Video dari warung kopi itu sampai ke tangan Reksa tiga hari kemudian, lewat rantai perantara yang berbelit sengaja, dan ia menontonnya berulang-ulang di kos sampai larut, sampai matanya perih, sampai setiap detik gambar buram itu terhafal di kepalanya.
Kualitasnya buruk. Gelap, jauh, kasar. Tapi cukup. Sebuah mobil berhenti di depan ruko menjelang subuh. Seorang lelaki turun membawa tas, masuk. Beberapa menit kemudian, mobil lain. Seseorang keluar dari ruko membawa tas yang sama, naik mobil kedua, pergi. Pertukaran. Persis seperti yang Dimas ceritakan dulu di warung tuli. Persis seperti yang terekam di perekam Dimas. Pola yang masih hidup, masih berdetak, akhir bulan demi akhir bulan, di bawah hidung sebuah kota.
Tapi bukan pertukaran itu yang membuat Reksa membeku di depan layar laptop loak itu pada tengah malam.
Ada satu frame. Satu detik. Saat lelaki yang membawa tas keluar dari ruko, ia berhenti sejenak di bawah lampu teras ruko yang menyala. Dan dalam satu detik itu, cahaya jatuh di wajahnya. Reksa menghentikan video. Memperbesar. Wajah itu buram, pecah jadi kotak-kotak digital. Tapi posturnya. Cara berdirinya. Cara ia menoleh memeriksa jalan sebelum melangkah.
Reksa mengenalnya.
Bukan dari kantor. Bukan dari surat pencarian. Tapi dari satu malam, berbulan-bulan lalu, di balik tumpukan peti kemas di pelabuhan, saat ia mengintai dan melihat Toni berbicara dengan seorang lelaki yang membelakangi cahaya, wajah yang tak pernah ia lihat, postur yang terasa familier tapi tak bisa ia tempatkan. Lelaki tak terlihat wajahnya yang menghantui ingatannya sejak saat itu.
Ini dia. Wajah di balik cahaya. Bukan Bhakim.
"Sari," panggil Reksa, suaranya tertahan. "Bangun. Lihat ini."
Sari merangkak ke samping laptop, mata setengah terpejam, lalu terbelalak penuh saat melihat frame yang dibekukan itu. Ia menatap lama. Lalu wajahnya berubah pucat, jenis pucat yang Reksa belajar berarti pengenalan, dan ketakutan.
"Kamu kenal dia," kata Reksa. Bukan pertanyaan.
Sari mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Itu bukan orang Toni. Dan bukan kaki tangan biasa Bhakim." Ia menelan ludah. "Itu perantara. Aku pernah lihat dia sekali, bertahun-tahun lalu, waktu Lendra masih hidup. Dia datang ke kantor sekali, ngobrol sebentar sama Bhakim di lantai dua, lalu pergi. Lendra yang menunjukkan dia padaku waktu itu. Lendra bilang, 'Lihat orang itu, Sari. Dia nggak punya jabatan di sini, nggak punya seragam, tapi waktu dia datang, Bhakim yang berdiri menyambut.' Lendra bilang dia perantara. Orang yang menghubungkan Bhakim ke sesuatu yang lebih tinggi."
Reksa merasakan dingin merayap di tengkuknya. Potongan-potongan itu menyusun diri dengan mengerikan. Suara ketiga di rekaman Dimas, suara halus yang membuat Bhakim dan Toni merendah. Lelaki membelakangi cahaya di pelabuhan. Dan kini, wajah perantara yang sama, membawa tas uang keluar dari ruko transit, yang Lendra sendiri sudah curigai bertahun-tahun lalu, tepat sebelum mobilnya ditemukan di sungai.
"Bhakim bukan puncaknya," kata Reksa pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Sari. "Selama ini kita kira Bhakim otaknya. Tapi dia cuma tangan. Tangan yang besar, tangan yang kotor, tapi tetap tangan. Ada yang di atasnya. Lewat orang ini."
"Dan Lendra tahu," kata Sari, suaranya pecah. "Lendra sudah sampai sejauh ini tiga tahun lalu. Dia sudah lihat perantara ini. Mungkin itu sebabnya dia dibunuh. Bukan karena dia mengusik Bhakim. Tapi karena dia mulai mengusik sesuatu yang jauh lebih tinggi dari Bhakim."
Mereka duduk diam dalam cahaya laptop yang membeku pada wajah buram itu. Di luar, hujan mulai turun lagi, gerimis tipis yang sama yang selalu menyertai Garumi, mengetuk seng atap kos. Dan jauh di kota, sirene melolong, mendekat, lalu menjauh, lalu hilang.
Reksa menatap wajah di balik cahaya itu lama-lama, mengukirnya ke dalam ingatan. Ia tidak tahu nama lelaki itu. Belum. Ia tidak tahu seberapa tinggi jaring ini naik, ke meja siapa di Polda, ke kantor siapa di balik gedung-gedung berpendingin udara di pusat kota. Tapi ia tahu satu hal sekarang dengan kepastian yang dingin: ini tidak akan berakhir dengan menjatuhkan satu komisaris.
Bhakim, yang selama ini ia kira raksasa, ternyata hanya bayangan dari raksasa yang lebih besar, yang berdiri di balik cahaya, yang wajahnya bahkan Sari hampir tak ingat, yang namanya belum berani disebut siapa pun.
"Kita harus tahu siapa dia," kata Reksa akhirnya.
Sari menatapnya, dan dalam matanya ada ketakutan yang lebih tua dari semua ketakutan yang pernah Reksa lihat di sana. "Reksa," katanya pelan. "Hati-hati apa yang kamu cari. Karena Lendra mencari ini. Dan sungai itu masih mengalir di tempat yang sama."
Di luar, gerimis berubah jadi hujan. Dan untuk pertama kalinya, Reksa merasa bahwa apa yang ia kejar bukan lagi sekadar sebuah kasus, melainkan sebuah jurang, dan ia baru saja melihat ke dasarnya.