Telepon umum di warung pinggir jalan itu berdering tepat pukul delapan malam, dua hari kemudian. Reksa, yang sudah menunggu di sana selama satu jam sambil pura-pura menyeruput kopi, mengangkatnya pada dering kedua.
"Aku sendirian," suara di seberang itu gemetar. "Aku buang motor. Aku jalan kaki muter dulu. Nggak ada yang ikut. Sumpah."
Suara orang yang ketakutan tidak bisa dipalsukan dengan sempurna, dan Reksa, yang sudah terlalu sering mendengarnya, percaya pada nada itu lebih dari pada kata-katanya. Lelaki itu bernama Anwar, sopir truk yang Reksa ikuti tiga malam silam, yang mengantar barang Toni ke gudang baru. Ia ingin keluar. Ia punya istri yang baru melahirkan dan ia tidak ingin anaknya tumbuh tanpa ayah, atau lebih buruk, dengan ayah di penjara karena menanggung dosa orang lain.
"Aku tahu rute, aku tahu gudang baru, aku tahu jadwal," kata Anwar lewat telepon. "Aku bisa kasih semua. Tapi aku butuh dilindungi. Aku butuh dipindahkan. Aku butuh jaminan keluargaku aman."
Dan di situlah, di kalimat itu, harga seorang saksi menampar Reksa telak di wajah.
Karena ia tidak punya apa-apa untuk dijanjikan.
Ia buron. Tuduhan palsu menggantung di namanya, mencuri barang bukti, desersi. Ia tidak bisa mendatangi kantor mana pun di kota ini dan berkata, lindungi orang ini, ia saksi. Ia sendiri yang dicari. Ia tidak punya rumah aman resmi, tidak punya program perlindungan, tidak punya satu rupiah pun dari kas negara untuk memindahkan seseorang. Yang ia punya hanya petak sewaan, sebuah dinding penuh benang, dan janji yang ia sendiri tidak yakin bisa ditepati.
"Aku akan jujur sama kamu, Anwar," kata Reksa, dan ia merasakan beratnya kejujuran itu. "Aku nggak bisa kasih kamu jaminan resmi sekarang. Aku sendiri lagi dicari. Aku nggak punya kantor, nggak punya program. Yang bisa aku janjikan cuma ini: aku punya kontak di luar kota, orang yang nggak bisa dijangkau mereka. Kalau kamu kasih kesaksianmu, kesaksian itu akan jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, yang suatu saat akan meruntuhkan mereka semua. Dan begitu itu runtuh, kamu yang berani bicara duluan adalah yang paling terlindungi oleh hukum."
Hening panjang di seberang. Reksa bisa mendengar napas Anwar, berat, takut.
"Itu bukan jaminan," kata Anwar akhirnya, suaranya hampa.
"Bukan," akui Reksa. "Itu cuma harapan. Tapi diam juga bukan jaminan, Anwar. Diam nggak pernah menyelamatkan siapa pun di kota ini. Tanya Hendarta. Tanya Dimas. Mereka diam, lalu mereka tetap mati."
Ia mendengar Anwar menelan ludah. Ia tahu ia sedang melakukan sesuatu yang membuatnya muak pada dirinya sendiri: mendorong orang yang ketakutan ke tepi jurang dengan kalimat-kalimat tentang keadilan, sementara ia sendiri tidak bisa menjamin tali pengaman. Inilah dilema yang menggerogotinya sejak Dimas mati. Setiap saksi yang ia rekrut adalah nyawa yang ia pertaruhkan, dan ia tidak punya hak, tidak punya wewenang, tidak punya kuasa untuk menjamin nyawa itu.
Malam itu, kembali di petak, ia menceritakannya kepada Sari, dan untuk pertama kalinya suaranya pecah. "Aku nggak ada bedanya dengan mereka, Sari. Aku pakai orang. Aku pancing mereka dengan kata-kata mulia, lalu aku biarkan mereka menanggung risiko yang aku sendiri nggak bisa lindungi."
Sari diam lama. Lalu ia berkata, pelan, "Ada bedanya. Bhakim pakai orang lalu membuangnya begitu nggak berguna. Kamu pakai orang dan kamu nggak bisa tidur karenanya. Itu bedanya. Rasa bersalah yang menyiksamu itu yang bikin kamu bukan dia."
"Itu nggak menyelamatkan Anwar kalau dia mati."
"Nggak," kata Sari. "Tapi kita bisa kurangi risikonya. Kita nggak ambil kesaksiannya sekaligus. Kita ambil sepotong-sepotong, dari jauh, lewat telepon umum yang berganti-ganti. Kita nggak pernah ketemu dia langsung sampai ada perlindungan nyata. Kita simpan keluarganya jadi prioritas. Kita pelan. Pelan menyakitkan, tapi pelan bikin hidup."
Reksa mengangguk, lelah. Mereka menyusun protokol: Anwar memberi informasi sedikit demi sedikit, lewat telepon umum yang lokasinya selalu berganti, tanpa pernah bertatap muka. Setiap potong informasi disimpan, diverifikasi silang dengan dokumen yang sudah ada. Tidak ada pertemuan, tidak ada risiko terdeteksi sekaligus.
Tapi malam itu, sebelum tidur di lantai petak yang dingin, Reksa menatap langit-langit dan berpikir tentang harga. Setiap orang yang berani bicara di kota ini membayar dengan sesuatu. Hendarta dengan nyawanya. Dimas dengan nyawanya. Lendra dengan nyawanya. Dan sekarang Anwar mempertaruhkan masa depan bayinya pada janji yang Reksa sendiri tidak yakin bisa tepati. Keadilan, pikirnya, bukan barang gratis. Selalu ada yang membayarnya. Dan terlalu sering, yang membayar adalah yang paling kecil, yang paling tidak mampu.
Ia bersumpah dalam hati, untuk yang kesekian kali, bahwa Anwar tidak akan menjadi nama berikutnya di daftar orang hilang. Ia tidak tahu apakah ia bisa menepati sumpah itu. Tapi ia tahu, kalau ia berhenti berusaha, ia tidak punya alasan lagi untuk menyebut dirinya polisi.