Reksa terlambat. Ia tahu itu bahkan sebelum ia tiba, dari cara kota terasa di sepanjang perjalanan dini hari itu, terlalu sunyi, terlalu menunggu, seperti udara sebelum sesuatu yang buruk.
Ia tidak bisa menelepon Garda langsung; mereka tidak pernah bertukar nomor pribadi, hanya lewat telepon umum dan perantara, justru demi keamanan, dan kehati-hatian itu kini berbalik menjadi jebakan. Yang bisa Reksa lakukan hanya menuju ke satu tempat yang mungkin: telepon umum di pinggir jalan tempat mereka biasa berkomunikasi, dengan harapan tipis Garda akan ada di sana, atau ada cara menjangkaunya.
Sari mengikutinya dengan motor terpisah, keduanya melaju dalam gerimis yang makin menebal. Tapi di tengah jalan, Sari memanggil lewat earphone, suaranya tegang. "Reksa, putar radio. Frekuensi dinas. Aku dengar sesuatu."
Reksa menyalakan pemindai radio kecil yang selalu ia bawa, pusaka dari hari-harinya masih berseragam, dan di antara derak statis ia menangkap potongan-potongan transmisi. Sebuah kecelakaan dilaporkan. Sebuah mobil. Jalan lingkar luar kota. Satu korban. Petugas diminta menuju lokasi.
Jalan lingkar luar kota. Jalan yang sama jenisnya dengan tempat Bripka Lendra dulu ditemukan, mobil masuk sungai, disebut kecelakaan, disebut mabuk. Pola itu, lagi. Pola yang sudah membunuh sebelumnya dan kini berputar kembali seperti roda yang tak pernah berhenti menggilas.
"Tidak," gumam Reksa, memutar gas lebih dalam, hujan menampar wajahnya. "Tidak, tidak, tidak."
Mereka tiba di lokasi sebelum garis polisi terpasang penuh. Dari kejauhan, di balik kerumunan kecil dan lampu-lampu kendaraan, Reksa melihatnya. Sebuah mobil yang keluar jalur, menabrak pembatas, ringsek di bagian depan. Dan dari pelat serta warnanya, ia tahu, bahkan sebelum ada yang mengonfirmasi, itu kendaraan yang pernah ia lihat membawa Iptu Garda.
Ia tidak bisa mendekat. Ia buron; wajahnya tidak boleh terlihat di kerumunan yang penuh petugas. Maka ia berdiri di kejauhan, di balik bayangan pohon basah, menyaksikan dengan dada yang seperti diremas tangan besi, sementara petugas mengevakuasi sesosok tubuh dari kursi pengemudi. Tidak bergerak. Diselimuti.
Sari berdiri di sampingnya, diam, tangannya mencengkeram lengan Reksa.
"Kecelakaan tunggal," terdengar samar suara seorang petugas kepada yang lain. "Mungkin ngantuk. Mungkin habis kerja semalaman. Kasihan, masih muda."
Habis kerja semalaman. Reksa hampir tertawa pahit andai tenggorokannya tidak tercekat. Garda bekerja semalaman, ya. Merancang operasi yang dibocorkan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi rekannya. Dan beberapa jam setelah operasi itu gagal, setelah ia terbukti menjadi penyidik yang tidak ikut bermain, mobilnya keluar jalur di jalan sepi dini hari. Kecelakaan. Mabuk. Ngantuk. Selalu ada kata yang rapi untuk menutupi.
Sama seperti Lendra. Sama seperti Hendarta. Sama seperti Dimas. Nama-nama yang berani, lalu hilang, lalu dirapikan menjadi statistik.
Reksa berbalik dan berjalan menjauh dari kerumunan, kakinya nyaris tidak terasa, sampai ia berhenti di balik tembok pabrik tua dan bersandar di sana, napasnya memburu, dan sesuatu di dalam dadanya retak.
