Pram menelepon dari nomor yang berbeda lagi, lewat aplikasi terenkripsi yang ia ajari Reksa pasang. Suaranya, lewat dengung sambungan yang aman, terdengar lelah tapi tegas, suara seorang lelaki yang sudah lama berperang di medan yang sama dari sisi lain.
"Aku sudah baca semua yang kamu kirim," kata Pram. "Aliran uang yayasan, dokumen Bahari Jaya, dan rekaman itu. Rek, rekaman itu... itu emas. Tapi emas yang berbahaya. Sekali ini bocor sebelum waktunya, kamu kehilangan elemen kejut, dan mereka akan menghapus setiap jejak rekening dalam semalam."
Reksa duduk di lantai kos, lutut tertekuk, ponsel di telinga. "Lalu apa langkah yang benar? Aku polisi, Pram. Naluri pertamaku adalah bawa ini ke jalur resmi. Mabes punya satuan yang menangani polisi nakal. Propam. Atau Divisi Profesi. Kalau aku serahkan ke mereka—"
"Dengar aku dulu," potong Pram, dan ada urgensi dalam suaranya. "Aku dulu di dalam, sepertimu. Aku keluar bukan karena aku menyerah. Aku keluar karena aku belajar satu hal yang pahit: kalau kamu serahkan bukti ke satu instansi resmi, dan satu saja orang di rantai itu busuk, buktimu menguap dan kamu mati. Kasus Lendra, kasus Dimas, semua diberkaskan rapi oleh jalur resmi. Yang membunuh mereka memakai prosedur. Jangan pernah percaya satu pintu saja. Tidak Mabes, tidak Propam, tidak siapa pun. Bukan karena semuanya busuk. Tapi karena kamu tidak tahu mana yang busuk."
Reksa menutup mata. Ini bertentangan dengan segala yang diajarkan akademi. Dilatih untuk percaya pada sistem, pada rantai komando, pada prosedur. Tapi sistem itulah yang merekayasa penembakan pertamanya, yang membungkam barang bukti, yang mengkremasi Hendarta dalam dua hari.
"Lalu bagaimana?" tanya Reksa.
"Strategi yang aman cuma satu," kata Pram. "Serentak. Kita susun semuanya jadi satu paket yang tidak bisa dibantah. Lalu kita kirim ke beberapa pintu sekaligus, di hari yang sama, jam yang sama. Penyidik antikorupsi di Mabes yang sudah aku verifikasi rekam jejaknya, bersih, bukan bagian dari struktur Polda Garumi. Plus pers, beberapa media sekaligus, supaya tidak bisa ditekan satu per satu. Plus arsip publik yang sudah aku siapkan, yang otomatis terbuka kalau aku berhenti memberi kabar. Mereka tidak bisa membungkam semua pintu dalam satu malam. Begitu satu pintu terbuka, yang lain ikut. Itu satu-satunya cara membuat bukti seperti ini tidak bisa di-peti-eskan."
Reksa membuka matanya, menatap kertas-kertas di dinding. Ada logika dingin dalam kata-kata Pram, logika yang ia akui benar, meski membuat dadanya sesak. Ia ingin percaya bahwa ada satu meja bersih di Mabes yang kalau ia datangi, semuanya akan beres. Bahwa keadilan bisa datang lewat satu surat resmi. Tapi ia sudah cukup melihat untuk tahu bahwa harapan itu adalah harapan anak kecil.
"Aku ingin percaya pada satu pintu," kata Reksa pelan. "Aku ingin percaya kalau aku datang ke orang yang benar di Mabes, dia akan menanganinya seperti seharusnya. Apa aku naif kalau masih ingin itu?"
Hening sejenak di seberang. Lalu suara Pram melembut. "Tidak. Kamu tidak naif. Kamu cuma masih punya sesuatu yang aku sudah lama kehilangan. Jaga itu. Tapi jangan biarkan itu membunuhmu. Kita coba pintu Mabes, Rek. Aku punya satu nama yang aku percaya, namanya akan aku kirim terpisah. Tapi kita coba dengan jaring pengaman. Kita tidak bertaruh seluruh nyawa kita pada satu orang, sebersih apa pun dia."
Mereka menyepakati langkah pertama: Pram akan menghubungi penyidik yang ia maksud, secara hati-hati, lewat perantara, untuk menguji apakah kanal itu aman, sebelum sebutir pun bukti dikirim. Ujian, lagi. Selalu ujian sebelum kepercayaan. Reksa sudah lelah hidup dengan cara ini, tapi ia tahu inilah satu-satunya cara ia masih hidup.
Setelah sambungan terputus, Reksa duduk lama dalam diam. Sari menatapnya dari sudut ruangan.
"Pram benar," kata Sari. "Aku tahu kamu ingin satu jalan yang lurus dan bersih. Kita semua ingin. Tapi jalan lurus di kota ini selalu ada lubangnya."
Reksa mengangguk pelan. Ia teringat kalimat yang ia bawa sejak akademi, yang ditanamkan ayahnya dan diulang Pram: jadilah polisi yang dulu kamu harapkan datang menolong. Tapi malam ini, ia menyadari sesuatu yang menyakitkan. Polisi yang dulu ia harapkan datang menolong, mungkin sudah pernah ada. Mungkin namanya Lendra. Mungkin ia menggali kebenaran yang sama, percaya pada satu pintu resmi, dan jasadnya kini di dasar sungai. Reksa tidak boleh datang lewat satu pintu. Ia harus datang lewat semuanya sekaligus, atau tidak datang sama sekali.