Pesan itu masuk lewat ponsel prabayar yang baru tiga hari Reksa pakai. Nomor yang ia beli di kios pinggir jalan, didaftarkan dengan KTP entah siapa, kartu yang seharusnya tidak diketahui siapa pun selain Sari dan Pram. Maka ketika layar menyala dengan pesan dari nomor asing, jantung Reksa langsung berdegup keras.
"Saya tahu apa yang kamu cari. Saya juga muak. Saya orang dalam Polsek Garumi Timur. Kalau kamu mau dengar, balas pesan ini. Kalau tidak, hapus dan lupakan saya pernah ada."
Reksa menatap layar lama-lama. Tangannya tidak bergerak. Di seberang ruangan, Sari yang baru pulang membeli makan, mematung saat melihat ekspresinya.
"Apa?" tanya Sari.
Reksa membalik ponsel, menunjukkan pesan itu. Wajah Sari mengeras. Ia membaca dua kali, lalu meletakkan bungkus nasi di meja tanpa membukanya.
"Bagaimana dia tahu nomor ini?" suara Sari rendah, tajam. "Tidak ada yang tahu nomor ini."
Itulah pertanyaan yang sama yang menggerogoti Reksa. Nomor ini bersih. Baru. Tidak terhubung ke apa pun. Hanya ada dua kemungkinan, dan keduanya buruk. Pertama, sumber ini benar-benar punya akses sedemikian dalam ke sistem sampai bisa melacak kartu baru yang ia beli tunai, yang berarti sumber ini sangat berbahaya dan sangat berguna. Kedua, ini umpan. Jaring Bhakim melempar kail baru, mengundangnya keluar dari persembunyian, persis seperti dulu, persis seperti yang membuatnya tidak pernah lagi sepenuhnya percaya pada siapa pun.
"Bisa jadi Bhakim," kata Reksa. "Mengulang taktik lama. Tawarkan kawan baru, pancing aku bergerak, lalu jebak."
"Atau bisa jadi nyata," kata Sari, duduk perlahan. "Kamu pikir kamu satu-satunya yang muak di kantor itu? Selama dua belas tahun aku lihat orang-orang baik patah pelan-pelan. Sebagian menyerah dan ikut busuk. Tapi sebagian cuma diam, menunggu, takut. Mungkin salah satu dari mereka akhirnya berani."
Reksa tidak menjawab langsung. Ia teringat dirinya sendiri di hari-hari pertama, berdiri di lorong ber-AC dingin lantai dua, merasa sendirian di antara seragam-seragam yang sama. Mungkin Sari benar. Mungkin di balik wajah-wajah datar di Polsek itu, ada orang lain yang setiap pagi bertanya pada cermin kenapa ia membiarkan dirinya jadi bagian dari ini.
Tapi mungkin saja tidak.
"Kita tidak boleh menolak begitu saja," kata Reksa akhirnya. "Kalau dia nyata, dia mata dan telinga kita di dalam. Sesuatu yang tidak kita punya sejak kabur. Tapi kita juga tidak boleh percaya. Jadi kita lakukan keduanya. Kita dengarkan. Tapi kita anggap dia musuh sampai dia membuktikan sebaliknya."
Ia mengetik balasan, hati-hati, tidak memberikan apa pun.
"Kamu mau apa? Bukti kamu siapa, baru kita bicara."
Balasan datang cepat, terlalu cepat untuk orang yang ragu.
"Saya tidak akan kirim nama. Konyol. Tapi saya bisa kirim sesuatu yang membuktikan saya di dalam. Besok pagi jam delapan, Bhakim akan menerima kunjungan dari seorang tamu yang tidak masuk buku tamu. Mobil hitam, plat luar kota, akan masuk lewat gerbang belakang. Kalau itu terjadi seperti yang saya bilang, kamu tahu saya bicara dari dalam. Saya tidak minta apa-apa dulu. Cuma minta kamu lihat."
Reksa menatap pesan itu. Sebuah klaim yang bisa diverifikasi, tapi tidak berbahaya bila salah. Cerdas. Terlalu cerdas, atau memang tulus.
"Kita tidak bisa ke kantor untuk mengeceknya," kata Sari, membaca pikirannya. "Kita buron. Kita muncul di sekitar Polsek, kita tamat."
Reksa berpikir. Lalu ia teringat sesuatu. "Kita tidak perlu ke kantor. Kita cuma perlu mata di jalan menuju gerbang belakang. Ada warung kopi di seberang, di sudut jalan. Sopir angkot mangkal di situ. Aku tahu satu orang yang berutang budi pada Pak Wira dulu. Aku bisa minta dia cuma duduk, minum kopi, dan mencatat mobil yang lewat. Dia tidak akan tahu untuk apa."
Sari menatapnya, dan di matanya ada campuran kekaguman dan kekhawatiran. "Kamu sudah belajar berpikir seperti mereka."
Reksa terdiam. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Sari maksudkan. Sejak hari pertama, ia bersumpah tidak akan menjadi seperti mereka. Tapi untuk bertahan hidup melawan jaring ini, ia harus belajar bermain di tanah mereka, dengan aturan mereka, dengan kecurigaan yang sama. Setiap hari ia merasa garis itu menipis sedikit.
"Bukan seperti mereka," kata Reksa pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Sari. "Seperti orang yang harus bertahan dari mereka. Itu beda. Harus beda."
Esok paginya, ia akan tahu apakah suara dari dalam itu kawan atau kail. Malam itu, ia tidur dengan ponsel prabayar di dada, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ada secercah harapan yang bercampur dengan rasa takut, dua hal yang di Garumi nyaris selalu datang bersama.