Lantai dua Polsek Garumi Timur adalah wilayah para perwira. Karpetnya lebih bersih, pendingin udaranya lebih dingin, dan udaranya selalu terasa lebih hati-hati. Di ujung lorong, ada ruangan dengan plang nama yang berkilau: Komisaris Bhakim, Kepala Satuan Reserse Narkoba.
Reksa belum pernah benar-benar bicara dengan Komisaris Bhakim, kecuali saat upacara penyambutan personel baru. Lelaki berusia lima puluhan itu punya senyum lebar, jam tangan mahal, dan reputasi sebagai perwira yang "dekat dengan masyarakat". Foto-fotonya menghiasi koran lokal: meresmikan pos kamling, membagikan sembako, menggunting pita acara amal.
Tapi angka-angka tidak bisa berbohong, dan Reksa pandai membaca angka.
Selama dua minggu, dengan dalih mempelajari prosedur, Reksa meminjam arsip-arsip lama dari ruang berkas. Ia mencocokkan tanggal operasi yang gagal dengan jadwal dinas. Setiap kali sebuah penggerebekan bocor, satu nama selalu ada di rantai persetujuan: ruangan di lantai dua itu menandatangani, lalu mengubah, lalu menunda.
Ada pola lain yang lebih halus. Beberapa pengedar yang ditangkap selalu dilepas dengan alasan "kurang bukti", padahal berita acaranya lengkap. Dan dalam dua kasus, barang bukti yang disita, narkoba seberat beberapa kilogram, dilaporkan dimusnahkan, tapi berat yang dimusnahkan jauh lebih kecil dari yang disita. Selisihnya hilang entah ke mana.
Reksa menyalin diam-diam, memotret dengan ponsel pribadinya saat tidak ada orang. Tangannya berkeringat setiap kali ada langkah kaki mendekat. Ia tahu apa yang ia lakukan ini berbahaya. Ia bukan penyelidik internal. Ia hanya seorang bripda di hari ke sekian, pangkat paling bawah di kantor itu, jauh di bawah Aiptu Goldra, apalagi sang komisaris.
Suatu sore, ketika ia sedang menutup laci arsip, sebuah suara mengagetkannya.
"Cari apa, dik?"
Reksa berbalik. Aiptu Goldra, senior yang bersamanya di malam penembakan, berdiri di pintu. Senyumnya ramah, tapi matanya tidak.
"Cuma belajar format berita acara, Pak," kata Reksa secepat mungkin, menutup laci. "Biar nggak salah waktu bikin laporan."
"Rajin sekali kamu." Goldra masuk, mengambil sebatang rokok tapi tidak menyalakannya. "Tahu nggak, dik. Di kantor ini, ada hal-hal yang lebih baik nggak usah dilihat. Bukan karena rahasia. Tapi karena nggak ada gunanya buat kamu. Kamu masih muda. Masa depan masih panjang."
Reksa mengangguk, pura-pura paham. Tapi di dalam, jantungnya berdebar. Goldra tahu. Atau setidaknya, curiga.
Malam itu, Reksa menemui Sari di sebuah warung mi di pinggir kota, jauh dari kantor. Ia menunjukkan foto-foto dokumen di ponselnya, satu per satu, suaranya nyaris berbisik.
"Kamu lihat ini," kata Reksa. "Operasi bocor. Tersangka besar dilepas. Barang bukti susut. Dan semuanya lewat satu meja."
Sari menatap layar lama-lama. Wajahnya pucat di bawah lampu warung yang temaram. Ia tidak terkejut. Itu yang membuat Reksa merinding. Ia sudah tahu.
"Kamu tahu kamu sedang menatap apa, kan?" kata Sari akhirnya. "Ini bukan satu dua orang nakal. Ini sistem. Toni mengedarkan barang, dan ada yang melindunginya dari dalam supaya dia tidak pernah tersentuh. Imbalannya uang. Banyak uang. Dan yang berani lawan..." Ia berhenti.
"Hilang," Reksa menyelesaikan. "Seperti Hendarta."
Sari mengangguk pelan. "Dulu ada penyidik di sini. Namanya Bripka Lendra. Dia mulai gali yang sama persis seperti yang kamu gali sekarang. Tiga tahun lalu. Mobilnya nyemplung ke sungai di jalan tol. Katanya kecelakaan. Mabuk, katanya. Padahal aku kenal dia. Dia nggak minum."
Ruang di antara mereka mendadak terasa dingin. Reksa menelan ludah. Untuk pertama kalinya, bahaya itu terasa nyata, bukan sekadar angka di kertas.
"Jadi aku harus diam?" tanya Reksa.
Sari menatapnya lama. "Aku nggak bilang gitu. Aku cuma bilang, kalau kamu mau lanjut, kamu harus lebih pintar dari mereka. Dan kamu harus tahu siapa kawan, siapa lawan. Karena di kantor itu," ia menunjuk ke arah kota, ke arah cahaya kantor yang jauh, "lebih banyak lawan daripada kawan."