Pesan itu masuk pukul tiga pagi, di jam ketika hanya orang-orang yang sedang menjaga sesuatu atau menyembunyikan sesuatu yang masih terjaga. Reksa terbangun bukan karena getaran ponsel, melainkan karena kebiasaan baru yang tumbuh sejak ia jadi buron: tidur dengan sebelah telinga tetap mengawasi pintu. Ponsel cadangan yang ia beli tunai di kios pinggir terminal menyala di lantai kontrakan baru mereka, sebuah kamar petak di belakang bengkel las yang sudah lama tutup. Cahayanya memantul di dinding triplek.
Nomor tak dikenal. Tapi Reksa tahu siapa pemiliknya bahkan sebelum membaca isinya. Gaya kalimatnya, ketenangan racun yang menetes dari tiap kata, hanya milik satu orang.
"Selamat pagi, Reksa. Tidur nyenyak? Aku titip pesan untuk kawanmu yang perempuan itu. Bilang, setoran bulan ini sudah aku terima lewat dia. Anak pintar. Dia tidak pernah benar-benar pergi dariku. Tanya saja, kalau kau berani."
Reksa membaca pesan itu tiga kali. Lalu menaruh ponsel telungkup di dada, menatap langit-langit yang dipenuhi noda air. Di seberang ruangan, di balik tirai yang membatasi dua dipan, ia mendengar napas Sari yang teratur. Perempuan itu tidur dalam posisi yang sama setiap malam sejak mereka berlindung di sini: menghadap pintu, satu tangan terselip di bawah bantal tempat ia menaruh pisau lipat.
Sudah sebulan lebih sejak gudang pelabuhan. Sebulan sejak Reksa menarik Sari lepas dari ikatan di tengah kekacauan sirene dan tembakan, sebulan mereka hidup berpindah dari satu lubang persembunyian ke lubang berikutnya. Dalam sebulan itu Reksa telah memilih percaya kepada Sari. Tidak sepenuhnya, tidak pernah sepenuhnya, tapi cukup untuk berbagi atap, cukup untuk membiarkan perempuan itu berjaga selagi ia tidur. Dan sekarang Bhakim menjulurkan tangan tepat ke retakan yang belum sembuh itu, menekannya dengan satu kalimat.
Setoran bulan ini sudah aku terima lewat dia.
Reksa tahu apa yang sedang dilakukan komisaris itu. Ini taktik yang sama persis seperti malam di warung tuli, malam Dimas tidak datang. Tabur keraguan. Pecah belah. Buat musuh menghancurkan dirinya dari dalam, supaya tak perlu kau kotori tanganmu sendiri. Reksa sudah pernah jatuh ke lubang itu sekali, dan ia bersumpah tidak akan jatuh dua kali. Tapi sumpah dan rasa adalah dua makhluk yang berbeda. Rasa itu datang sendiri, tak diundang, menyusup di sela kewaspadaan: bagaimana kalau benar?
Ia bangkit pelan, melangkah ke jendela kecil yang menghadap halaman bengkel. Di luar, satu lampu jalan yang masih hidup berkedip lemah. Hujan halus turun, jenis hujan Garumi yang ia kenal sejak hari pertamanya, yang tidak pernah cukup deras untuk membersihkan apa pun, hanya cukup untuk membuat segalanya basah dan licin.
Logikanya menolak pesan itu. Sebulan ini Sari telah membuktikan diri berkali-kali dengan cara-cara yang sulit dipalsukan seorang umpan. Ia yang mengenali pelat mobil penyisir di gang, yang membaui jebakan operasi sebelum mereka melangkah ke dalamnya, yang dua kali menyeret Reksa keluar dari sergapan Goldra. Seorang umpan tidak menyelamatkan targetnya berkali-kali; umpan menggiring target ke pisau. Tapi logika juga yang berkata: bukankah itu persis yang akan dilakukan umpan paling baik? Membuatmu yakin. Membuatmu menurunkan penjagaan. Lalu, di saat paling genting, menusukkan pisaunya.
Di belakangnya, napas Sari berubah. Reksa tahu perempuan itu sudah bangun, mungkin sejak ponsel menyala. Dua belas tahun dinas mengajarkan tidur seperti kucing.
"Bhakim?" suara Sari, parau, dari balik tirai.
Reksa tidak langsung menjawab. Ia menimbang. Ia bisa menyembunyikan pesan ini, menyimpan keraguan sebagai senjata, persis seperti ia menyimpan salinan asli bukti tanpa sepengetahuan siapa pun. Itu cara lamanya. Naluri anak pedagang yang pernah melihat ayahnya hancur karena terlalu percaya.
Tapi ia juga tahu, kalau ia menyimpan racun ini sendirian, ia akan membiarkannya menggerogoti dari dalam, sampai suatu hari ia ragu di saat yang salah dan salah satu dari mereka mati karenanya.
"Dia bilang kamu menyetor uang ke dia bulan ini," kata Reksa akhirnya, masih menghadap jendela. Suaranya datar, seperti membacakan laporan. "Lewat tanganmu. Dia bilang kamu tidak pernah benar-benar pergi."
Hening. Lalu suara dipan berderit. Sari muncul dari balik tirai, rambutnya acak-acakan, wajahnya yang lebamnya sudah memudar jadi kuning kehijauan menatap Reksa lurus. Tidak ada panik di mata itu. Hanya kelelahan tua, dan sesuatu yang lebih keras di baliknya.
"Dan kamu percaya?" tanya Sari.
Reksa berbalik menghadapnya. Untuk waktu yang lama mereka berdiri saling tatap di kamar petak yang bau oli dan lembap itu, dua buron yang nyawanya saling bergantung pada satu hal yang paling rapuh di antara manusia.
"Aku belum mati," kata Reksa pelan. "Itu jawabannya. Kalau kamu memang miliknya, aku sudah mati sepuluh kali dalam sebulan ini. Aku tidak percaya pesan itu."
Sari menahan napas, lalu mengembuskannya perlahan, seperti melepas sesuatu yang ia tahan terlalu lama.
"Tapi," lanjut Reksa, dan kata itu menggantung di udara seperti pisau, "dia tidak akan berhenti. Dia akan terus melempar racun ini sampai salah satu dari kita keracunan. Selama statusmu masih bisa dia goyang, dia menang tanpa berbuat apa-apa." Ia menatap Sari lekat-lekat. "Aku butuh kamu menutup celah itu. Sekali. Untuk selamanya. Supaya dia tidak punya kartu ini lagi."
Sari diam lama. Lalu mengangguk, sekali, pelan, seperti orang yang baru saja menyetujui sesuatu yang ia tahu mungkin akan membunuhnya.
"Aku tahu satu cara," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Tapi kalau aku lakukan, tidak ada jalan kembali untukku. Dan kamu harus benar-benar percaya aku, Reksa. Untuk yang ini, kamu harus mempertaruhkan segalanya pada satu hal yang belum pernah aku tunjukkan ke siapa pun. Bahkan ke Lendra."
Di luar, lampu jalan yang sekarat itu padam sama sekali, meninggalkan halaman bengkel dalam gelap penuh. Reksa menatap perempuan di depannya, dan untuk pertama kalinya dalam sebulan, ia merasa garis tipis tempat mereka berdua berdiri itu bergetar, siap retak ke salah satu sisi.