Suara ketiga itu sudah menghantui Reksa sejak malam di rumah Bu Inah, dan sejak wajah perantara di rekaman warung kopi cocok dengan bayangan di pelabuhan. Ia tahu suara itu ada. Ia tahu lelaki itu berdiri di atas Bhakim. Tapi malam ini, dengan rekaman dari Bu Inah diputar berkali-kali, telinga ditempel ke speaker kecil perekam, mata terpejam, ia memburu sesuatu yang lebih spesifik: bukan keberadaan suara itu, melainkan satu kalimat yang bisa membuktikan apa peran lelaki itu. Sari sudah tertidur di kursi, kelelahan akhirnya menang. Tapi Reksa tidak bisa tidur. Ia anak pedagang; ayahnya mengajarinya bahwa dalam setiap transaksi, yang penting bukan hanya angka yang disebut, tapi juga siapa saja yang berdiri di sekeliling meja.
Dan di rekaman itu, suara ketiga yang sudah mereka kenal itu, ternyata mengucapkan sesuatu yang sebelumnya terlewat.
Pada putaran kelima, ia menangkapnya. Di sela percakapan Toni dan Bhakim, di latar belakang yang jauh, suara ketiga itu mengucapkan beberapa kata pendek. Mudah terlewat di antara dengung percakapan utama. Tapi sekali Reksa mendengarnya jernih, ia tidak bisa lagi tidak mendengarnya.
"...jangan di sini. Bos tidak suka membahasnya di tempat begini."
Bos. Suara ketiga itu menyebut bos. Dan suara itu mengatakannya kepada Toni dan Bhakim, dua orang yang selama ini Reksa kira berada di puncak. Bahkan si perantara, yang sudah berdiri di atas mereka berdua, ternyata masih menjawab pada seseorang. Seseorang yang bahkan Bhakim, sang komisaris, sang otak korupsi lokal, harus tunduk.
Reksa membangunkan Sari, tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih buruk: kesadaran bahwa lubang ini bahkan lebih dalam dari yang sudah mereka kira.
"Dengar bagian ini," katanya, memutar potongan itu. "Suara ketiga yang kita kenal. Tapi dengar apa yang dia bilang."
Sari, yang masih setengah tidur, langsung waspada penuh saat suara itu terdengar. Ia membuat Reksa memutarnya tiga kali lagi. Wajahnya, yang sudah sering pucat dalam perjalanan ini, kini kehilangan warna sama sekali.
"Aku tahu suara itu si perantara," kata Sari pelan. "Tapi dia menyebut bos. Dia pun masih punya atasan." Ia menelan ludah. "Dua belas tahun aku di Garumi. Aku kenal hampir semua suara yang berpangkat di kota ini. Tapi yang dia panggil 'bos' itu, aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana mencarinya."
"Berarti dia dari luar," kata Reksa. "Dari atas. Polda. Atau lebih tinggi. Seseorang yang bahkan perantara Bhakim pun memanggilnya 'bos'."
Keduanya terdiam. Lampu jalan jingga menyusup lewat tirai, jatuh di lantai, di antara mereka. Reksa merasakan dunia yang sudah ia anggap sempit, satu komisaris busuk dan satu bandar, tiba-tiba melebar di sekelilingnya, gelap dan tanpa dasar. Selama ini ia membayangkan kemenangan sebagai menjatuhkan Bhakim. Menyeret komisaris itu ke sidang, membuktikan ia mencuci uang darah lewat sembako, membebaskan Garumi dari satu tangan busuk. Tapi kalau Bhakim sendiri hanya tangan, kalau ada yang menggerakkan tangan itu dari tempat yang lebih tinggi dan lebih gelap, maka menjatuhkan Bhakim saja tidak akan menyelesaikan apa pun. Tangan baru akan tumbuh.
"Aku pernah dengar Pram bilang sesuatu," kata Reksa pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Bahwa korupsi yang bertahan lama tidak pernah cuma satu orang. Selalu ada lapisan. Yang di bawah mengotori tangan, yang di tengah mengatur, yang di atas cuma menerima dan melindungi, dan tidak pernah, tidak pernah, menyentuh barang itu sendiri. Sampai sekarang aku kira Bhakim yang di atas."
"Dia tidak," kata Sari. "Dia cuma di tengah."
Pikiran itu, sekali masuk, mengubah segalanya. Reksa menatap perekam di tangannya. Tadinya ia merasa benda ini cukup. Sekarang ia tahu, benda ini baru membuka pintu pertama ke sebuah lorong yang jauh lebih panjang. Dan setiap pintu di lorong itu, ia sadar, dijaga oleh seseorang yang punya kuasa lebih besar, jangkauan lebih jauh, dan lebih sedikit alasan untuk membiarkan dua orang buron tetap bernapas.
"Apa kita teruskan?" tanya Sari, dan dalam pertanyaan itu ada kelelahan yang dalam, kelelahan dua belas tahun ditambah berbulan-bulan lari. "Kita bisa bawa yang kita punya sekarang ke Pram. Rekaman ini cukup untuk menghancurkan Bhakim dan Toni. Kita bisa berhenti di sini. Menang sebagian. Hidup."
Reksa memandangnya lama. Godaan itu nyata. Menjatuhkan Bhakim saja sudah lebih dari yang dicapai siapa pun di Garumi selama bertahun-tahun. Lendra mati mencoba. Dimas mati mencoba. Mereka bisa berhenti, menyerahkan yang ada, dan menjadi orang pertama yang berhasil memutus satu mata rantai.
Tapi ia teringat wajah Hendarta yang sekarat di selokan, bisikannya: mereka ada di dalam, di kantor kalian sendiri. Ia teringat ayahnya, yang bilang keadilan setengah adalah ketidakadilan yang dirapikan. Kalau ia menjatuhkan Bhakim tapi membiarkan "bos" yang di atas tetap di kursinya, suatu hari akan ada Toni baru, Bhakim baru, Hendarta baru di selokan baru. Lingkaran tidak akan putus. Hanya satu mata rantai yang diganti.
"Kita tidak berhenti," kata Reksa, suaranya pelan tapi pasti. "Tapi kita tidak gegabah. Bhakim dulu yang kita robohkan, karena dia yang bisa kita jangkau. Tapi kita simpan suara ketiga ini. Kita cari tahu siapa dia. Pelan-pelan. Karena suatu hari, lorong ini harus kita lewati sampai ujungnya."
Di luar, sirene melolong lagi, jauh, lalu sunyi. Reksa menatap gelap di balik tirai, dan untuk pertama kalinya ia bertanya-tanya bukan apakah ia bisa menang, tapi seberapa tinggi ia harus mendaki sebelum sampai ke orang yang tidak pernah menyentuh barang itu sendiri.