Di antara semua bukti yang mereka kumpulkan, ada satu yang selama ini Reksa simpan terpisah, hampir terlupakan, di lipatan paling dalam tasnya: amplop kecil yang dulu ia terima dari Goldra, di hari-hari ketika ia berpura-pura jinak. Uang "kerja sama", yang setiap lembarnya ia catat nomor serinya, ia foto, ia simpan tanggalnya, sebelum sebatang pun ia belanjakan. Sebuah rantai yang mereka kira mengikatnya, yang ia ubah diam-diam menjadi tali jerat.
"Kita punya rekaman Bhakim dan Toni," kata Reksa malam itu, mengeluarkan amplop itu dan meletakkannya di atas meja seolah sebuah kartu yang ia simpan untuk momen yang tepat. "Tapi rekaman itu menjerat puncak. Untuk merobohkan benteng, kadang lebih mudah mulai dari batu yang paling rapuh. Dan batu paling rapuh di sini adalah Goldra."
Sari mengambil amplop itu, menatap uang di dalamnya, lalu daftar nomor seri yang Reksa lampirkan. "Goldra memberimu ini langsung. Tangan ke tangan."
"Tangan ke tangan," Reksa mengangguk. "Tidak ada perantara. Aku bisa bersaksi soal kapan, di mana, dalam keadaan apa. Dan nomor serinya tercatat, terdokumentasi sejak hari aku menerimanya. Kalau kita bisa hubungkan uang ini ke sumbernya, ke penarikan tunai yang dilakukan dari rekening yang terkait jaringan, maka Goldra tidak bisa berkata ini fitnah. Uang yang ada di tangannya, yang ia berikan padaku, secara fisik terhubung ke aliran dana kotor itu."
Sari meletakkan amplop perlahan, dan Reksa melihat roda berputar di kepalanya, naluri penyidik dua belas tahun yang bangun penuh. "Goldra bukan otak. Dia kaki tangan. Dan kaki tangan selalu yang paling takut, karena dia yang paling sedikit dilindungi. Bhakim punya pengacara, punya yayasan, punya 'bos' di atas. Toni punya uang dan jaringan. Tapi Goldra? Goldra cuma punya gaji polisi dan amplop-amplop seperti ini. Kalau dia merasa akan dikorbankan, dia akan ketakutan. Dan orang yang ketakutan, bisa kita pakai."
"Bukan untuk sekarang," kata Reksa. "Kita belum siap menekan dia. Sekali kita munculkan amplop ini ke hadapan Goldra, kita membuka kartu, dan dia akan lari ke Bhakim. Tapi kita simpan ini, kita perkuat, kita siapkan. Saat tiba waktunya membuat retak di barisan mereka, ini palu kita. Bukti suap, terdokumentasi, dengan saksi mata, dengan nomor seri yang bisa dilacak. Goldra akan dihadapkan pada pilihan: tenggelam bersama Bhakim, atau bicara dan menyelamatkan diri."
Reksa mengambil kembali amplop itu, menatapnya di bawah cahaya lampu kos yang temaram. Ia teringat hari ia menerimanya, betapa kotor tangannya terasa, betapa ia harus menahan mual saat menyimpannya di saku sambil tersenyum pada Goldra. Saat itu ia merasa seperti menjual sebagian dirinya, meski ia tahu itu hanya pura-pura. Tapi sekarang, benda kecil yang dulu terasa seperti noda di hati nuraninya, ternyata bisa menjadi salah satu kunci yang meruntuhkan mereka. Ada keadilan yang aneh dalam itu, pikirnya. Uang yang dimaksudkan untuk membelinya, akan menjadi bukti yang menjerat tangan yang menawarkannya.
"Kamu tahu," kata Sari, menatapnya, "kalau dulu kamu menerima amplop ini dan membelanjakannya, kamu cuma jadi satu lagi polisi busuk yang mereka rekrut. Tapi kamu malah mencatat nomor serinya. Sejak hari pertama, kamu sudah berpikir akan sampai ke titik ini. Apa kamu memang sengaja?"
Reksa terdiam, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan jujur. "Tidak. Saat itu aku tidak punya rencana besar. Aku cuma... tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ayahku selalu menyimpan setiap kuitansi, setiap catatan, bahkan untuk transaksi terkecil. Bukan karena ia curiga pada semua orang. Karena ia pernah kehilangan segalanya gara-gara satu transaksi yang tidak ia catat, satu kepercayaan yang salah. Jadi aku mencatat. Itu saja. Kebiasaan. Naluri anak pedagang." Ia mengangkat amplop itu sedikit. "Ternyata naluri itu yang menyelamatkan kita berkali-kali."
Ia menyimpan amplop itu kembali ke tempat persembunyiannya, terpisah dari berkas utama, bersama salinan asli bukti yang bahkan Sari tidak tahu lokasi pastinya, kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan sepenuhnya. Lalu ia kembali ke meja, ke kertas-kertas, ke pekerjaan yang tak pernah selesai. Di luar, gerimis berubah menjadi hujan, dan sirene melolong di kejauhan, naik dan turun, naik dan turun, seperti napas kota yang tak pernah benar-benar tidur. Reksa mendengarkannya sejenak, lalu menunduk kembali ke pekerjaannya. Benteng itu masih berdiri kokoh di lantai dua kantor yang dulu ia banggakan. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasa telah menemukan batu pertama yang bisa ia goyahkan.