Petunjuk pertama tentang nama itu datang bukan dari dokumen rahasia atau saksi yang ketakutan, tapi dari sesuatu yang sederhana dan mengerikan: sebuah foto lama di koran daerah yang Reksa temukan saat menelusuri arsip yayasan amal Bhakim di perpustakaan kota.
Ia datang ke perpustakaan menyamar sebagai mahasiswa yang mengerjakan skripsi tentang program sosial, kacamata dan map dan kemeja yang membuatnya tak menarik perhatian. Selama berjam-jam ia membolak-balik koran-koran lama, mencari foto-foto acara amal yayasan Bhakim, mencatat siapa saja yang berdiri di sebelahnya, siapa yang menggunting pita bersamanya, siapa yang namanya selalu muncul di bawah caption.
Dan di sebuah foto berusia dua tahun, peresmian sebuah panti, ia menemukannya. Bhakim berdiri di tengah, senyum lebarnya yang sudah ia kenal. Tapi di sebelahnya, sedikit ke belakang, berdiri seorang lelaki yang Reksa tidak kenali namun aura kuasanya terasa bahkan dari kertas koran yang menguning. Lelaki itu tidak tersenyum lebar. Ia berdiri tenang, tangan terlipat, seperti orang yang tahu ia tidak perlu menarik perhatian karena perhatian akan datang dengan sendirinya. Captionnya hanya menyebut: "dan tamu kehormatan".
Tamu kehormatan tanpa nama.
Reksa memotret halaman itu dan membawanya pulang. Malam itu, ia dan Sari menatap foto itu lama-lama di bawah cahaya lampu petak.
"Aku pernah lihat dia," kata Sari pelan, dan suaranya bergetar dengan cara yang jarang Reksa dengar. "Bukan di foto. Langsung. Bertahun-tahun lalu, waktu Lendra masih hidup. Dia datang ke kantor sekali, nggak pakai seragam, masuk ke ruangan Bhakim, semua perwira jadi tegang. Lendra bilang ke aku waktu itu, 'Sari, kalau orang itu yang datang, jangan ada yang berani angkat kepala.' Aku nggak pernah tahu siapa dia. Tapi aku ingat satu hal. Setelah dia datang, dalam dua bulan, Lendra mati."
Hening menyelimuti petak itu. Di luar, anjing menggonggong jauh, lalu sunyi.
"Jadi dia ada di atas Bhakim," kata Reksa. "Sejak dulu."
"Lebih dari di atas." Sari menatap foto itu seperti menatap hantu. "Bhakim itu pengelola. Dia yang jalankan operasi sehari-hari, dia yang dapat kotor tangannya. Tapi orang ini, siapa pun dia, dia yang punya kuasa untuk membuat Lendra hilang, untuk membuat berkas kita dikubur di tingkat pusat, untuk menekan redaksi sampai mundur. Bhakim nggak punya tangan sampai ke sana. Orang ini punya."
Reksa teringat kalimat Bhakim di hari pertama ia menyelidiki, kalimat yang Hendarta bisikkan di gang sempit: mereka ada di dalam, di kantor kalian sendiri. Dulu ia mengira "mereka" berarti Bhakim dan Goldra. Lalu ia mengira "mereka" berarti seluruh polsek yang busuk. Sekarang ia mengerti, "mereka" jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Mereka tidak hanya di kantornya. Mereka di kantor-kantor di atas kantornya, di kursi-kursi yang menentukan siapa yang diselidiki dan siapa yang dilindungi, siapa yang naik dan siapa yang hilang.
"Nama yang tak boleh disebut," gumam Reksa. Frasa yang dulu ia dengar dari Pak Wira tentang Toni, lalu dari Sari tentang Bhakim, kini punya makna baru yang jauh lebih gelap. Setiap kali ia mengira sudah sampai ke puncak, ada satu tangga lagi ke atas.
"Kita harus tahu namanya," kata Reksa.
"Itu yang paling berbahaya dari semua yang pernah kita lakukan," kata Sari. "Selama kita cuma kejar Bhakim, kita cuma masalah lokal. Begitu kita kejar orang ini, kita jadi masalah yang harus dibereskan dari tingkat yang jauh lebih tinggi. Lendra mati karena terlalu dekat dengan nama ini. Kamu paham itu?"
Reksa paham. Tapi ia juga paham hal lain. Bahwa selama nama itu tetap dalam bayang-bayang, setiap perjuangan mereka akan sia-sia. Mereka bisa menjatuhkan Bhakim, dan dalam enam bulan akan ada Bhakim baru, ditunjuk oleh tangan yang sama, melindungi bandar yang sama, mengubur penyidik yang sama. Memotong cabang tidak membunuh pohon. Mereka harus sampai ke akar.
"Pram harus tahu soal ini," kata Reksa. "Dia punya akses ke arsip nasional, ke jaringan jurnalis yang bisa menelusuri siapa orang di foto ini tanpa memicu alarm. Kita kasih dia fotonya. Pelan-pelan. Tanpa nama dulu, cuma wajah. Biar dia yang cari di luar, di tempat yang nggak diawasi."
Sari mengangguk, tapi matanya masih tertahan di foto itu, pada lelaki yang berdiri tenang di belakang Bhakim, pada hantu yang membunuh sahabatnya tiga tahun silam.
"Hati-hati, Reksa," katanya. "Kita baru saja menyebut nama yang tak boleh disebut. Dan di kota ini, menyebut nama itu, bahkan dalam bisikan, sudah cukup untuk membuat orang mati."
Reksa menatap foto itu untuk terakhir kalinya sebelum menyimpannya. Wajah tenang, tangan terlipat, kuasa yang tak perlu tersenyum. Ia tidak tahu nama itu. Belum. Tapi ia tahu sekarang bahwa pertarungannya baru saja naik ke tingkat yang bisa menelannya utuh.