"Aku yang menyeretnya," kata Reksa, suaranya parau. "Aku yang kasih dia lokasi gudang. Aku yang dorong dia percaya bahwa dia bisa melawan dari dalam. Dia bersih, Sari. Dia satu-satunya orang berseragam di kota ini yang bersih, dan aku yang menariknya ke garis tembak. Persis seperti Dimas. Persis seperti Anwar nanti. Aku membunuh orang baik."
Sari berdiri di depannya, dan untuk sesaat ia tidak berkata apa-apa. Lalu ia mencengkeram kedua bahu Reksa, memaksanya menatap matanya, dan suaranya keras meski matanya basah. "Dengar. Yang membunuh Garda bukan kamu. Yang membunuh Garda adalah orang yang membocorkan operasi itu, dan tangan yang menyetir mobilnya ke pembatas, dan jaring yang melindungi mereka semua. Garda penyidik. Dia tahu risikonya. Dia memilih menyelidiki. Dia memilih, Reksa, sama seperti Lendra memilih, sama seperti kamu memilih. Kalau kamu ambil semua kematian ini di pundakmu sendiri, kamu akan hancur sebelum kamu sempat membalaskan satu pun dari mereka."
"Lalu apa gunanya semua ini?" Reksa membentak, suaranya pecah, gerimis bercampur dengan sesuatu yang lebih asin di wajahnya. "Berbulan-bulan. Setiap orang yang aku sentuh, mati. Hendarta. Dimas. Sekarang Garda. Setiap pintu yang aku kira terbuka, ternyata jebakan. Mungkin aku cuma menggali kuburan untuk orang-orang baik satu per satu. Mungkin Bhakim benar dulu. Orang yang sendirian, nggak bisa apa-apa selain mengajak orang lain mati bersamanya."
Hening menggantung di antara mereka, hanya suara hujan di atap seng pabrik tua dan sirene yang mulai meraung dari kejauhan, mendekati lokasi kecelakaan yang bukan kecelakaan. Sirene tengah kota, yang selalu datang terlalu lambat untuk yang sudah mati, terlalu cepat untuk yang menyusun kebohongan.
Sari tidak melepaskan bahunya. "Kamu tahu apa bedanya kamu dengan Bhakim?" katanya pelan, akhirnya. "Bhakim nggak pernah berdiri di hujan, menangisi orang yang mati karena dia. Dia pulang, dia tidur nyenyak, dia bagi-bagi sembako besok pagi. Kamu di sini, hancur, karena nyawa satu orang yang bahkan nggak pernah kamu lihat wajahnya dari dekat. Itu bukan kelemahan, Reksa. Itu satu-satunya alasan kamu masih layak menang."
Reksa menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya hancur, di balik tembok pabrik tua, di tengah hujan dini hari, untuk seorang penyidik muda yang bersih yang baru saja menjadi nama berikutnya di daftar panjang itu. Lalu, pelan-pelan, ia menurunkan tangannya. Matanya merah, tapi sesuatu di dalamnya sudah mengeras kembali, ditempa oleh setiap kematian, oleh setiap pintu yang tertutup, oleh setiap kebohongan yang dirapikan menjadi statistik.
"Mereka pikir setiap korban membuatku lebih lemah," katanya, suaranya tenang sekarang, tenang dengan cara yang lebih berbahaya dari amarah. "Mereka salah. Garda nggak akan jadi kecelakaan tunggal yang dilupakan. Aku akan tulis namanya di berkas yang sama dengan Lendra, dengan Hendarta, dengan Dimas. Dan suatu hari, semua nama itu akan dibacakan di tempat yang nggak bisa mereka kubur."
Ia menatap sirene yang berkedip merah dan biru di kejauhan, memantul di genangan air hujan, seperti detak jantung kota yang busuk ini. Lalu ia menyalakan motornya. Pertarungan ini sudah memakan terlalu banyak orang baik. Tapi untuk pertama kalinya sejak Garda mati, Reksa tahu pasti satu hal: ia tidak akan berhenti sampai jaring yang menjeratnya semua ini runtuh, atau sampai namanya sendiri ikut ditambahkan ke daftar yang ia bawa.