Surat pemanggilan itu datang di pagi yang cerah, ironisnya. Reksa diminta menghadap Komisaris Bhakim di ruangannya. Tidak ada alasan tertulis. Hanya: "menghadap, segera".
Ruangan Bhakim luas dan dingin. Di dinding tergantung foto-foto sang komisaris bersama pejabat-pejabat, piagam penghargaan, dan sebuah lukisan kapal layar yang besar. Bhakim duduk di balik meja kayu mengilap, menyeruput teh dari cangkir porselen, dan tersenyum saat Reksa masuk.
"Reksa. Duduk, duduk." Suaranya hangat, kebapakan. "Bagaimana, betah di sini? Hari-hari pertama memang berat, ya. Apalagi kamu langsung dapat insiden besar. Penembakan. Untung pembelaan diri. Kamu beruntung punya senior seperti Goldra yang membantu mengurus."
"Terima kasih, Pak," jawab Reksa hati-hati.
Bhakim meletakkan cangkirnya. Senyumnya tidak hilang, tapi matanya berubah, seperti air yang tiba-tiba dalam. "Saya dengar kamu rajin sekali belajar. Pinjam arsip. Cocok-cocokkan tanggal. Tanya-tanya orang di Pasar Lama." Ia membiarkan kalimat itu menggantung.
Reksa merasakan darahnya membeku. Bhakim tahu. Lebih dari yang ia kira. Ada yang melapor.
"Saya cuma ingin paham cara kerja kasus narkoba di sini, Pak," kata Reksa, menjaga suaranya tetap rata. "Biar bisa berkontribusi."
"Bagus. Ambisi yang bagus." Bhakim bangkit, berjalan ke jendela, menatap kota yang terhampar di bawah. "Tapi dengar nasihat orang tua, nak. Kota ini rumit. Ada keseimbangan yang sudah lama dijaga. Kalau kamu cabut satu batu sembarangan, kamu bisa meruntuhkan tembok yang menahan banyak hal di tempatnya. Kamu paham maksud saya?"
"Tidak terlalu, Pak."
Bhakim tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Maksud saya, ada kasus-kasus yang sudah ditangani oleh orang yang tepat, di tingkat yang tepat. Kamu, di posisimu, lebih baik fokus ke tugas-tugasmu. Patroli. Laporan kehilangan. Tilang. Itu kontribusimu sekarang. Soal narkoba kelas berat, biar atasan yang urus. Mengerti?"
Itu bukan saran. Itu perintah, dibungkus beludru.
"Mengerti, Pak," kata Reksa.
"Bagus." Bhakim kembali tersenyum lebar, kembali menjadi sang komisaris yang ramah. Ia merogoh laci, mengeluarkan sebuah amplop tebal, dan meletakkannya di meja di depan Reksa. "Ini. Anggap saja bonus untuk anggota berprestasi. Kamu sudah lewati masa sulit. Belikan sesuatu untuk dirimu. Atau kirim ke orang tua di kampung."
Reksa menatap amplop itu. Ia tahu persis apa isinya, dan apa artinya menerimanya. Itu rantai pertama. Sekali ia menerima, ia menjadi bagian dari mereka. Mereka akan punya pegangan atas dirinya.
Untuk sesaat, ia membayangkan ayahnya. Pedagang kecil yang pernah diabaikan. Lalu ia membayangkan Hendarta, sekarat di selokan. Bripka Lendra, mobilnya di dasar sungai.
Reksa berdiri, membiarkan amplop itu tetap di meja. "Terima kasih, Pak. Tapi saya rasa saya belum pantas. Saya baru beberapa minggu. Mungkin nanti, kalau saya sudah benar-benar berprestasi."
Hening sejenak. Senyum Bhakim mengeras sedikit, hanya sedikit, tapi Reksa menangkapnya. Penolakan itu, sekecil apa pun, adalah deklarasi.
"Tentu," kata Bhakim akhirnya, memasukkan kembali amplop ke laci. "Kamu memang berbeda. Kita lihat saja seberapa lama itu bertahan." Ia melambai ke arah pintu. "Sudah, sana. Banyak kerjaan."
Reksa keluar dari ruangan itu dengan kaki yang nyaris tidak terasa. Di lorong, ia berpapasan dengan Goldra yang menatapnya, lalu mengalihkan pandangan. Sekarang ia tahu siapa yang melapor.
Di tangga menuju lantai bawah, Reksa berhenti, bersandar ke dinding, menarik napas panjang. Ia baru saja menolak suap dari atasannya dan menolak perintah untuk berhenti. Tidak ada jalan mundur sekarang. Mereka tahu ia menggali, dan ia tahu mereka tahu.
Yang tidak ia sadari, di pojok lorong, sebuah kamera CCTV yang biasanya rusak, malam itu menyala, lensanya mengarah tepat ke wajahnya.