Sari tidak menjelaskan rencananya malam itu juga. Ia hanya berkata, "Beri aku dua hari. Dan jangan ikuti aku ke mana pun aku pergi besok. Kalau kamu ikut, kita berdua mati." Lalu ia kembali ke balik tirai, dan Reksa mendengar perempuan itu tidak tidur sampai pagi.
Reksa membenci ini. Setiap serat dalam dirinya, naluri yang menjaganya hidup sejauh ini, menjerit menolak. Membiarkan Sari pergi sendiri, ke arah yang tak ia ketahui, untuk tujuan yang tak ia mengerti, adalah persis jenis kepercayaan buta yang sudah menelan Dimas, menelan Hendarta. Tapi ia juga sadar, kalau ia tidak memberi Sari ruang untuk membuktikan dirinya, ia tak akan pernah benar-benar lepas dari racun Bhakim. Mereka akan terus hidup di garis tipis itu sampai garis itu putus.
Maka ia mengizinkan. Dengan satu syarat. Ia memberi Sari ponsel cadangan kedua dan menyuruhnya mengirim satu pesan singkat setiap dua jam, satu kata saja: "hidup". Kalau dalam tiga jam tak ada pesan, Reksa akan bergerak. Sari setuju.
Pagi berikutnya, sebelum matahari penuh, Sari pergi. Ia berpakaian berbeda dari biasanya, kerudung gelap menutup setengah wajah, tas selempang lusuh, menyamar jadi perempuan paruh baya mana saja di pasar mana saja. Reksa mengawasinya dari jendela menghilang di tikungan, dan ia menahan diri mati-matian untuk tidak mengikuti.
Pukul delapan: "hidup". Pukul sepuluh: "hidup". Pukul dua belas pesan datang terlambat dua puluh menit, dan dua puluh menit itu Reksa menghabiskan dengan jaket sudah dikenakan, kunci motor di tangan, jantung berdebar di tenggorokan. Lalu ponsel bergetar. "hidup. sebentar lagi." Reksa duduk kembali, tangannya gemetar.
Apa yang dilakukan Sari sepanjang hari itu, Reksa baru tahu malamnya, saat perempuan itu kembali dengan wajah kelabu seperti baru menggali kuburnya sendiri.
Sari menaruh sebuah amplop kumal di meja kayu reyot, lalu duduk berat di dipan, menatap tangannya sendiri lama sebelum bicara.
"Bhakim bilang aku menyetor uang lewat dia bulan ini," kata Sari, suaranya rata tapi ada getar tipis di bawahnya. "Itu benar."
Reksa membeku. Tangannya berhenti di tengah gerakan menuangkan air.
"Dengar dulu sampai habis," kata Sari cepat, menatapnya tajam. "Tiga tahun lalu, waktu Lendra mati, aku ketakutan. Aku sudah cerita itu ke kamu, dan itu jujur. Tapi ada bagian yang tidak aku ceritakan, karena malu, karena takut kamu lihat aku seperti aku melihat diriku sendiri." Ia menarik napas. "Setelah Lendra mati, Goldra datang ke aku. Dia tahu aku dekat dengan Lendra, tahu aku tahu sesuatu. Dia tidak mengancam. Dia menawarkan. Tetap diam, terima sedikit, dan ibuku yang sedang sakit akan terus dapat 'bantuan pengobatan' dari yayasan amal Bhakim. Aku terima. Selama tiga tahun, setiap bulan, aku menerima amplop, dan setiap bulan aku menutup mata. Itulah kenapa aku masih hidup sementara Lendra di dasar sungai. Aku dibeli, Reksa. Dengan nyawa ibuku, tapi tetap saja dibeli."
Reksa berdiri kaku. Ini hal terburuk yang bisa ia dengar, dan sekaligus, anehnya, sesuatu yang ia rasakan kebenarannya justru karena Sari mengakuinya tanpa diminta. Seorang umpan menyangkal. Seorang umpan tidak menyerahkan tali jerat untuk lehernya sendiri.
"Lalu kenapa kamu lawan mereka denganku?" tanya Reksa pelan.
"Karena ibuku meninggal tahun lalu." Sari tersenyum pahit, matanya basah. "Mereka kehilangan pegangan terakhir mereka atasku, tapi mereka tidak sadar. Mereka pikir aku masih anjing penurut karena kebiasaan. Waktu kamu datang, anak baru yang menolak amplop di hari ke sekian, aku lihat Lendra di kamu. Aku lihat kesempatan kedua untuk tidak diam. Bhakim memang menyuruhku mengawasimu di awal, itu benar, dan itu yang dia maksud 'aku miliknya'. Tapi entah di titik mana, aku berhenti jadi matanya dan mulai jadi kawanmu. Peringatan yang aku tinggalkan malam itu, itu nyata. Aku memilih kamu. Aku memutus rantainya sendiri."
Reksa menatap amplop kumal di meja. "Apa ini?"
"Setoran bulan ini yang Bhakim bilang aku berikan padanya." Sari mendorong amplop itu ke arah Reksa. "Hari ini aku menemui Goldra. Aku pura-pura masih anjingnya. Aku terima amplop ini dari tangannya, di tempat yang aku tahu ada matanya. Bhakim ingin mengontrolku dengan itu, ingin menunjukkan ke kamu bahwa aku masih miliknya. Bagus. Biar dia pikir begitu." Ia menatap Reksa, dan kali ini mata itu menyala. "Tapi sekarang amplop ini, dengan uangnya, ada di tanganmu. Catat nomor serinya. Foto tanganku menerimanya, aku rekam tadi. Bhakim memberiku rantai untuk mengikatku. Aku ubah jadi tali untuk menjerat dia. Sama persis seperti yang kamu lakukan dengan amplop Goldra dulu."
Reksa menatap perempuan itu lama, lalu menatap amplop, lalu kembali ke wajahnya. Sesuatu yang sebulan ini retak di dadanya akhirnya menemukan bentuknya. Sari baru saja menyerahkan dosanya sendiri, kelemahannya yang paling memalukan, sebagai senjata. Tidak ada umpan yang melakukan itu. Umpan melindungi dirinya. Yang baru saja dilakukan Sari adalah membakar jembatan terakhirnya kembali ke sisi Bhakim, di depan mata Reksa, secara permanen.
"Kalau Bhakim tahu kamu menyerahkan ini ke aku," kata Reksa pelan, "kamu benar-benar mati."
"Aku tahu." Sari mengangguk, tenang. "Makanya ini namanya tidak ada jalan kembali. Sekarang kamu tahu kenapa aku masih hidup tiga tahun ini. Dan sekarang kamu tahu aku memilih sisi mana." Ia bersandar ke dinding triplek, memejamkan mata. "Pertanyaannya tinggal satu, Reksa. Apakah cukup buatmu? Atau racun Bhakim sudah terlalu dalam?"
Reksa mengambil amplop itu. Membukanya. Menghitung lembar demi lembar uang, mencatat nomor seri di buku kecilnya dengan tangan yang akhirnya berhenti gemetar. Untuk pertama kalinya sejak gudang pelabuhan, ia merasa garis tipis itu tidak lagi retak. Ia mengeras, jadi pijakan.
"Cukup," kata Reksa.