Kabar itu menyebar di Garumi seperti aroma hujan sebelum hujan turun: tim pengawas internal datang ke kota. Propam. Provos. Paminal. Orang-orang menyebutnya dengan berbagai nama, semuanya berarti satu hal, polisi yang mengawasi polisi.
Reksa mendengarnya pertama kali dari keponakan Pak Wira, lalu dari obrolan di warung yang ia sadap dengan telinga dari pinggir jalan, lalu dari Sari yang masih punya jaringan di dalam. Sebuah tim dari Polda turun ke Polsek Garumi Timur untuk "evaluasi internal dan klarifikasi sejumlah laporan". Mereka membawa surat resmi, membawa wewenang, membawa kuasa untuk memanggil siapa saja dan membuka berkas apa saja.
Untuk sesaat, di petak persembunyian itu, ada sesuatu yang nyaris seperti harapan.
"Mungkin laporan kita nggak sepenuhnya dikubur," kata Reksa, mondar-mandir di ruang sempit itu. "Mungkin sepotong sampai ke orang yang benar. Mungkin ini buahnya. Pengawas internal turun, berarti ada yang curiga di atas, ada yang mau bersih-bersih."
Tapi Sari, yang sudah dua belas tahun di dalam sistem itu, tidak ikut antusias. Ia duduk di sudut, merokok, menatap dinding penuh benang dengan tatapan orang yang sudah terlalu sering melihat harapan berubah jadi jebakan.
"Atau," kata Sari pelan, "ini cara mereka mengendalikan kerusakan. Pikir, Reksa. Kalau ada yang mulai berisik di luar, kalau berkas mulai beredar walau dikubur, apa yang dilakukan jaring yang pintar? Mereka nggak diam. Mereka kirim tim 'pengawas' mereka sendiri, yang kelihatan resmi, yang kelihatan bersih, untuk 'menyelidiki'. Lalu tim itu menyimpulkan tidak ada masalah, semua sudah diperiksa, kasus ditutup. Dan begitu ada stempel resmi 'sudah diperiksa, bersih', kasus kita mati untuk selamanya. Karena siapa yang berani buka lagi sesuatu yang sudah dinyatakan bersih oleh pengawas internal?"
Reksa berhenti mondar-mandir. Logika itu menohoknya. Ia teringat kata-kata Pram: jangan percaya satu instansi pun secara utuh. Dan ia teringat foto di koran, tamu kehormatan tanpa nama, tangan yang menjangkau sampai ke Polda. Kalau tangan itu sebesar yang ia duga, mengirim tim pengawas yang sudah dikendalikan bukan hal mustahil. Justru itu langkah yang cerdas.
"Jadi kita nggak bisa tahu," kata Reksa. "Tim ini bisa jadi penyelamat. Bisa jadi pembersih jejak. Dan dari luar, keduanya kelihatan persis sama."
"Persis sama," Sari mengangguk. "Sampai kita uji."
Selama tiga hari berikutnya, Reksa mengamati tim itu dari kejauhan dengan kehati-hatian yang ekstrem. Ada empat orang. Mereka menginap di sebuah hotel di pusat kota, datang ke Polsek setiap pagi dengan mobil dinas, memanggil personel satu per satu, membuka ruang arsip. Dari luar, semuanya tampak seperti pengawasan internal yang sungguhan.
Tapi Reksa, yang sudah belajar membaca gestur kuasa seperti ayahnya membaca tawar-menawar, memperhatikan detail-detail kecil. Salah satu dari mereka, lelaki bertubuh tegap dengan rahang keras, sekali waktu masuk ke ruangan Bhakim sendirian dan keluar setengah jam kemudian dengan raut yang terlalu santai, terlalu akrab, untuk seorang pemeriksa yang sedang memeriksa terperiksanya. Sementara yang lain, seorang lelaki yang lebih muda, lebih kurus, dengan mata yang gelisah, terlihat selalu sedikit terpisah dari ketiganya, makan sendirian, berjalan sendirian, seperti orang yang merasa tidak nyaman di antara rekan-rekannya sendiri.
"Empat orang," lapor Reksa kepada Sari malam itu. "Tapi mereka nggak satu. Aku lihat. Ada yang terlalu dekat dengan Bhakim. Dan ada satu yang kelihatan terasing, kayak dia nggak ikut bermain dalam permainan yang dimainkan tiga yang lain."
Sari menatapnya. "Kamu yakin?"
"Aku nggak yakin apa-apa," akui Reksa. "Tapi aku tahu satu hal. Tim yang seluruhnya kotor akan kompak. Mereka akan kerja seperti satu tangan. Tim ini nggak kompak. Ada celah di dalamnya. Sama seperti ada celah antara Goldra, Toni, dan Bhakim. Selalu ada celah, kalau kita cukup sabar mencarinya."
Ia menatap dinding benang, lalu menambahkan satu kartu baru di sana: empat kotak, mewakili empat anggota tim Propam, dan di antaranya, satu kotak yang ia beri tanda tanya. Lelaki muda yang terasing itu.
"Kalau ada satu yang bersih di tim itu," kata Reksa pelan, "dia adalah satu-satunya pintu resmi yang mungkin masih terbuka di kota ini. Tapi kalau aku salah, kalau dia umpan, mendekatinya berarti menyerahkan semuanya."
Sari mematikan rokoknya. "Seperti Sari di matamu dulu," katanya, dan ada getir dalam suaranya. "Kawan atau lawan, dari luar kelihatan sama."
Reksa tidak membantah. Karena memang begitu. Setiap kali kota ini menawarinya sebuah harapan, kota ini juga menyodorkan kemungkinan bahwa harapan itu adalah jerat. Tim pengawas yang turun ke Garumi adalah pisau bermata dua, dan ia belum tahu sisi mana yang menghadap kepadanya.
Yang ia tahu, ia harus mencari tahu. Dan untuk itu, ia harus melakukan hal paling berbahaya yang pernah ia lakukan sejak menjadi buron: mendekati salah satu dari mereka, dan mempertaruhkan segalanya pada tebakan tentang siapa yang masih bisa dipercaya.