Dua hari berlalu, dan rumah kosong di Jalan Bandeng tetap kosong. Tidak ada mobil yang datang. Tidak ada orang yang menyatroni, mengobrak-abrik, mencari. Kang Endang melaporkan hanya seekor kucing dan seorang tukang loak yang lewat. Untuk pertama kalinya sejak ia kabur, Reksa merasakan sesuatu yang nyaris asing: secuil kepercayaan yang ia peroleh, bukan diberikan secara cuma-cuma.
"Dia bersih," kata Reksa, meski suaranya masih hati-hati. "Setidaknya untuk tes ini. Belum berarti dia kawan. Tapi dia bukan saluran bocor langsung ke Bhakim."
"Pelan-pelan," Sari mengingatkan. "Satu tes tidak membersihkan seseorang. Tapi cukup untuk mulai bekerja dengannya. Hati-hati."
Sumber dalam itu, yang Reksa mulai sebut dalam catatannya hanya sebagai "S.D." untuk keamanan, ternyata berguna. Lewat dia, mereka mendapat satu petunjuk yang menambal lubang dalam berkas. Perekam dari Bu Inah sudah di tangan mereka, suara Bhakim sudah mereka dengar, tapi Dimas, yang tidak percaya siapa pun, ternyata tidak menaruh segalanya di satu tempat. S.D. mengabari bahwa dalam berkas internal kematian Dimas, yang diberkaskan rapi sebagai overdosis, ada satu detail yang dihapus dari laporan resmi tapi sempat tercatat di draf awal. Saat ditemukan, Dimas memegang sebuah kunci kecil. Kunci itu tidak pernah masuk daftar barang bukti. Lenyap. Tapi seorang petugas sempat mencatat bentuknya di draf: kunci loker, bertuliskan nama sebuah tempat penitipan.
"Tempat penitipan barang di terminal bus lama," kata Reksa, membaca pesan S.D. dengan jantung berdebar. "Bukan stasiun. Terminal. Dimas pintar. Dia simpan cadangan, di tempat yang gampang ditebak siapa pun selain dia."
Masalahnya, kunci itu lenyap. Tapi Reksa, yang menghabiskan masa kecilnya di pasar, tahu satu hal tentang loker dan tempat penitipan murahan: mereka jarang benar-benar aman. Penjaga tua, sistem kuno, duplikat kunci yang menggantung di papan.
Mereka pergi ke terminal bus lama pada sore yang mendung, berpakaian sederhana, berbaur dengan penumpang dan calo. Bau solar, gorengan basi, dan kencing kucing menyatu di udara. Tempat penitipan itu cuma sederet loker besi karatan dijaga seorang kakek yang mengantuk di balik meja kayu. Sari, dengan ketenangan dua belas tahun pengalaman menghadapi orang, mengobrol dengan si kakek, bercerita tentang keponakan yang menitipkan barang lalu meninggal mendadak, keluarga yang ingin mengambil barang almarhum, kunci yang hilang entah ke mana. Air mata yang pas. Uang yang diselipkan dengan sopan, bukan sebagai suap, tapi sebagai "pengganti repot".
Si kakek, yang tidak peduli pada apa pun selain ketenangannya sendiri, akhirnya mengambil kunci induk dari laci. Nomor loker yang S.D. sebutkan dari draf laporan, tujuh belas, terbuka dengan derit besi tua.
Di dalamnya, sebuah tas kain kumal. Reksa membukanya dengan tangan yang ia paksa agar tidak gemetar. Bukan perekam, perekam itu sudah ada di tangan mereka sejak rumah Bu Inah. Yang ada di sini berbeda: sebuah ponsel butut dan secarik kertas dengan tulisan tangan terburu-buru, daftar angka-angka, nomor rekening. Cadangan Dimas. Apa yang ia titipkan di tempat kedua, kalau-kalau yang pertama jatuh ke tangan yang salah.
Mereka tidak membuka apa pun di tempat itu. Reksa memasukkan semuanya ke ranselnya, mengangguk berterima kasih pada kakek penjaga, dan berjalan keluar dengan langkah yang sengaja santai meski darahnya berdesir. Hanya setelah mereka kembali ke kos, mengunci pintu, menutup tirai, barulah Reksa menyalakan ponsel butut itu.
Baterai masih menyimpan sedikit daya. Layar kecil berkedip, lalu menyala. Di galeri, beberapa foto buram: tas-tas hitam berpindah tangan di pintu sebuah ruko, plat mobil, satu wajah yang setengah tertutup topi. Dan di aplikasi pesan, sederet percakapan singkat dengan nomor tanpa nama, soal "setoran bulan ini", soal "yang biasa", angka-angka yang persis sama dengan yang disebut Bhakim dalam rekaman dari Bu Inah.
Reksa mencocokkan nomor rekening di kertas dengan yang ia catat dari rekaman. Sama. Setiap digit.
Reksa duduk diam, ponsel dan kertas di tangannya, dan merasakan kepingan yang sudah ia dengar di rumah kumuh malam itu kini punya tubuh kedua yang menopangnya. Perekam dari Bu Inah memberi mereka suara; cadangan dari loker ini memberi mereka angka, foto, dan jejak digital yang menguatkannya. Dua saksi bisu dari satu lelaki mati, saling mengunci, sulit dibantah pengacara mana pun.
Sari menutup mulutnya dengan tangan. Matanya basah. "Dimas," bisiknya. "Bahkan dia tidak percaya satu tempat saja. Dia menitipkan dua kali, supaya kalau yang satu hilang, yang lain selamat."
Reksa tidak berkata apa-apa. Ia menatap benda-benda di tangannya, dan untuk sesaat ia merasakan beban berat yang asing: ini bukan lagi sekadar kecurigaan, bukan lagi satu suara yang bisa dibilang rekayasa. Ini suara, angka, dan gambar sekaligus. Sudah cukup untuk membuat orang mati. Sudah membuat orang mati. Ia menggenggamnya erat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa mereka tidak lagi hanya bertahan hidup. Mereka mulai menyerang.