Reksa mempelajari musuh seperti ayahnya dulu mempelajari pelanggan: bukan dari apa yang mereka katakan, tapi dari cara mereka berdiri saat menawar. Dan pagi itu, dari balik kaca film warung kopi seberang Polsek Garumi Timur, ia melihat sesuatu yang baru pada Aiptu Goldra.
Lelaki tambun itu keluar dari gerbang kantor lebih awal dari biasanya, tanpa kopi di tangan. Ia berdiri sebentar di trotoar, menyalakan rokok dengan korek yang gagal dua kali, lalu menyusuri tepi jalan dengan kepala menunduk. Bukan langkah orang yang merasa berkuasa. Itu langkah orang yang sedang menghitung pintu keluar.
"Dia gugup," kata Reksa pelan. Di sebelahnya, di balik topi dan kacamata, Sari mengaduk kopinya yang sudah dingin.
"Goldra nggak pernah gugup," balas Sari. "Dia bagian dari mesin. Mesin nggak gugup."
"Mesin gugup kalau salah satu rodanya mulai goyang." Reksa meletuskan buku catatan kecil di pangkuannya, membaca ulang yang sudah ia susun selama dua minggu terakhir. Sejak laporan resmi mereka diblokir di atas dan rekaman Dimas akhirnya berbunyi di telinganya, ia berhenti melihat "mereka" sebagai satu tubuh. Goldra, Toni, Bhakim. Tiga orang. Tiga ketakutan yang berbeda. Dan ketakutan yang berbeda berarti kepentingan yang berbeda.
Ia mulai membaca celahnya. Goldra adalah kaki tangan, bukan otak. Ia menerima recehan dari kue yang dinikmati Bhakim utuh. Selama bertahun-tahun itu cukup, karena risikonya kecil dan uangnya rutin. Tapi sekarang ada penyidik buron, ada rekaman yang beredar, ada nama yang mulai disebut orang di luar kota. Goldra tahu satu hukum lama: kalau kapal tenggelam, yang pertama ditenggelamkan bukan nakhoda, melainkan kelasi yang tahu terlalu banyak.
"Dia takut dijadikan tumbal," kata Reksa.
Sari menyandarkan punggungnya. "Kalau aku Bhakim, dan aku harus mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan diri, aku akan korbankan Goldra tanpa kedip. Goldra penghubung lapangan. Dia yang antar amplop, dia yang atur Hendarta ke gang, dia yang melapor. Dia titik sambung antara meja bersih Bhakim dan tangan kotor Toni. Potong dia, dan Bhakim tetap bersih di kertas."
"Dan Goldra cukup tua untuk tahu itu." Reksa menutup buku catatannya. Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi buron, ia merasakan sesuatu yang nyaris seperti tanah berpijak. Bukan kekuatan. Tapi sebuah retak. Garis halus di tembok yang selama ini terlihat utuh.
Mereka mengikuti Goldra dari kejauhan sepanjang pagi, dua sepeda motor yang berganti-ganti memimpin agar tak menarik perhatian. Goldra tidak pulang ke rumah dinas. Ia singgah di tiga tempat: sebuah bank yang sudah jelas bukan tempat ia menabung gaji bripda, sebuah bengkel yang tutup tapi pintunya terbuka untuknya, dan terakhir, yang membuat Reksa menahan napas, sebuah rumah makan padang di pinggir kota tempat ia bertemu seseorang berkemeja rapi yang Reksa kenali dari foto pelabuhan. Orang Toni. Bukan Toni sendiri.
"Mereka rapat tanpa Bhakim," bisik Sari lewat earphone, dari motornya yang parkir seberang jalan. "Goldra dan orang Toni. Berdua. Tanpa komisaris."
Itu informasi mahal. Selama ini "satu tangan" itu, kata orang, kepolisian dan bandar yang menyatu. Tapi tangan yang menyatu pun punya jari-jari yang bisa saling mencurigai. Goldra dan Toni sama-sama tahu bahwa kalau Bhakim runtuh, mereka berdua yang paling banyak meninggalkan jejak. Dan keduanya, mungkin, mulai memikirkan satu hal yang sama: bagaimana selamat jika kapal benar-benar karam.
Reksa mengamati dari kejauhan, lensa tele menangkap dua wajah yang condong rendah di atas meja, suara yang tak terdengar tapi gestur yang berbicara. Tegang. Curiga. Tawar-menawar.
"Mereka mulai nggak percaya satu sama lain," kata Reksa setelah Goldra pergi dan ia menurunkan kamera. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena ia tahu apa yang baru saja ia lihat. "Bhakim mengira dia mengendalikan semua. Tapi di bawahnya, dua orang sudah mulai berhitung sendiri."
Sari naik ke trotoar tempat Reksa berdiri, menarik topinya lebih rendah. "Jadi apa rencananya?"
Reksa menatap rumah makan yang sudah kosong, asap rokok masih menggantung di udara kosong itu. Selama berbulan-bulan ia bertahan hidup dengan lari, bersembunyi, mengumpulkan. Reaktif. Selalu selangkah di belakang.
"Kita berhenti memperlakukan mereka sebagai satu tembok," katanya. "Tembok nggak bisa dirobohkan dari luar kalau kita cuma berdua. Tapi tembok yang sudah retak di dalam, cukup didorong di tempat yang tepat." Ia memasukkan kamera ke dalam tas. "Kita cari retaknya. Lalu kita lebarkan."
Untuk pertama kalinya sejak fajar di pelabuhan, Reksa bukan lagi buruan yang lari. Ia mulai memburu.