Pesan itu datang lewat keponakan Pak Wira, ditulis tangan di balik selembar kertas pembungkus rokok: ada orang dari dalam Toni yang ingin bicara. Reksa membacanya tiga kali sebelum menunjukkannya kepada Sari, dan ketika Sari membacanya, wajahnya mengeras menjadi sesuatu yang Reksa tidak suka.
"Ini Dimas semua lagi," kata Sari. "Persis. Saksi dari dalam yang ketakutan, minta ketemu, di tempat sepi. Kamu tahu bagaimana Dimas berakhir."
"Aku tahu." Reksa duduk di lantai petak itu, kertas di tangannya. "Tapi kalau kita berhenti percaya pada setiap orang yang ketakutan, kita nggak akan pernah punya saksi. Dan tanpa saksi manusia, dokumen kita cuma kertas."
"Atau kita berjalan ke jebakan, dan kali ini nggak ada yang menarik kita keluar."
Mereka berdebat lama, suara rendah agar tidak terdengar tetangga petak sebelah. Pada akhirnya, yang memutuskan bukan keberanian, tapi metode. Sari, dua belas tahun jadi polisi, mengajari Reksa cara seorang penyidik bertemu sumber yang belum tepercaya: jangan pernah datang ke tempat yang dipilih sumber. Pilih sendiri. Jangan datang pada waktu yang ditentukan. Ubah. Datang lebih awal, amati, baru putuskan.
"Tempat netral," kata Sari. "Bukan netral menurut dia. Netral menurut kita. Tempat yang kita kuasai, banyak jalan keluar, banyak orang."
Mereka memilih sebuah terminal bus antarkota di siang bolong, jam ketika ribuan orang lalu-lalang, ketika satu wajah lenyap di antara seratus wajah. Reksa mengirim balasan: bukan tempat dan waktu yang diminta sumber, tapi tempat dan waktu pilihan mereka, dengan instruksi yang hanya bisa dipahami orang yang benar-benar ingin bicara, bukan orang yang ingin menjebak.
Hari itu, Reksa tiba dua jam lebih awal. Ia duduk di warung di sudut terminal, menyamar sebagai penumpang yang menunggu bus, ransel di pangkuan, topi menutupi wajah. Sari berada di sisi lain, di lantai dua, mengawasi dari atas. Mereka berkomunikasi lewat earphone, suara nyaris berbisik.
"Aku lihat dia," kata Sari pukul satu siang. "Laki-laki, kemeja kotak-kotak, sendirian. Gelisah. Sesuai deskripsi."
"Ada yang ikuti dia?"
Hening. Sari memindai kerumunan dengan mata terlatih. "Belum kelihatan. Tapi tunggu." Jeda panjang. "Ada dua orang di parkiran. Duduk di motor, nggak turun, nggak pergi. Mengawasi pintu masuk."
Jantung Reksa berdetak keras. Bisa jadi calon penumpang. Bisa jadi pengawas. Ia tidak bergerak. Ia menunggu, membaca, seperti ayahnya membaca pembeli yang berlama-lama tapi tak kunjung membeli.
Lelaki berkemeja kotak-kotak itu duduk di bangku tunggu yang Reksa tentukan, menunggu, melirik jam berkali-kali, keringat membasahi keningnya. Lima belas menit berlalu. Dua orang di parkiran masih di sana.
"Mereka pengawas," putus Reksa pelan. "Dia diikuti. Entah dia tahu atau nggak."
"Batalkan," kata Sari segera. "Kita pergi."
Tapi Reksa mengamati lebih lama. Lelaki itu, raut wajahnya, gerak gelisahnya, tidak terlihat seperti orang yang sedang memasang jebakan. Ia terlihat seperti orang yang dijaga, yang tahu ia diawasi, yang datang justru dengan risiko nyawanya sendiri. Ada perbedaan halus antara umpan dan tahanan, dan Reksa, yang pernah menjadi keduanya, mulai bisa membedakannya.
"Dia bukan jebakan," kata Reksa. "Dia diawasi. Dia datang dengan dua orang Toni di punggungnya. Kalau aku dekati dia sekarang, kita berdua ketahuan."
"Jadi?"
Reksa berdiri perlahan, ransel di bahu, dan berjalan melewati lelaki itu tanpa menoleh. Saat melintas, ia menjatuhkan secarik kertas ke pangkuan lelaki itu, gerakan sekejap mata yang tak terlihat dari parkiran. Di kertas itu: sebuah nomor warung telepon umum, sebuah jam, sebuah kalimat. "Kalau kamu sungguh mau keluar, telepon sendirian, tanpa ekor. Kalau kamu cuma umpan, jangan repot-repot."
Lalu Reksa berjalan keluar lewat pintu yang berlawanan arah dari parkiran, lenyap ke dalam kerumunan, jantungnya berdebar tapi langkahnya tenang.
Malam itu, di petak persembunyian, Sari masih kesal. "Kamu ambil risiko terlalu besar."
"Aku ambil risiko yang terukur," balas Reksa. "Kalau dia umpan, dia nggak akan berani telepon tanpa ekor, karena yang mengendalikannya nggak akan membiarkannya. Kalau dia sungguh mau keluar, dia akan cari cara. Telepon itu saringannya."
Ia menatap dinding berisi benang merah dan biru. Bayangan Dimas masih menggantung di setiap rencana yang melibatkan saksi. Tapi Reksa tahu, ia tidak bisa membiarkan kematian satu orang membuatnya berhenti melindungi yang berikutnya. Karena itulah, pikirnya, yang membedakan dirinya dari Bhakim. Bhakim membuang orang. Ia, betapapun takutnya, masih mencoba menyelamatkan mereka.
Telepon itu, kalau memang berdering, akan menentukan apakah ia benar.