Pram menyarankan satu langkah uji sebelum serangan serentak: menebar sedikit, ke media lokal, untuk mengukur seberapa jauh jangkauan Bhakim merentang ke luar tembok kepolisian. Bukan bukti utama, hanya umpan kecil. Sebuah petunjuk soal kejanggalan dana yayasan amal, dilempar ke satu wartawan lokal yang Pram kenal masih punya nurani.
"Kalau berita kecil ini saja sudah dibungkam," kata Pram lewat sambungan terenkripsi, "kita tahu jangkauan mereka jauh lebih luas dari yang kita kira. Lebih baik kita tahu sekarang daripada kaget di hari serangan."
Wartawan lokal itu bernama Bu Ratih, jurnalis senior sebuah koran daerah yang dulu pernah seangkatan kuliah dengan Pram. Reksa tidak pernah bertemu langsung; semua lewat Pram, semua lewat perantara, mengikuti prinsip berlapis yang sudah jadi napas mereka. Bu Ratih, kata Pram, perempuan keras kepala yang sudah dua kali nyaris dipecat karena menolak menurunkan berita.
Selama tiga hari, ada secercah harapan. Bu Ratih tertarik. Ia menggali sendiri, memverifikasi sebagian data yayasan, menemukan kejanggalan yang sama. Ia menulis draf. Sebuah artikel hati-hati, tidak menyebut nama Bhakim langsung, hanya mempertanyakan transparansi dana sebuah yayasan amal yang sumbangannya tidak wajar. Cukup untuk membuka percakapan. Cukup untuk mengusik.
Lalu, pada hari keempat, artikel itu tidak terbit.
Pram mengabari dengan suara yang lebih datar dari biasanya. "Berita itu ditarik. Bukan oleh Ratih. Oleh redaksi, dari atas. Pemimpin redaksi memanggil Ratih, bilang artikelnya 'belum cukup matang', 'butuh konfirmasi lebih banyak', dan menyuruhnya pegang dulu. Tapi Ratih cerita, di hari yang sama, pemred dapat telepon. Dan keesokan harinya, ada iklan korporat besar masuk ke koran itu. Dari sebuah perusahaan yang, kalau kamu telusuri pemiliknya, terhubung ke jaringan yang sama."
Reksa menggenggam ponsel erat-erat, rahangnya mengeras. "Jadi mereka tidak menekan dengan ancaman. Mereka menekan dengan uang."
"Itu yang lebih menakutkan," kata Pram. "Ancaman meninggalkan jejak. Uang tidak. Sebuah iklan, sebuah 'kerja sama media', sebuah amplop ke pemred. Bersih, legal di permukaan, dan jauh lebih efektif. Mereka tidak perlu membunuh wartawan, Rek. Mereka cukup membeli korannya."
Reksa berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota Garumi yang berkedip di malam hari. Selama ini ia membayangkan musuhnya sebagai sesuatu yang berbatas: kantor Polsek, lantai dua, ruangan ber-AC dengan lukisan kapal layar. Tapi setiap kali ia mendorong, batas itu menghilang, melebar, merembes ke tempat-tempat yang ia kira aman. Pers, yang seharusnya menjadi mata publik, ternyata bisa dipejamkan dengan iklan. Koran, yang seharusnya menjadi suara, bisa dibungkam dengan kerja sama bisnis. Jaring itu bukan hanya di dalam kepolisian. Jaring itu menjalar ke ruang redaksi, ke ruang rapat perusahaan, ke setiap tempat di mana uang bisa berbicara lebih keras dari kebenaran.
"Bu Ratih bagaimana?" tanya Reksa. Pertanyaan yang sudah menjadi refleks: siapa lagi yang akan jatuh karena membantunya.
"Dia marah. Tapi dia aman, untuk sekarang. Dia tidak menyimpan apa pun yang menghubungkannya ke kita. Aku menjaga itu." Pram diam sejenak. "Tapi pelajarannya jelas, Rek. Kita tidak bisa mengandalkan satu media lokal. Mereka terlalu mudah dibeli, terlalu dekat. Saat kita serang, kita harus serang lewat media nasional, beberapa sekaligus, di luar Garumi, yang iklan kecil tidak bisa menggoyahkan. Dan serentak, supaya saat satu ditelepon, yang lain sudah tayang."
Reksa mengangguk, meski Pram tidak bisa melihatnya. Setiap kegagalan, ia mulai menyadari, mengajarkan sesuatu tentang bentuk sebenarnya dari musuh. Dan musuh yang sebenarnya jauh lebih besar dari satu komisaris dengan senyum lebar. Ia adalah sebuah sistem yang punya tangan di kepolisian, di bisnis, dan kini ia tahu, di pers. Setiap tangan itu, ia membayangkan, akhirnya bertemu di satu tempat, di satu suara yang menyebut dirinya "bos" dalam rekaman, suara yang belum punya wajah.
Malam itu Reksa menulis di catatannya, dengan tangan yang lebih lelah dari biasanya, satu baris: pers lokal jatuh. Mereka membeli, bukan mengancam. Lapisan lebih luas dari kepolisian. Ia menatap baris itu lama, lalu menambahkan, di bawahnya: serentak, atau tidak sama sekali. Itu, ia tahu sekarang, bukan lagi sekadar strategi Pram. Itu satu-satunya hukum yang berlaku di kota tempat sirene tidak pernah datang menolong, dan kebenaran selalu bisa dibeli sebelum sempat dicetak.