Pram menelepon dari telepon umum di ibu kota, suara berderak melalui sambungan yang sengaja dibuat berlapis agar tak bisa dilacak, dan kabar yang ia bawa membuat Reksa terdiam lama di gang sempit tempat ia menerima panggilan itu.
"Laporan kita mentok," kata Pram, dan dalam suaranya ada kelelahan yang jarang Reksa dengar. "Aku sudah serahkan berkas pertama ke penyidik antikorupsi yang aku kira bersih. Orang yang direkomendasikan kenalanku, reputasinya bagus, track record-nya solid. Tapi tiga minggu, Reks. Tiga minggu nggak ada gerakan. Lalu aku dapat kabar dari dalam: berkasnya 'dievaluasi', terus 'dikoordinasikan', terus 'menunggu kelengkapan'. Itu bahasa birokrasi untuk dikubur."
Reksa bersandar ke dinding lembap gang, ponsel menempel di telinga. "Mereka jangkau sampai ke sana?"
"Aku nggak tahu apakah mereka jangkau orangnya, atau jangkau sistemnya. Tapi efeknya sama. Pintu yang aku kira terbuka, ternyata tertutup rapat. Ada tangan yang nutup dari dalam." Pram menghela napas. "Dan ada yang lebih buruk. Kemarin aku coba lewat redaksi media lokal di Garumi, lewat kenalan lama. Mereka tertarik, mereka mau angkat. Lalu tiba-tiba, dalam dua hari, mereka mundur. Pemimpin redaksinya bilang 'bukan momen yang tepat'. Aku tahu apa artinya itu. Mereka ditekan, atau dibeli, atau keduanya."
Reksa menutup matanya. Selama berbulan-bulan ia membangun keyakinan pada satu hal: bahwa di luar Garumi, di luar jangkauan Bhakim, ada dunia yang lebih bersih, ada hukum yang masih bekerja, ada pintu yang bisa diketuk. Pram adalah pintu itu. Mabes adalah pintu itu. Pers adalah pintu itu. Dan satu per satu, pintu-pintu itu tertutup di depan wajahnya.
"Berarti dia nggak sendirian," kata Reksa pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Pram. "Bhakim. Dia bukan ujung. Dia cuma simpul. Kalau berkas kita bisa dikubur di tingkat penyidik antikorupsi, kalau redaksi bisa ditekan untuk mundur, itu bukan kuasa seorang komisaris polsek. Itu kuasa yang lebih tinggi. Jauh lebih tinggi."
Hening di seberang sana. Lalu Pram berkata, dengan suara yang lebih rendah, lebih hati-hati, "Itu yang aku takutkan dari awal, Reks. Aku peringatkan kamu dulu: jangan percaya satu instansi pun secara utuh. Sekarang aku perjelas. Musuh kita bukan cuma orang di kantormu. Ada nama di atas Bhakim. Seseorang yang punya tangan di Polda, mungkin lebih atas. Seseorang yang Bhakim sendiri pun takut. Dan selama nama itu masih utuh, setiap pintu resmi yang kita ketuk akan ditutup dari dalam."
Reksa menatap mulut gang, ke arah cahaya jalan yang remang. Untuk pertama kalinya, gambaran besar itu menjadi nyata dengan cara yang membuatnya merinding. Selama ini ia membayangkan dirinya melawan satu orang busuk dan kaki tangannya. Sekarang ia mengerti, ia melawan sebuah jaring. Jaring yang naik dari gang sempit Pasar Lama, melalui meja lantai dua Polsek Garumi Timur, terus ke atas, melewati batas kota, ke ruangan-ruangan yang bahkan tak pernah ia lihat, ke kursi-kursi yang namanya tak berani disebut orang.
"Kalau semua pintu resmi tertutup," kata Reksa akhirnya, suaranya tenang dengan ketenangan orang yang sudah tidak punya pilihan untuk takut, "berarti kita nggak bisa lagi cuma menyerahkan berkas dan berharap. Mereka akan selalu menguburnya. Kita harus bikin sesuatu yang nggak bisa dikubur."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kita harus bikin keadaan di mana mereka nggak punya pilihan selain bertindak. Di mana semua pintu kebuka serentak, di luar dan di dalam, di pers nasional dan di Mabes, pada saat yang sama, sehingga nggak ada satu tangan pun yang cukup besar untuk menutup semuanya sekaligus." Reksa menarik napas. "Satu laporan, satu pintu, gampang dikubur. Tapi sepuluh pintu yang terbuka bersamaan, dengan pers menonton, dengan bukti yang sudah tersebar ke banyak tangan, itu nggak bisa dipeti-eskan. Bhakim, dan siapa pun di atasnya, harus memilih: bertindak, atau ketahuan menutupi."
Pram diam sejenak, lalu suaranya berubah, ada secercah hidup yang kembali. "Itu butuh persiapan berbulan-bulan. Bukti yang sempurna. Jaringan jurnalis yang luas. Penyidik yang benar-benar bersih, yang kita uji dulu. Dan waktu yang presisi."
"Kita punya waktu," kata Reksa, meski ia tidak yakin itu benar. "Yang kita nggak punya cuma satu kesempatan kedua kalau gagal."
Ia menutup telepon dan berdiri lama di gang gelap itu, gerimis mulai turun lagi, jenis gerimis Garumi yang ia kenal sejak hari pertamanya, yang membuat segalanya lembap dan kotor. Pintu-pintu resmi tertutup rapat di depannya. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat itu sebagai jalan buntu.
Ia melihatnya sebagai peta. Setiap pintu yang tertutup menunjukkan di mana tangan musuh berada. Dan kalau ia bisa memetakan semua tangan itu, ia bisa tahu persis di mana, suatu hari nanti, harus mendorong agar seluruh jaring runtuh sekaligus.
Musuhnya bukan satu komisaris. Musuhnya jaring yang naik sampai jauh di atas Garumi. Reksa menyalakan motornya dan melaju pulang ke petak persembunyian, kepalanya penuh dengan ukuran sebenarnya dari pertarungan yang baru saja ia pahami.