Penebusan Sari ternyata punya buntut yang tidak Reksa duga. Tiga hari setelah malam amplop itu, ketika kepercayaan di antara mereka sudah berhenti menjadi pertanyaan dan mulai jadi pijakan, Sari membuka sesuatu yang ia simpan jauh lebih lama dari rahasia setoran.
Mereka pindah lagi, kali ini ke sebuah rumah kontrakan kosong milik pensiunan guru yang Sari kenal, di kampung nelayan di ujung kota, jauh dari Pasar Lama dan pelabuhan. Pak guru tua itu tidak banyak tanya, hanya menyerahkan kunci dan berkata, "Sari sudah seperti anak saya. Yang penting jangan ada masalah sampai ke sini." Reksa tahu artinya: kalau ada masalah, mereka harus pergi, dan orang tua itu tidak akan pernah mengaku kenal.
Pada malam ketiga di rumah itu, setelah memastikan tirai rapat dan motor disembunyikan di balik perahu rusak di pekarangan, Sari mengeluarkan sesuatu dari dalam lapisan tasnya. Sebuah flashdisk tua, casing-nya retak, dililit selotip yang sudah menguning.
"Lendra menitipkan ini ke aku, dua hari sebelum dia mati," kata Sari. Ia memutar-mutar benda kecil itu di jarinya, menatapnya seperti menatap wajah orang yang sudah lama pergi. "Dia datang ke rumahku malam-malam, basah kuyup, mukanya seperti orang yang sudah tahu ajalnya. Dia bilang, 'Sar, kalau aku kenapa-kenapa, jangan kamu apa-apakan ini. Jangan kamu buka. Jangan kamu kasih siapa-siapa. Simpan saja. Sampai datang orang yang benar.' Aku tanya, orang yang benar itu siapa? Dia cuma bilang, 'Kamu akan tahu kalau dia datang.'"
Reksa menatap flashdisk itu, lalu menatap Sari. "Tiga tahun kamu simpan ini. Tidak pernah kamu buka?"
"Tidak pernah." Suara Sari pecah sedikit. "Karena selama tiga tahun, aku bukan orang yang benar, Reksa. Aku anjing Bhakim. Bagaimana aku berani membuka titipan terakhir Lendra sementara aku makan dari tangan orang yang membunuhnya? Aku tidak punya hak. Aku biarkan benda ini jadi batu nisan, kuburan kecil yang aku bawa ke mana-mana." Ia meletakkan flashdisk itu di telapak tangan Reksa, perlahan, seperti menyerahkan sesuatu yang lebih berat dari beratnya. "Tapi sekarang kamu di sini. Anak baru yang menolak amplop. Yang masih bertahan padahal semua orang sudah memberi tahunya untuk berhenti. Kalau bukan kamu orang yang benar itu, aku tidak tahu siapa lagi."
Tangan Reksa mengatup di sekitar benda kecil itu. Ia merasakan beban tiga tahun di dalamnya, beban seorang lelaki yang mati di dasar sungai dengan rahasia ini di sakunya, dan seorang perempuan yang menggendongnya seperti dosa selama itu.
Mereka tidak punya laptop, sudah hilang sejak markas lama digeledah. Tapi Sari punya, dari pak guru tua, sebuah komputer jinjing usang yang berat dan lambat. Reksa menyalakannya, menunggu mesin tua itu mengerang bangun, dan menancapkan flashdisk dengan jari yang ia paksa tetap stabil.
Beberapa folder muncul di layar. Nama-namanya dingin dan rapi, gaya seorang penyidik: TANGGAL. NOMINAL. REKENING. FOTO. Dan satu folder bernama AUDIO.
Reksa membuka folder dokumen lebih dulu. Halaman demi halaman terbuka, dan ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan dugaan. Ini bukan bukti tidak langsung yang bisa dipelintir pengacara. Lendra, tiga tahun sebelum Reksa menjejakkan kaki di Polsek Garumi Timur, sudah menyusun sebagian dari teka-teki yang sama persis: daftar operasi yang bocor, dengan tanggal dan nama penanda tangan. Selisih barang bukti yang dimusnahkan, lengkap dengan berat tertimbang. Dan yang membuat napas Reksa tertahan, sebuah bagan tangan, digambar Lendra sendiri, yang menghubungkan Toni, CV Bahari Jaya, yayasan amal, dan satu kotak di puncaknya bertuliskan satu kata yang dilingkari berkali-kali sampai kertasnya hampir robek: pelindung.
Tapi kotak puncak itu tidak berisi nama Bhakim.
Reksa mengernyit. Ia memperbesar pindaian gambar itu. Di atas kotak "pelindung" yang berisi nama Bhakim, Lendra telah menggambar satu panah lagi, mengarah ke atas, ke sebuah kotak kosong dengan tanda tanya besar. Dan di sampingnya, dengan tulisan tangan tergesa, satu catatan: "Bhakim bukan puncaknya. Ada tangan di atas tangan. Aku belum tahu namanya. Tapi setiap kali aku dekat, operasiku dibatalkan oleh perintah yang bahkan Bhakim tidak berani lawan."
Reksa bersandar ke kursi reyot itu, dadanya sesak. Selama ini ia mengejar Bhakim sebagai puncak gunung. Tapi Lendra, tiga tahun lalu, sudah melihat bahwa gunung itu sendiri berdiri di atas gunung yang lebih besar, gunung yang bahkan Bhakim takuti.
Ia menoleh ke Sari, yang menatap layar dengan mata berkaca-kaca, melihat kerja terakhir sahabatnya hidup kembali di hadapannya setelah tiga tahun terkubur.
"Lendra tidak hanya menyelidiki Bhakim," kata Reksa pelan, suaranya nyaris tak terdengar di atas dengung kipas komputer tua itu. "Dia menyelidiki orang yang melindungi Bhakim. Itu sebabnya dia dibunuh. Bukan karena dia menggali bandar dan komisaris korup. Tapi karena dia mulai menggali ke atas Bhakim."
Sari menyeka pipinya dengan punggung tangan. "Folder audio," katanya parau. "Buka folder audio."
Reksa menggerakkan kursor. Tangannya ragu sesaat di atas folder bernama AUDIO. Lalu ia mengklik.