Tiga hari setelah rekaman itu mereka temukan, S.D. mengirim pesan yang membuat darah Reksa mendingin.
"Goldra mencurigai ada kebocoran di kantor. Dia mulai memeriksa siapa yang punya akses ke berkas Dimas. Aku salah satu yang bisa diakses ke draf itu. Aku takut. Kalau dia sampai ke aku, aku habis. Kalian harus tahu, aku ambil risiko besar untuk kalian."
Reksa membaca pesan itu dua kali. Inilah yang ia takutkan sejak awal melibatkan orang lain. Setiap sekutu adalah pintu baru bagi musuh untuk masuk. Dimas mati karena bicara. Pak Wira diintimidasi sampai menutup kios. Dan sekarang S.D., yang baru mulai ia percaya, sudah terancam hanya karena membantunya menemukan jejak rekaman.
"Goldra pintar dengan caranya sendiri," kata Sari, membaca pesan itu dari balik bahu Reksa. "Dia bukan otak seperti Bhakim. Tapi dia anjing pemburu yang baik. Sekali dia mencium kebocoran, dia tidak berhenti sampai menemukan sumbernya."
Reksa berjalan ke jendela, menatap atap-atap seng kota Garumi yang basah. Ia merasakan beban yang sudah akrab, beban setiap orang yang ikut ia tarik ke dalam pusaran ini. Lendra. Dimas. Pak Wira. Sari, yang nyaris mati di gudang pelabuhan. Dan kini suara tak bernama di balik ponsel prabayar, yang mempertaruhkan kariernya, mungkin nyawanya, untuk membantunya.
"Aku tidak bisa membiarkan dia tertangkap," kata Reksa. "Bukan karena dia berguna. Karena dia membantu kita, dan kalau dia jatuh karena itu, darahnya di tanganku."
"Kamu tidak bisa menyelamatkan semua orang, Reksa," kata Sari, suaranya lembut tapi getir, suara seseorang yang sudah belajar pelajaran itu dengan harga mahal. "Aku pernah berpikir begitu. Aku ingin menyelamatkan Lendra, lalu aku takut, lalu aku diam, lalu dia mati. Bertahun-tahun aku menghukum diriku. Tapi kebenaran yang lebih pahit adalah: dalam perang seperti ini, orang baik jatuh. Kalau kamu menyalahkan dirimu untuk setiap orang yang jatuh, kamu tidak akan sampai ke ujung."
Reksa berbalik menatapnya. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang ia sendiri belum sepenuhnya pahami. "Kalau aku berhenti merasa bersalah untuk setiap orang yang jatuh, Sari, aku jadi seperti mereka. Bhakim tidak pernah merasa bersalah. Goldra tidak. Itu yang memisahkan kita dari mereka. Kalau aku kehilangan itu, aku menang dengan menjadi musuhku sendiri."
Sari diam. Ia tidak membantah, dan dalam diamnya ada semacam hormat, dan mungkin sedikit kekhawatiran, untuk anak muda yang masih memegang erat sesuatu yang ia sendiri sudah lama relakan.
Reksa kembali ke ponsel. Ia harus memutuskan cepat. Menarik S.D. keluar terlalu dini berarti kehilangan mata di dalam, mata yang sangat ia butuhkan. Tapi membiarkannya tanpa perlindungan, sambil Goldra mengendus, berarti mengorbankannya seperti Dimas. Ia teringat satu hal yang ayahnya ajarkan tentang melindungi sesuatu yang berharga: kadang cara terbaik menyembunyikan sesuatu bukan menjauhkannya, tapi mengubur jejak di sekelilingnya.
Ia mengetik, hati-hati.
"Dengar. Jangan panik, panik itu yang membuat orang ketahuan. Goldra memeriksa siapa yang punya akses. Jadi kita beri dia tersangka lain. Apakah ada orang di kantor yang sudah pindah, sudah pensiun, atau sudah keluar, yang dulu punya akses ke berkas itu? Seseorang yang tidak bisa lagi dijangkau Goldra dengan mudah?"
Balasan datang setelah jeda panjang. "Ada. Seorang staf yang dipindah ke Polda dua bulan lalu. Dia masih punya akun lama yang belum dinonaktifkan."
"Bagus," ketik Reksa. "Kamu akses berkas itu lewat akun lama dia, sekali, dari komputer yang biasa dia pakai dulu. Tinggalkan jejak yang mengarah ke dia. Goldra akan menemukan jejak orang yang sudah pindah, di luar jangkauannya, dan dia akan mengejar bayangan. Itu memberimu waktu."
Ia menekan kirim, lalu menatap layar dengan perasaan aneh. Ia baru saja mengajari seseorang cara menanam jejak palsu, cara mengalihkan pemburu ke sasaran yang salah. Cara mereka. Persis cara Bhakim mengalihkan kecurigaan ke Sari. Persis cara Goldra mengarang laporan rapi. Ia melakukannya untuk melindungi orang baik, ya. Tapi alatnya sama. Tangan yang sama yang dulu ia sumpah tidak akan ia gunakan.
Reksa menatap pantulan wajahnya di kaca jendela yang gelap, samar di balik bayangan kota. Untuk sesaat, ia tidak yakin siapa yang menatap balik. Polisi muda yang berdiri di lobi Polsek di hari pertama, kaku dalam seragam yang masih berbau toko, atau seseorang yang pelan-pelan belajar berpikir, bergerak, dan menipu seperti orang-orang yang ingin ia hancurkan. Garis itu, ia tahu, menipis setiap hari. Dan suatu malam, ia takut, ia tidak akan lagi bisa melihat perbedaannya.