Kalau mereka tidak bisa menang lewat satu pintu, dan tidak bisa berharap pada belas kasih sistem, maka satu-satunya jalan adalah membangun sebuah kasus yang begitu rapat sehingga tidak ada pengacara, tidak ada hakim yang dibeli, tidak ada celah prosedur yang bisa merobohkannya. Reksa dan Sari menghabiskan hari-hari berikutnya berubah dari buron yang lari menjadi penyidik yang menyusun berkas, di sebuah kamar kos sempit yang berbau kopi instan dan kertas.
"Kalau kita bawa ini ke pengadilan suatu hari," kata Sari, menatap tumpukan dokumen, "pengacara mereka akan mencabik setiap kelemahan. Bukti diperoleh tanpa surat? Buang. Rantai penyimpanan barang bukti putus? Buang. Saksi yang tidak konsisten? Hancur. Mereka punya pengacara terbaik yang bisa dibeli uang narkoba. Kita harus berpikir seperti mereka, dan menutup setiap lubang sebelum mereka menemukannya."
Reksa, yang dua belas tahun lebih muda dari Sari dalam pengalaman tapi sama tekunnya dalam ketelitian, mengangguk. Ini ranah yang ia hormati: angka, tanggal, urutan, logika. Ia membuka buku catatannya, halaman demi halaman yang ia isi sejak hari pertama, dan mulai menyusun kronologi.
"Kita mulai dari awal," katanya. "Penembakan Hendarta. Tanggal, jam, lokasi. Lalu kejanggalan: kremasi cepat, narkoba yang tidak dicatat, berkas yang diproses terlalu rapi. Setiap kejanggalan ini, kita tunjukkan, bukan kebetulan, tapi pola. Kita susun berdampingan dengan operasi-operasi yang bocor. Setiap kali ada penggerebekan yang gagal, kita tunjukkan tanggalnya, siapa yang menandatangani persetujuan, dan bagaimana lokasinya selalu kosong saat tim datang. Korelasi tanggal, Sari. Itu yang tidak bisa dibantah. Sekali, dua kali, bisa kebetulan. Tapi belasan kali, dengan satu nama selalu di rantai persetujuan? Itu pola yang berbicara sendiri."
Sari menatapnya dengan sesuatu yang mendekati kekaguman. "Kamu betul-betul anak pedagang, ya. Kamu membaca kasus ini seperti buku kas."
Reksa tidak tersenyum. "Ayahku selalu bilang, angka tidak pernah berbohong, yang berbohong itu orang yang menafsirkannya. Tugas kita membuat angka-angka ini berbicara begitu jelas sampai tidak ada yang bisa menafsirkannya jadi sesuatu yang lain."
Mereka bekerja berlapis. Aliran uang yayasan dipetakan dengan tanggal transfer yang persis, dicocokkan dengan jadwal serah-terima yang disebut dalam rekaman Dimas. Dokumen CV Bahari Jaya disandingkan dengan plat mobil Toni, dengan foto-foto pelabuhan yang Reksa ambil sendiri di malam-malam pengintaian. Setiap potongan diberi tanggal, sumber, dan, sebisa mungkin, cara perolehan yang bisa dipertanggungjawabkan. Yang diperoleh dengan cara yang tidak sah, mereka tandai terpisah, sebagai petunjuk yang harus diperkuat ulang lewat jalur yang sah nantinya, agar tidak meracuni berkas utama.
"Ini bagian yang penting," kata Reksa, mengetuk sebuah map. "Rantai penyimpanan barang bukti. Rekaman Dimas. Kalau kita asal serahkan, mereka akan bilang kita memalsukannya, mengeditnya. Jadi kita catat: di mana ditemukan, kapan, siapa yang hadir, bagaimana disimpan sejak ditemukan. Kita tidak boleh menyentuh aslinya lebih dari perlu. Kita buat salinan untuk dianalisis, aslinya kita amankan, tidak tersentuh, supaya kalau ahli forensik memeriksanya nanti, mereka bisa membuktikan tidak ada manipulasi."
Sari mengangguk perlahan, dan ada sesuatu yang berubah di wajahnya, semacam kehormatan profesi yang ia kira sudah lama mati dalam dirinya, bangkit kembali. "Ini yang seharusnya kita lakukan dari awal, di kantor. Penyidikan yang benar. Bukan menutup-nutupi, bukan memelintir. Penyidikan yang jujur. Lucu, ya. Kita harus jadi buron dulu untuk akhirnya bekerja seperti polisi yang sebenarnya."
Kalimat itu menggantung di udara kamar kos yang pengap. Reksa berhenti menulis sejenak. Sari benar, dan kebenaran itu pahit. Mereka berdua, dua orang yang dicap pencuri barang bukti dan desertir, yang dikejar seragam mereka sendiri, justru kini melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi alasan mereka memakai seragam itu sejak awal. Mengumpulkan bukti dengan teliti. Menghormati prosedur. Membangun kebenaran yang tahan diuji. Sementara mereka yang masih bebas berkeliaran di kantor itu, dengan pangkat dan kuasa, sibuk menghancurkan kebenaran yang sama.
"Saat ini selesai," kata Reksa pelan, menatap map-map yang tertata, "kasus ini harus bisa berdiri sendiri. Tanpa kita. Bahkan kalau kita berdua tidak ada untuk membela, dokumen ini harus cukup kuat untuk berbicara di ruang sidang sendirian. Karena kita tidak tahu apakah kita akan hidup untuk melihatnya."
Sari menatapnya, dan untuk sekali ini ia tidak membantah, tidak menghibur. Ia hanya mengangguk, dan kembali bekerja. Di luar jendela, gerimis mulai turun lagi, menetes di atap seng dengan irama yang sabar. Reksa menulis sampai larut, satu tanggal demi satu tanggal, satu rantai demi satu rantai, membangun tameng dari kebenaran, satu-satunya tameng yang ia punya di kota tempat seragam tidak lagi melindungi siapa pun.