Mobil hitam itu datang persis pukul delapan lewat tiga menit. Plat luar kota. Masuk lewat gerbang belakang Polsek Garumi Timur, menghindari buku tamu, menghindari mata. Sopir angkot yang Reksa titipi, lelaki tua bernama Kang Endang, mencatatnya tanpa tahu artinya, lalu mengirim deskripsi lewat anaknya yang punya ponsel. Mobil hitam. Sedan. Empat angka belakang plat yang Endang ingat separuh. Tamu yang tidak tercatat.
Sumber dalam itu benar.
Reksa duduk diam di kos, ponsel prabayar di tangan, dan merasakan dua hal sekaligus bertarung di dadanya. Lega, karena ini berarti ia mungkin punya sekutu nyata di jantung musuh. Dan waspada, karena justru ketepatan itulah yang membuatnya takut. Orang yang bisa memprediksi gerak Bhakim sedetail ini, bisa juga sedang memainkannya.
"Dia lulus tes pertama," kata Sari, mengintip dari balik tirai jendela seolah Polsek bisa melihat mereka dari jauh. "Tapi tes pertama itu murah. Mungkin mereka memang sengaja mengatur mobil itu lewat, supaya kita percaya."
"Aku tahu," kata Reksa. "Makanya kita tidak boleh berhenti di sini. Kita harus menguji dia dengan cara yang menyakiti mereka kalau dia bohong."
Ini pelajaran yang ia bayar mahal. Pengkhianatan, atau apa pun yang terjadi dengan Sari di malam-malam itu, mengajarinya satu hal yang tidak diajarkan di akademi: kepercayaan bukan diberikan, ia diuji. Dan cara menguji sebuah saluran adalah dengan mengalirkan air yang ditandai, lalu melihat di selokan mana ia muncul.
"Kita kasih dia informasi palsu," kata Reksa. "Sesuatu yang unik. Yang hanya dia yang dengar. Kalau informasi itu sampai ke Bhakim dan mereka bertindak berdasarkan itu, kita tahu dia bocor. Kalau tidak ada reaksi, kita mulai percaya."
Sari mengangguk perlahan, tapi keningnya berkerut. "Umpan apa?"
Reksa sudah memikirkannya. "Kita bilang ke dia, kita punya petunjuk soal rekaman Dimas. Bahwa Dimas menitipkan rekaman itu pada seseorang sebelum mati, dan kita hampir menemukan orang itu, di sebuah alamat tertentu. Alamat yang kita karang. Rumah kosong di pinggir kota yang kebetulan aku tahu betul. Kalau dia jujur, alamat itu tetap kosong dan sepi. Kalau dia bocor, dalam dua hari akan ada orang Bhakim yang menyatroni rumah itu, mengobrak-abriknya, mencari rekaman yang tidak pernah ada."
Sari menatapnya lama. "Dan kita awasi rumah itu dari jauh."
"Kang Endang lagi. Atau orangnya. Cuma duduk, lihat, catat. Tidak ada risiko untuk kita."
Reksa mengetik pesan ke sumber dalam itu dengan hati-hati, menjaga nadanya agar terdengar seperti seseorang yang mulai percaya tapi masih berhati-hati, melepas remah informasi yang cukup menggoda untuk diteruskan kalau memang ia pengkhianat.
"Mobil hitam itu betul. Kamu di dalam, aku percaya itu sekarang. Aku akan beri kamu sesuatu sebagai imbalan kepercayaan. Kami menemukan jejak rekaman Dimas. Dia menitipkannya sebelum mati. Kami hampir dapat. Kalau benar di tempat yang kami duga, semuanya berakhir. Doakan kami."
Ia tidak menyebut alamat. Belum. Itu trik yang ia pelajari sendiri: beri umpan setengah dulu, lihat apakah lawan menggigit, baru beri kail penuh. Balasan datang.
"Bagus. Itu kabar besar. Kalau kalian butuh aku awasi reaksi di kantor, beri tahu detailnya, biar aku bisa bantu lindungi langkah kalian. Aku bisa lihat siapa yang gelisah."
Reksa membaca pesan itu, dan sesuatu di tengkuknya menegang. Sumber itu meminta detail. Lokasi. Alasan masuk akal, terlalu masuk akal. Persis kata-kata yang akan diucapkan seorang kawan tulus, dan persis kata-kata yang akan diucapkan seorang pemancing.
"Dia minta alamatnya," kata Reksa pada Sari, menunjukkan layar.
Sari membaca, lalu mengembuskan napas panjang. "Itu bisa berarti dua hal."
"Selalu dua hal," gumam Reksa. Itulah hidupnya sekarang, hidup di antara dua kemungkinan, tidak pernah mewah memilih satu. Ia mengetik alamat palsu itu, rumah kosong di Jalan Bandeng nomor sekian, tempat ia tahu tidak ada apa-apa selain debu dan tikus. Jarinya berhenti di atas tombol kirim.
"Kalau ini umpan dan kita salah," kata Sari pelan, "kita tidak kehilangan apa pun selain rasa percaya. Tapi kalau kita tidak menguji dan terlanjur percaya pada orang yang salah..."
Reksa menekan kirim. Pesan terbang ke dalam gelap, ke seseorang yang entah kawan entah pisau. Sekarang yang bisa mereka lakukan hanya menunggu, dan mengawasi sebuah rumah kosong, untuk melihat apakah seekor serigala datang mengendus jejak palsu. Dalam dua hari, ia akan tahu siapa yang sebenarnya bicara dengannya. Dalam dua hari, ia akan tahu apakah ia menemukan kawan, atau memberi makan musuh.