Kamar kos persembunyian kedua mereka lebih sempit dari yang pertama, sebuah petak di lantai tiga rumah toko tua di pinggir kota, dengan satu jendela yang menghadap atap-atap seng dan tiang-tiang antena yang berkarat. Reksa duduk bersila di lantai, laptop pinjaman dari kontak Pram menyala di pangkuannya, layar memantul di matanya yang merah karena kurang tidur. Di sampingnya, Sari menempelkan kertas-kertas printout ke dinding dengan selotip, satu per satu, membangun sebuah peta yang hanya bisa dibaca oleh mereka berdua.
"Yayasan Tangan Kasih Garumi," kata Sari, mengetuk salah satu lembar. "Berdiri lima tahun lalu. Akta notaris atas nama tiga orang. Ketiganya pegawai rendahan yang bahkan mungkin tidak tahu mereka tercatat. Tapi ikuti uangnya, dan ujungnya selalu satu tempat."
Reksa menggulir layar. Angka-angka mengalir di depan matanya, dan seperti biasa, angka tidak bisa berbohong selicin manusia. Ia anak pedagang; ia tumbuh besar di antara buku kas dan kuitansi, melihat ayahnya menghitung untung tipis sampai larut. Membaca aliran uang baginya seperti membaca peta jalan. Setiap rupiah meninggalkan jejak, dan jejak itu kini terbentang di hadapannya.
"Lihat polanya," kata Reksa pelan. "CV Bahari Jaya menyumbang ke yayasan setiap awal bulan. Selalu angka bulat. Lima puluh juta. Tujuh puluh lima juta. Kadang seratus. Sumbangan amal yang terlalu rapi. Tidak ada amal yang serapi ini, Sari. Orang yang benar-benar menyumbang, jumlahnya berantakan."
Sari menyilangkan tangan. "Lalu uang itu keluar lagi."
"Sebagian betul jadi sembako. Itu bagian cerdasnya. Mereka benar-benar membeli beras, minyak, gula. Difoto, masuk koran. Komisaris Bhakim tersenyum, membagikan kantong-kantong sembako ke ibu-ibu di kelurahan." Reksa menunjuk satu kolom. "Tapi yang dibeli sepuluh juta, yang dilaporkan tujuh puluh. Selisihnya keluar sebagai biaya operasional, honor panitia, transportasi. Mengalir ke rekening-rekening pribadi. Salah satunya, kalau kita telusuri lewat tiga lapis, atas nama Ny. Laksmi."
"Istri Bhakim," kata Sari, suaranya datar. Ia sudah tahu nama itu, tapi mendengarnya disebut tetap membuat udara di ruangan terasa lebih berat.
Reksa mengangguk. Ia menatap dinding yang penuh kertas itu, peta sebuah kebohongan yang dibangun di atas wajah kebaikan. Ada sesuatu yang lebih membuatnya muak dari sekadar pencurian. Bhakim tidak hanya mencuri uang darah dari peredaran narkoba di Pasar Lama. Ia mencucinya lewat ibu-ibu yang berterima kasih sambil menggendong anak, lewat foto-foto senyum, lewat reputasi dermawan yang ditulis koran lokal dengan tinta pujian. Setiap kantong beras adalah alibi. Setiap kamera yang membidik adalah tameng.
"Kita butuh dokumen aslinya," kata Reksa. "Printout dari sistem ini bisa dibantah pengacara. Mereka akan bilang ini olahan, manipulasi, fitnah orang buron. Tapi kalau kita punya laporan keuangan yayasan yang asli, bukti transfer dari Bahari Jaya, kuitansi pembelian sembako yang dimark-up, itu rantai. Itu tidak bisa dipatahkan."
Sari menyalakan rokok, membuka jendela sedikit. Asap mengalir keluar ke udara malam Garumi yang lembap. "Dokumen seperti itu ada di dua tempat. Di kantor yayasan, yang isinya cuma meja kosong dan sekretaris paruh waktu. Atau di pembukuan asli CV Bahari Jaya. Dan Bahari Jaya itu kantornya di kompleks pergudangan pelabuhan. Tempat yang sama yang nyaris membunuh kita."
Reksa menyandarkan punggung ke dinding. Ia memejamkan mata sebentar. Sejak fajar di gudang pelabuhan itu, sejak mereka lolos di antara peti kemas dengan luka dan napas tersengal, ia belajar satu hal: setiap langkah maju di kasus ini selalu menyeret mereka kembali ke pelabuhan, ke jantung jaring itu. Seolah seluruh kota berputar mengelilingi gudang karatan tempat semuanya bermula dan, mungkin, tempat semuanya akan berakhir.
"Kita tidak menyerbu," kata Reksa. "Kita pernah coba pendekatan langsung, dan hampir mati. Kita masuk lewat orang. Selalu ada orang di pembukuan. Akuntan. Staf administrasi. Seseorang yang menandatangani, mengetik, menyimpan file. Seseorang yang tahu di mana mayat keuangan itu dikubur."
Sari menatapnya lewat asap rokok. "Seperti Dimas."
Nama itu menggantung di udara, dan Reksa merasakan dingin yang akrab merayap di tengkuknya. Dimas, lelaki kurus bermata cekung yang menjanjikan rekaman, yang mati sebelum sempat menyerahkannya. Setiap kali mereka mendekati seorang saksi rapuh, bayangan Dimas datang menemani.
"Seperti Dimas," Reksa mengakui pelan. "Tapi kali ini kita tidak akan ceroboh. Tidak ada loker stasiun. Tidak ada jadwal yang bocor. Tidak ada siapa pun di luar kita berdua yang tahu."
Ia menutup laptop. Layar padam, dan untuk sesaat ruangan itu hanya diterangi cahaya jingga lampu jalan yang menyusup lewat jendela, jatuh di kertas-kertas di dinding, di peta sebuah kebohongan yang sebentar lagi akan mereka cabut, lembar demi lembar. Di luar, jauh di tengah kota, sebuah sirene melolong, lalu memudar ditelan malam. Reksa membuka matanya. Ia sudah lama berhenti bertanya untuk siapa sirene itu berbunyi. Di Garumi, ia tahu sekarang, sirene tidak selalu datang menolong.