Garda bergerak lebih cepat dari yang Reksa harapkan, dan itulah yang menjadi awal bencana.
Komunikasi di antara mereka berkembang pelan, lewat surat tanpa nama, lewat telepon umum, lewat perantara yang tidak pernah melihat wajah keduanya sekaligus. Reksa tidak pernah memberi tahu Garda siapa dirinya, dan Garda, yang cukup cerdas untuk tidak memaksa, tidak menanyakannya. Yang mereka bangun adalah sesuatu yang rapuh: kepercayaan antara dua orang yang sama-sama merasa sendirian, masing-masing menguji yang lain dengan informasi kecil yang bisa diverifikasi.
Lalu Garda, dari sisinya di dalam tim pengawas, mengusulkan sesuatu yang berani. Ia telah berhasil meyakinkan dua dari rekan timnya, dengan dasar dokumen yang ia kumpulkan, bahwa ada cukup alasan untuk melakukan penyergapan terhadap salah satu gudang penyimpanan Toni. Operasi resmi. Dengan surat. Dengan kekuatan hukum yang sesungguhnya. Sesuatu yang Reksa, sebagai buron, tidak akan pernah bisa lakukan sendiri.
"Ini kesempatan," kata Garda lewat telepon umum, suaranya bersemangat dengan idealisme yang Reksa kenali, idealisme yang dulu ia sendiri miliki di hari pertama. "Kalau kita gerebek gudang yang kamu tunjukkan, gudang baru di pinggir kota itu, dan kita temukan barangnya, itu pintu masuk resmi. Itu bukti yang nggak bisa dikubur. Dari situ kita tarik benangnya ke atas."
Reksa merasakan keraguan menggigit perutnya. Ia memberi tahu Garda lokasi gudang baru Toni, hasil dari mengikuti truk Anwar berminggu-minggu lalu. Itu informasi mahal, informasi yang ia jaga ketat. Tapi sesuatu dalam dirinya gelisah.
"Berapa orang yang tahu rencana ini?" tanya Reksa.
"Cuma aku dan dua rekan yang aku percaya. Kita rahasiakan dari Bhakim, dari Polsek, dari semua jalur lokal. Operasi murni dari tim Polda, surat dari Polda."
"Dan dua rekanmu itu, kamu yakin mereka bersih?"
Hening sejenak. "Aku yakin sembilan puluh persen."
Sembilan puluh persen. Reksa menutup matanya. Sembilan puluh persen adalah angka yang membunuh Dimas. Sembilan puluh persen adalah celah selebar pintu bagi sepuluh persen yang busuk. Tapi ia tidak punya dasar konkret untuk menolak, hanya firasat, dan firasat tidak menghentikan operasi resmi yang sudah bergulir. Ia memperingatkan Garda untuk berhati-hati, untuk mempersempit lingkaran yang tahu, untuk menunda jika ada sedikit pun keraguan. Garda berjanji. Operasi dijadwalkan dua hari lagi, dini hari.
Reksa tidak bisa tidur dua malam itu. Ia dan Sari mengamati gudang baru Toni dari kejauhan, dari posisi aman, ingin menyaksikan dengan mata sendiri apakah operasi ini akan menjadi titik balik atau bencana.
Dini hari yang ditentukan, mereka menunggu di balik tumpukan material bangunan di seberang kompleks gudang, gerimis turun tipis, udara dingin menggigit. Pukul tiga, Reksa melihat lampu-lampu mobil tim mendekat dari kejauhan, bergerak senyap tanpa sirene, persis seperti operasi yang dirancang rahasia.
Tapi gudang itu sudah gelap. Terlalu gelap. Terlalu sunyi.
Perut Reksa mengerut dengan firasat yang sudah terlalu sering benar. "Sari," bisiknya, "lihat. Nggak ada penjaga. Nggak ada satu pun orang Toni. Gudang yang berisi barang nggak pernah ditinggal kosong begitu saja."
Tim itu masuk, menggerebek, mendobrak pintu dengan tertib dan penuh harapan. Reksa menyaksikan dari kejauhan, menahan napas, berharap ia salah. Tapi ia tidak salah. Tidak ada keributan. Tidak ada teriakan tersangka. Tidak ada bunyi barang bukti diamankan. Hanya senter yang menyapu ruang kosong, dan setelah beberapa menit, sosok-sosok yang keluar lagi dengan bahu yang menurun, tangan kosong.
Gudang itu kosong. Sudah dikosongkan. Sebelum operasi.
"Bocor," kata Reksa, dan kata itu terasa seperti racun lama di lidahnya. Pola yang sama persis dengan yang ia temukan di hari-hari pertamanya menyelidiki, tiga tahun lamanya operasi narkoba di Garumi bocor sebelum dilaksanakan, tempat dikosongkan, tangan kosong. Pola yang ia kira ia tinggalkan saat ia keluar dari sistem. Pola itu mengejarnya bahkan ke sini, bahkan ke operasi yang dirancang oleh tim luar kota yang ia kira bersih.
"Infiltrasinya sampai ke tim Polda," kata Sari pelan, suaranya berat. "Salah satu dari dua 'rekan tepercaya' Garda, atau seseorang di atas mereka, membocorkan. Persis seperti dulu. Jaring ini nggak cuma di Garumi, Reksa. Dia ada di mana-mana. Bahkan di tim yang dikirim untuk mengawasi."
Reksa menatap gudang kosong yang baru saja menelan harapan terbesar mereka dalam berbulan-bulan. Tangannya mengepal. Garda telah mempertaruhkan kariernya, mungkin nyawanya, untuk operasi ini, dan operasi itu bocor seperti semua operasi sebelumnya. Itu berarti dua hal. Pertama, gudang baru Toni sekarang hangus, mereka tahu lokasinya terbongkar dan akan memindahkannya lagi. Kedua, dan jauh lebih buruk, kebocoran itu membuktikan bahwa bahkan jalur "bersih" dari Polda pun sudah disusupi.
Tapi yang membuat Reksa paling cemas bukan gudang kosong itu. Melainkan satu pertanyaan dingin yang menyelinap di kepalanya saat ia menyaksikan tim itu pergi dengan tangan hampa.
Kalau operasi ini bocor, kalau musuh tahu ada penyergapan dini hari ini, maka musuh juga tahu siapa yang merancangnya. Mereka tahu Iptu Garda. Mereka tahu ada penyidik di tim pengawas yang tidak ikut bermain. Dan di kota ini, Reksa tahu terlalu pahit, orang yang menjadi masalah bagi jaring itu tidak pernah dibiarkan menjadi masalah terlalu lama.
"Garda dalam bahaya," kata Reksa, dan ia sudah meraih kunci motornya bahkan sebelum kalimat itu selesai.