam keheningan yang berat. Di sampingnya, Sari menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir tanpa suara. Ia baru saja mendengar suara sahabatnya yang sudah mati, dua hari sebelum mobilnya ditemukan di dasar sungai, menantang seorang pembunuh untuk menyebut nama yang membuatnya dibunuh.
"Dia tahu," bisik Sari. "Lendra tahu dia akan mati. Dia rekam ini bukan untuk menyelamatkan dirinya. Dia tahu sudah terlambat. Dia rekam ini untuk orang yang datang setelahnya. Untuk kamu."
Reksa memutar ulang bagian terakhir. Nama itu tidak diucapkan. Bhakim sengaja tidak menyebutnya, bahkan saat menggertak. Itu sendiri sebuah informasi: orang di atas Bhakim cukup berkuasa sehingga seorang Komisaris Kasat Resnarkoba pun tidak berani mengucap namanya di ruang tertutup, bahkan saat ia memegang kendali penuh atas lawan bicaranya. Reksa pernah mengira Bhakim adalah puncak rasa takut di kota ini. Tapi Bhakim sendiri takut pada sesuatu.
Reksa membuka kembali bagan tangan Lendra. Kotak kosong dengan tanda tanya di atas nama Bhakim. Dan satu detail yang tadi terlewat: di sudut bagan, Lendra menuliskan tiga huruf kecil, hampir tak terbaca, lalu dicoret. Reksa memperbesarnya. Bukan tiga huruf. Sebuah inisial. "AP." Lalu dicoret, dengan catatan di sampingnya: "salah. atau dia hanya perantara?"
"AP," kata Reksa pelan, mencatat di buku kecilnya. "Lendra menduga inisial ini, lalu meragukannya sendiri. Mungkin perantara, bukan puncaknya."
Wajah di balik cahaya. Reksa teringat malam di pelabuhan, malam ia hampir tertangkap, sosok lelaki yang berbicara dengan Toni dan membelakangi lampu sehingga wajahnya tak pernah terlihat. Saat itu ia mengira sosok itu Bhakim. Tapi posturnya tidak cocok. Bhakim lebih tinggi, lebih tegap. Sosok di pelabuhan itu lebih pendek, lebih ramping, dengan cara berdiri yang familier dengan cara yang tak bisa Reksa tunjuk. Mungkinkah itu si perantara? Si "AP"?
Reksa menyimpan flashdisk itu kembali ke tempat yang aman, di lapisan rahasia yang hanya ia tahu, bersama salinan asli buktinya. Ia tidak lagi menyembunyikan keberadaan benda itu dari Sari, hanya lokasinya, dan Sari tidak bertanya. Mereka berdua sudah belajar bahwa ada rahasia yang justru menjaga keduanya tetap hidup.
"Tiga tahun," kata Sari, suaranya kosong, menatap layar yang sudah gelap. "Tiga tahun aku gendong jawabannya ke mana-mana, dan aku terlalu pengecut untuk membukanya. Kalau saja aku buka lebih awal, mungkin Dimas masih hidup. Mungkin Hendarta."
"Atau mungkin kamu sudah di dasar sungai yang sama dengan Lendra," potong Reksa, lebih tajam dari yang ia maksud. Ia menatap perempuan itu. "Kamu hidup karena kamu menunggu. Dan kamu menunggu sampai ada yang bisa memakai ini tanpa langsung mati. Itu bukan pengecut, Sari. Itu kesabaran orang yang sudah kehilangan satu kawan dan tidak mau kehilangan tujuannya juga."
Sari tidak menjawab. Tapi sesuatu di bahunya yang sejak tadi tegang akhirnya turun sedikit.
Di luar, suara ombak laut Garumi memukul tiang dermaga nelayan, sama seperti suara ombak di pelabuhan tempat semua ini berakar. Reksa menatap ke arah suara itu, ke arah air gelap yang menyimpan tubuh Lendra tiga tahun lalu, dan untuk pertama kalinya ia merasa sungai itu tidak lagi menyimpan rahasia. Sungai itu baru saja menyerahkan satu nama. Bukan nama lengkap. Hanya dua huruf dan sebuah keraguan. Tapi itu lebih dari yang dimiliki siapa pun selama tiga tahun.