Reksa menghabiskan empat hari menyusun cara mendekati lelaki muda yang terasing itu, dan setiap rencana ia bongkar ulang sampai yang tersisa hanya yang paling aman dari semua yang tidak ada yang benar-benar aman.
Namanya, ia ketahui dari plat mobil dinas dan sedikit penyelidikan Pram dari luar, adalah Iptu Garda. Penyidik muda dari Polda, baru tiga tahun di unit pengawas, anak seorang guru dari kota kecil, tanpa kekayaan yang mencurigakan, tanpa jejak yang janggal di catatan yang bisa Pram akses. Bersih, di atas kertas. Tapi bersih di atas kertas adalah hal yang sama dengan yang dulu membuat Reksa percaya pada Sari.
"Aku nggak akan dekati dia sebagai diriku," kata Reksa kepada Sari. "Itu bunuh diri. Aku buron. Begitu aku sebut namaku, dia entah menangkapku atau melaporkanku, dan kalau dia kotor, aku mati sebelum sempat tahu."
"Jadi?"
"Aku akan uji dia dulu. Dari jauh. Tanpa menunjukkan wajahku. Aku kasih dia sepotong umpan, informasi yang spesifik, yang cuma bisa berarti sesuatu kalau dia menindaklanjutinya. Lalu aku lihat apa yang dia lakukan dengan informasi itu. Kalau dia bawa ke timnya yang kotor, informasi itu akan bocor, dan aku akan tahu. Kalau dia simpan, kalau dia kejar sendiri diam-diam, mungkin, cuma mungkin, dia bisa dipercaya."
Sari menatapnya lama. "Itu persis yang harusnya dilakukan penyidik betulan. Menguji sumber sebelum mempercayainya." Ada sesuatu yang nyaris seperti kebanggaan di matanya, dan sesuatu yang nyaris seperti kesedihan. "Kamu sudah belajar, Reksa. Dengan cara yang paling pahit."
Reksa menyiapkan umpannya dengan hati-hati. Sebuah amplop, dikirim lewat keponakan Pak Wira ke meja resepsionis hotel tempat tim Propam menginap, ditujukan khusus untuk Iptu Garda, tanpa pengirim. Di dalamnya, bukan bukti besar, bukan rekaman, bukan dokumen yang berharga. Hanya satu hal: nomor seri amplop suap yang dulu Reksa terima dari Goldra dan ia catat sebagai bukti, beserta tanggal dan keterangan singkat bahwa uang itu berasal dari aliran yang lebih besar. Informasi yang spesifik, yang bisa diverifikasi, tapi yang tidak membahayakan apa pun yang sungguh penting bila bocor.
Dan satu kalimat: "Kalau Anda benar-benar ingin tahu apa yang busuk di kantor ini, mulailah dari nomor-nomor seri ini. Jangan tunjukkan surat ini pada siapa pun di tim Anda. Kalau Anda tunjukkan, kita berdua akan tahu Anda bukan orang yang saya cari."
Lalu Reksa menunggu, dan mengawasi.
Selama dua hari, tidak terjadi apa-apa yang terlihat. Tapi pada hari ketiga, Reksa, dari posnya di warung seberang, melihat Iptu Garda keluar dari hotel sendirian, tanpa mobil dinas, naik ojek. Reksa mengikutinya dari jarak jauh, jantungnya berdebar. Garda tidak pergi ke Polsek. Ia pergi ke bank, bank yang nomor serinya tercantum di amplop, dan masuk sendirian dengan map di tangan. Sendirian. Tanpa timnya. Tanpa memberi tahu siapa pun.
Reksa menahan napas di kejauhan. Ini pertanda baik. Tapi pertanda baik bukan bukti.
Ia melanjutkan pengamatan selama tiga hari lagi. Garda menyelidiki diam-diam, dan yang lebih penting, informasi yang Reksa berikan tidak bocor. Tidak ada perubahan dalam gerak-gerik Bhakim, tidak ada pengetatan keamanan, tidak ada tanda bahwa komplotan tahu seseorang sedang mengendus nomor seri itu. Kalau Garda membawa surat itu ke timnya yang kotor, Reksa yakin ia akan melihat reaksinya. Tapi kota tetap tenang. Garda menyimpannya sendiri.
"Dia bersih," kata Reksa kepada Sari, meski ia menambahkan dengan segera, "atau dia sangat sabar dalam menjebakku."
Tapi yang membuat Reksa akhirnya memutuskan bukan hasil tesnya, melainkan sesuatu yang ia lihat di hari kelima. Garda, di sebuah warung kopi pinggir jalan, sendirian, membaca berkas dengan kening berkerut, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan dalam gestur yang Reksa kenali betul. Gestur orang yang baru saja menyadari bahwa ia berada di tengah sesuatu yang jauh lebih kotor dari yang ia kira, dan bahwa orang-orang yang seharusnya menjadi rekannya adalah bagian dari kebusukan itu. Gestur orang yang merasa sendirian di tempat yang seharusnya aman.
Reksa pernah membuat gestur yang sama. Di lorong Polsek, setelah menolak amplop Bhakim. Di warung tuli, setelah Dimas mati. Ia mengenali keterasingan itu seperti mengenali wajahnya sendiri di cermin.
"Tim ini punya dua wajah," kata Reksa malam itu, menambahkan catatan di dinding benang. "Tiga yang sudah dibeli, atau dikirim memang untuk menutupi. Dan satu, Garda, yang dikirim mungkin sebagai pelengkap, sebagai pemanis biar tim kelihatan kredibel, tanpa mereka sangka dia akan benar-benar menyelidiki. Mereka salah hitung. Mereka pikir dia akan ikut arus. Dia nggak."
"Dan kamu mau pertaruhkan semua pada satu orang yang baru kamu kenal lewat amplop?" tanya Sari.
Reksa menatap kotak bertanda tanya di dinding, lalu perlahan menghapus tanda tanya itu dan menggantinya dengan tanda lain, tanda yang belum penuh, tanda yang masih hati-hati, tapi bukan lagi sekadar pertanyaan.
"Belum semua," katanya. "Tapi cukup untuk satu langkah berikutnya. Pelan. Terukur. Kita kasih dia umpan yang lebih besar sedikit demi sedikit, sambil terus mengawasi. Kalau dia tetap bersih, dia jadi pintu kita ke dalam pengawas internal. Pintu pertama yang mungkin masih terbuka di kota ini." Ia menarik napas. "Dan kalau aku salah tentang dia, setidaknya aku salah pelan-pelan, bukan sekaligus."
Di luar petak, gerimis turun lagi, dan jauh di pusat kota, di kamar hotelnya, seorang penyidik muda terjaga sampai larut, dikelilingi rekan-rekan yang tidak bisa ia percaya, memegang sehelai surat tanpa nama yang baru saja mengubah seluruh penugasannya menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari evaluasi rutin. Reksa tidak tahu pikiran lelaki itu. Tapi ia tahu, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi buron, ada satu orang berseragam resmi di kota ini yang mungkin, hanya mungkin, sedang berdiri di sisi yang sama dengannya.