Toni bukan tipe orang yang gelisah di tempat umum, jadi ketika kabar itu sampai ke Reksa, ia tahu sesuatu telah bergeser jauh di dalam jaringan itu.
Kabar itu datang lewat jalur yang tak terduga: seorang anak buah Pak Wira, keponakan si tua yang dulu menjaga kios rokok sebelum kios itu ditutup paksa. Anak muda itu kini menarik becak motor di pelabuhan dan, karena bensin yang Reksa belikan dan janji yang Reksa tepati untuk tidak menyebut namanya, ia bercerita.
"Bos Toni marah-marah terus seminggu ini," kata anak itu, melinting rokok dengan tangan yang lihai. "Anak buahnya pada takut. Katanya pengiriman ditunda. Gudang dikosongin separuh. Barang dipindah malam-malam ke tempat lain, nggak ada yang tahu ke mana. Bos Toni bilang situasi lagi panas, semua harus diam dulu."
"Panas kenapa?" tanya Reksa, meski ia sudah menduga jawabannya.
"Katanya ada orang dalam yang bocor. Bos Toni curiga sama orang seragam. Dia bilang, dia yang nanggung risiko paling besar, dia yang barangnya bisa kena, tapi yang dilindungi malah yang di kantor. Dia ngomel terus, Mas. Bilang kalau ada apa-apa, dia nggak mau jadi satu-satunya yang masuk."
Reksa mencatatnya dalam kepala, satu kalimat demi satu. Dia nggak mau jadi satu-satunya yang masuk. Itu kalimat seorang bandar yang mulai melihat bayangan penjara dan tidak suka melihat dirinya sendirian di dalamnya.
Malam itu ia dan Sari menyusun ulang peta di dinding kamar kos persembunyian mereka yang baru, sebuah rumah petak di gang sempit yang disewa Sari atas nama orang lain. Benang merah dan biru menghubungkan foto, tanggal, dan nama. Di tengah, tiga wajah: Bhakim di puncak, Toni di samping, Goldra di bawah.
"Toni merasa terancam karena tekanan kita," kata Sari, berdiri dengan tangan bersilang menatap dinding. "Operasi bocor, dia harus mindahin barang, itu rugi besar. Tiap hari barang nggak jalan, dia bakar uang. Dan dia mulai ngerasa Bhakim nggak menjamin apa-apa."
"Bhakim aman karena tangannya bersih di kertas," kata Reksa. "Toni yang punya gudang, punya barang, punya kurir. Kalau ada penangkapan, Toni yang ketahuan duluan. Bhakim cuma perlu cuci tangan." Ia menempelkan foto baru di dinding, gambar gudang pelabuhan yang sekarang setengah kosong. "Toni mulai sadar dia diperas dari dua sisi. Dari kita, yang bikin operasinya macet. Dan dari Bhakim, yang ambil bagian tapi nggak nanggung risiko."
"Bandar yang gelisah itu bandar yang berbahaya," Sari memperingatkan. "Dia bisa jadi nekat. Dia bisa bersihin saksi-saksinya sendiri, kayak Bhakim bersihin Dimas. Justru karena takut, dia bisa lebih kejam."
Reksa tahu Sari benar. Tapi ia juga tahu satu hal lain, sesuatu yang ia pelajari dari ayahnya di pasar puluhan tahun lalu. Pedagang yang panik adalah pedagang yang menjual murah. Toni sedang panik. Dan orang yang panik membuat kesalahan.
"Aku mau tahu ke mana barang dipindahkan," kata Reksa.
Sari menoleh tajam. "Itu pancingan ke kematian. Kamu lupa pelabuhan? Kamu hampir mati di sana."
"Aku nggak akan ke gudangnya. Aku akan ikuti kurirnya." Reksa menunjuk satu nama kecil di pojok peta, sopir truk yang dua kali muncul dalam foto pelabuhannya. "Orang seperti dia nggak digaji untuk setia. Dia digaji untuk takut. Kalau Toni mulai mindahin barang sembarangan karena panik, prosedur jadi berantakan, dan orang-orang kecil di bawah jadi yang paling rapuh."
Mereka mengikuti truk itu tiga malam berturut-turut. Dua malam pertama nihil, hanya pengiriman ikan asli ke pasar subuh, kamuflase yang sempurna. Tapi malam ketiga, truk itu menyimpang dari rute, masuk ke kompleks pergudangan baru di pinggir kota, jauh dari pelabuhan, sebuah lokasi yang tidak pernah muncul di dokumen mana pun.
Reksa memotret dari jauh, dadanya sesak oleh adrenalin yang sudah ia kenal. Lokasi baru. Tempat persembunyian baru Toni. Bukti bahwa bandar itu benar-benar gelisah, benar-benar memindahkan jantung operasinya karena takut.
"Kita simpan ini," kata Reksa, menurunkan kamera. "Belum dipakai. Tapi suatu saat, kalau Toni mulai mencari cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri, kita yang tahu di mana letak tawar-menawarnya."
Di kejauhan, lampu gudang baru itu padam satu per satu, dan kota kembali tenggelam ke dalam gelap. Tapi Reksa tahu, di balik tenang itu, seorang bandar sedang terjaga semalaman, menghitung berapa lama lagi tangan yang melindunginya akan tetap menggenggam, atau melepas.